Kamis, 19 Mei 2011

Delapan Prinsif Hidup Menuju Kebahagiaan Dunia Akhirat


Delapan Prinsif Hidup
Menuju Kebahagiaan Dunia Akhirat

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berdo’a kepada Allah agar kita diberi kebahagian hidup dunia dan akhirat. Namun perlu disadari bahwa untuk memperoleh kebahagiaan hidup dunia akhirat tersebut ada delapan prinsif hidup yang harus dimiliki dan diterapkan oleh setiap pribadi muslim dalam kehidupannya. Delapan prinsip hidup yang dimaksud adalah :
  1. Tujuan Hidup. Setiap muslim hendaknya mengetahui tujuan hidupnya, tujuan hidup muslim tidak lain adalah “ لابتغاء مرضات الله “ ( Berupaya untuk mendapatkan keridhaan Allah ). Keridhaan Allah perlu didapatkan, sebab apabila seseorang sudah mendapat keridhaan Allah bisa saja Allah memberikan kemudahan baginya dalam kehidupan ini. Bahkan tidak tertutup kemungkinan pada saat menghadapi sakarotul maut nanti dia tersenyum menghadapi kematiannya, sebab boleh jadi  Allah akan menunjukkan syurga kepadanya sebagai  tempatnya diakhirat kelak. Allah pun memanggilnya dengan panggilan kasih sayang, sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat Al-Fajr ayat 27-30: “يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ  ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي   “ Artinya: “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. “.
  2. Fungsi Hidup. Allah menciptakan manusia di bumi ini berfungsi sebagai KhalifahNya. Khalifah yang dimaksud di sini adalah bahwa manusialah yang diembankan Allah tugas untuk menjalankan risalah agamaNya di muka bumi. Untuk itu, agar kehidupan manusia dapat tertata dengan baik, maka Allah menurunkan syari’atnya melalui Rasul-Rasul yang diutus untuk menyampaikan risalahnya. Disisi lain, khalifah dalam makna yang lebih luas adalah pemimpin, baik pemimpin secara formal maupun non formal. Pimpinan secara formal dalam wadah bernegara sepert: Prisidan, Gubernur, Walikota/Bupati dan seterusnya kebawah sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Namun perlu disadari bahwa pada hakikatnya kita semua adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap diri sendiri. Bagaimana caranya? Pimpinlah mata agar tidak melihat hal-hal yang haram. Pimpinlah telinga agar mampu mendengar hal-hal yang baik, seperti mendengar ayat-ayat Allah dan nasehat-nasehat yang mengarahkan kehidupan kepada nilai-nilai positif dalam kehidupan. Pimpinlah tangan agar tidak mengambil hak orang lain. Pimpinlah perut supaya di isi dengan hal-hal yang halal. Pimpinlah kaki agar tidak melangkah ke tempat-tempat yang maksiat. Seseorang apabila sudah terbiasa memimpin diri sendiri, suatu saat apabila diberi amanat kepemimpinan yang lebih besar, tentu amanat itu akan mudah dia laksanakan, sebab sudah terbiasa memimpin diri sendiri. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 30: “وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً “. Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
  3. Tugas Hidup. Secara mendasar tugas manusia di bumi ini adalah untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini hendaknya mempunyai nilai-nilai ibadah di sisi Allah. Oleh sebab itu, kehidupan ini harus di isi dengan aktivitas yang positif dan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Sebab, manusia harus menyadari bahwa hidup ini mempunyai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek adalah menjalani kehidupan di dunia ini dan berusaha mengisinya dengan upaya mencapai kebahagiaan di dalamnya dengan tetap menjaga dan mengamalkan tatanan kehidupan yang sesuai dengan syari’at Allah. Adapun tujuan jangka panjang adalah menuju kehidupan akhirat dengan mempersiapkan bekal dengan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah SWT. Firman Allah dalam surat Az-Zariyat ayat 56:  “ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالانسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ “. Artinya: “ Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu“.
  4. Pedoman Hidup. Ummat islam memiliki Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kandungannya memberi tuntunan kepada manusia tentang bagaimana seharusnya manusia menjalankan kehidupan di dunia ini. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, artinya: “Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya, kamu tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul “. Karena itu, ummat islam harus benar-benar menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasullullah sebagai pedoman. Sebab Rasulullah memberikan jaminan keselamatan bagi orang-orang yang senantiasa mengamalkannya. Untuk mengamalkan isi kandungannya kita harus mampu untuk memahaminya, dan untuk sampai kepada tingkat memahaminya tentu kita harus belajar dengan baik dan benar.
  5. Teman Hidup. Dalam menjalankan kehidupan di dunia ini manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk sosial, artinya manusia selalu memerlukan orang lain dalam kehidupannya, karena itu seseorang harus dapat bersosialisasi dengan baik dengan orang yang ada di sekitarnya. Untuk itu, dalam hidup kita perlu ada orang-orang yang dapat dijadikan teman untuk sama-sama berjuang dan saling membantu. Allah menyatakan bahwa sesama ummat islam itu besaudara. Firman Allah dalam surat Al-Hujurot ayat 10: “إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”. Di sisi lain Allah juga memerintahkan agar kita saling tolong menolong dalam hal kebaikan untuk mencapai takwa, dan tidak boleh saling bekerjasama untuk berbuat dosa yang bisa menyebabkan saling bermusuhan antar sesama. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2: “وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “. Artinya :” Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran “.
  6. Musuh Hidup. Manusia juga perlu menyadari bahwa dalam kehidupan ini kita tidak terlepas dari adanya musuh dalam kehidupan. Musuh manusia yang terbesar adalah hawa nafsu, kemudian syaitan, dan berikutnya adalah orang-orang kafir yang berupaya menghalangi kita dalam menjalankan dan menegakkan agama islam, apa lagi menarik kita untuk keluar dari agama islam. Menyangkut mengenai hawa nafsu Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 53 : “إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ “. Artinya: “ ..... Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku “. Dalam hal syaitan sebagai musuh dalam kehidupan kita, Allah juga mengingatkan kita, sebagaimana firman Allah yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh ayat 208 : “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ “. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. Kemudian Allah mengingatkan kita tentang sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kita ummat islam. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 120 : “ وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ “. Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka “.
  7. Teladan Hidup. Nabi Muhammad adalah manusia paripurna yang pantas untuk  dijadikan teladan dalam kehidupan ini, sebab catatan sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad telah meletakkan sendi-sendi kehidupan yang mulia untuk dapat dijadikan teladan oleh manusia, khususnya ummat islam. Dalam tulisan sebelumnya penulis ada mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad itu pantas untuk menerima ungkapan: “Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan. Senyum simpulnya penuh dengan persahabatan. Uluran tangannya adalah nilai-nilai sodaqoh. Langkah kakinya semangat jihad. Untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasehat. Diamnya pun merupakan zikir dan fikir “.  Inilah sosok manusia yang rindu orang untuk bertemu dengannya, tapi malas orang berpisah pada saat sudah berjumpa dengannya. Dalam hal ini Penulis ingin mengatakan, jangankan bertemu kepada orangnya secara langsung, berada dekat kuburnya saja pun orang malas untuk beranjak meninggalkan kuburnya. Hal yang demikian dapat penulis saksikan pada saat jama’ah haji berziarah ke kuburnya di Madinah Al-Munawwaroh. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21 : “لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً “. Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “.
  8. Istiqoma. Istiqomah maksudnya ialah, teguh pendirian, kuat keyakinan dalam meyakini islam sebagai agama. Ungkapan yang selalu disampaikan dalam mempertahankan keyakinan ini adalah “ Sekali mengucapkan dua kalimah syahadah, sampai mati keyakinan itu tetap dipertahankan “. Allah berfirman dalam surat Hamiim As-Sajadah ayat 30-32. “إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾  “. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Semoga dengan menerapkan delapan prinsif hidup ini, kita akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rabu, 18 Mei 2011

KISAH ASHABUL UKHDUD


KISAH ASHABUL UKHDUD
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
وَالسَّمَاء ذَاتِ الْبُرُوجِ ﴿١﴾ وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ ﴿٢﴾ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ ﴿٣﴾ قُتِلَ أَصْحَابُ الاخْدُودِ ﴿٤﴾ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ﴿٥﴾ إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ ﴿٦﴾ وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ ﴿٧﴾ وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ﴿٨﴾ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالارْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿٩﴾ إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ ﴿١٠﴾ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الانْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ ﴿١١﴾ إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿١٢﴾ إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ ﴿١٣﴾ وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ ﴿١٤﴾ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ ﴿١٥﴾ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ ﴿١٦﴾
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
001. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,
002. dan hari yang dijanjikan,
003. dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.
004. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit.
005. yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,
006. ketika mereka duduk di sekitarnya,
007. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang orang yang beriman.
008. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu'min itu melainkan karena orang-orang mu'min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,
009. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.
010. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu'min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.
011. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.
012. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.
013. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).
014. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
015. yang mempunyai 'Arsy lagi Maha Mulia,
016. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. ( Q.S. Al-Buruuj 1-16 ).

Al-Kisah:

Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Umurku sudah semakin tua, keadaanku sudah semakin lemah. Aku merasa ajalku sudah semakin dekat, karena itu tuan bawakanlah kepadaku seorang pemuda agar aku ajarkan kepadanya ilmu sihir.

Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, antara rumah ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat tinggal seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, pada suatu hari pemuda itu singgah di tempat pendeta tersebut untuk mendengarkan pengajiannya, ia tertarik dengan pelajaran agama yang diajarkan oleh pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.

Maka pendeta mengajarkan kepada pemuda itu, jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakanlah, aku ditahan oleh ahli sihir.

Maka setelah berjalan beberapa lama, pada suatu hari ketika ia akan pergi, tiba-tiba mendadak di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang tidak berani lewat di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku ingin mengetahui yang mana yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendeta itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lewat di tempat ini". Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Orang ramai bergembira karena dapat melewati jalan itu.
 
Maka pemuda tadi langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib/pendeta, maka Rahib itu berkata kepadanya : " Suatu saat nanti kamu akan diuji, maka jika kamu mendapat ujian itu, jangan kamu menyebut namaku. Kemudian pemuda itu diberi Allah beberapa kelebihan, diantaranya dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit sopak dan penyakit-penyakit lainnya.
 
Ada seorang pembesar dalam lingkungan kerajaan yang matanya telah buta karena sakit, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang kamu suka".
 
Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang, yang dapat memberi kesembuhan itu hanyalah Allah SWT. jika tuan mau beriman kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan tuan ".
 
Maka langsung dia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda itu, dan atas izin Allah seketika itu juga ia sembuh dan dapat melihat kembali.

Kemudian ia kembali dan dapat bekerja di lingkungan kerajaan sebagaimana biasa, dan raja merasa heran tentang kesembuhan matanya, rajapun bertanya: " Siapa yang menyembuhkan matamu"

Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)".
Raja bertanya: "Aku?".
Jawabnya "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah".
Ditanya oleh Raja "Apakah kamu mempunyai Tuhan selain Aku?"
Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu adalah Allah".
Maka ia-pun disiksa oleh raja dengan seberat-beratnya, sehingga terpaksa ia memberitahu raja tentang pemuda yang mendoakannya sehingga dia menjadi sembuh.
 
Maka pemuda itu-pun segera dipanggil, dan raja berkata kepadanya "Hai anak muda, sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyembuhkan orang buta dan berbagai macam penyakit".
 
Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, yang dapat menyembuhkan itu hanya Allah semata.
 
Raja itu pun bertanya "Adakah aku yang kamu maksud?",
 
"Tidak" jawab permuda itu. maka raja bertanya kembali.
 
"Apakah kamu punya tuhan selain aku?"
 
Jawab pemuda "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah".
 
Maka pemuda itu ditangkap dan disiksa seberat-beratnya sehingga terpaksa dia menunjukkan Rahib yang mengajarnya. Maka Rahib pun dipanggil dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mau berpindah agama, maka sang Rahib digergaji mulai dari kepalanya sampai kebawah, sehingga badannya terbelah dua. 
Kemudian pemuda tadi diperintahkan untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja. Maka raja memerintahkan agar pemuda itu dibawa ke puncak gunung dan di sana ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak, dia akan dilemparkan dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya untuk merubah agamanya, dia tetap menolak. Kemudian pemuda itu berdoa: ”Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka dengan sehendak-Mu)". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, setelah itu pemuda itu kembali menemui raja, dan raja bertanya kepanya:

"Manakah orang-orang yang membawamu?".
 
Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka".
 
Lalu pemuda itu diperintahkan raja untuk dibawa ke laut, setelah sampai di tengah laut ditanyakan kepadanya apakah ia mau mengubah agamanya, jika tidak maka ia akan dilemparkan ke dalam laut. Pada saat sudah berada di tengah laut, pemuda itu berdo’a: ”Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka dengan sehendak-Mu)". Maka tenggelamlah semua orang yang membawanya. Kemudian, pemuda itu kembali menemui raja.
 
Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?"
 
Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".
 
Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau tidak akan dapat membunuhku kecuali jika engkau menuruti perintahku, maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku".
 
Raja bertanya: "Apakah perintahmu?"
 
Jawab pemuda: "Tuan kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu tuan gantung aku di atas tiang, lalu tuan panah aku dengan panahku ini dengan membaca Bismillahi Rabbil Ghulaam (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini). Hanya dengan cara itu tuan dapat membunuhku".

Maka semua usulan pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan ia-pun mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)".

Sesudah itu ada orang yang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini.

Maka raja memerintahkan supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana akan ditanya tentang agamanya, jika ia tetap setia pada pihak kerajaan dia akan dibiarkan hidup, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah, maka dia akan dimasukkan  ke dalam parit yang berisi api itu.

Maka terdapatlah barisan panjang orang-orang yang masuk kedalam parit tersebut, sehingga tiba giliran seorang wanita yang menggendong bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir berganti agama karena sangat kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang hak.
(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa'i)

Kisah ini sangat penting untuk dijadikan teladan terutama bagi pemuda-pemudi Islam, kerana kisah ini menyangkut tentang seorang pemuda yang berani kerana Allah s.w.t, sehingga untuk mempertahankan ‘aqidah nyawapun ia petaruhkan. Ilmu yang benar akan membawa kita kepada Allah s.w.t, dan ini lah yang di ajarkan oleh pendeta (ahli Ibadat), sedangkan ilmu yang diajarkan oleh ahli sihir istana adalah bathil semata-mata. Tawaqqal dan berserah dirinya pemuda itu kepada Allah s.w.t menyebabkan seluruh rakyat dikerajaan itu mendapat hidayah dan beriman kepada Allah s.w.t.
Subhanallah..................! Bagaimana dengan iman kita....................?
Semoga kisah ini dapat menjadi i’tibar dalam kehidupan kita.

Selasa, 17 Mei 2011

Pesan Untuk Jama’ah Calon Haji

Pesan Untuk Jama’ah Calon Haji
Setiap jama’ah yang menunaikan ibadah haji tentu menginginkan ibadah haji yang dilaksanakan mendapatkan haji yang mabrur atau haji yang diterima di sisi Allah SWT. Untuk mendapatkan haji yang mabrur tersebut tentu sangat berat dan harus menjaga kesempurnaan ibadah haji tersebut, baik dari syarat, rukun dan wajib haji, semua itu tentunya harus dilandasi pula dengan niat ikhlas karena Allah semata. Karena itu, setiap jama’ah seharusnya menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan dalam melaksanakan ibadah haji, baik kesalahan dalam memahami ibadah haji tersebut maupun kesalahan dalam pelaksanaannya.  
Dalam kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa catatan tentang kesalahan-kesalahan jama’ah haji dalam melaksanakan ibadahnya. Hal ini penulis rangkum dari kitab yang diterbitkan oleh Badan Penerangan Haji yang disahkan oleh Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa dan oleh Ulama besar Timur Tengah yaitu, Syeikh Muhammad Saleh Al-Utsaimin.
Kesalahan-kesalahan yang dimaksud antara lain adalah:
Pertama: Beberapa Kesalahan Dalam Ihram.
Melewati Miqot yang dilaluinya tanpa berihram atau berniat dari Miqot tersebut sehingga sampai ke Makkah, kemudian ia melakukan ihram di sana. Hal ini bertentangan dengan perintah Rasulullah SAW. yang mewajibkan setiap jama’ah haji harus melakukan ihram dari Miqot yang dilaluinya. Maka bagi yang melanggar ketentuan tersebut bila memungkinkan wajib kembali ke Miqot yang sudah dilaluinya dan berihram dari sana. Jika tidak memungkinkan, ia wajib membayar kifarat, yaitu menyembelih seekor kambing di Makkah, kemudian dagingnya dibagi-bagikan semuanya kepada fakir miskin. Ketentuan ini berlaku bagi jama’ah yang datang melalui udara, darat maupun laut. Jika kedatangannya tidak melalui Miqot yang sudah ditentukan oleh Rasulullah, maka ia harus berihram dari tempat yang sejajar dengan Miqot pertama yang dilaluinya.  
Kedua: Beberapa Kesalahan Dalam Pelaksanaan Thawaf.
  1. Memulai thawaf tidak dari sudut Hajar Aswad, padahal ketentuan dalam pelaksanaan thawaf haruslah dimulai dari sudut Hajar Aswad.
  2. Thawaf di dalam Hijir Ismail. Thawaf seperti itu berarti ia tidak mengelilingi seluruh Ka’bah, tetapi hanya sebagiannya saja, karena Hijir Ismail termasuk bahagian dari Ka’bah. Oleh sebab itu putaran thawaf yang dilaksanakannya di dalam Hijir Ismail tersebut tidak sah.
  3. Melakukan Ramal ( berlari-lari kecil ) pada seluruh putaran thawaf yang tujuh kali, padahal Ramal itu hanya dilakukan khusus pada thawaf Qudum saja. Bagi jama’ah yang melaksanakan haji Tamattu’ tentu tidak ada thawaf Qudum.
  4. Berdesak-desakan untuk dapat mencium Hajar Aswad, bahkan terkadang sampai saling sikut, saling pukul  dan saling caci. Hal itu tidak dibenarkan, bahkan kalau sudah terjadi saling sikut, saling pukul dan saling caci, itu berarti jama’ah haji sudah melakukan pelanggaran yang dilarang dalam pelaksanaan ibadah haji yaitu jidal. Penulis ingin menegaskan kepada jama’ah calon haji, bahwa mencium Hajar Aswad hukumnya adalah sunnat. Karena itu, jangan dikarenakan ingin mendapatkan pahala yang sunnat, justru perbuatan yang haram dan dosa yang didapatkan.
  5. Mengusap-usap Hajar Aswad dan dinding-dinding Ka’bah  dengan maksud untuk mendapatkan berokah dari batu dan dinding Ka’bah tersebut. Kalaupun ada kesempatan untuk mencium Hajar Aswad tujuannya tidak lain adalah dengan niat ibadah kepada Allah swt.
  6. Memandang wajib membaca do’a-do’a khusus untuk setiap putaran dalam thawaf, hal itu tidak pernah dilakukan Rasulullah, apalagi membaca do’a tersebut dengan mengeluarkan suara yang keras dan dapat mengganggu ketenangan orang lain dalam melakukan thawaf. Adapun yang dilakukan Rasul adalah setiap melewati Hajar Aswad adalah bertakbir, dan diantara rukun Yamani dan Hajar Aswad Rasulullah membaca do’a: " رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ". Artinya: “ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka“. 
  7. Memaksakan diri untuk melaksanakan shalat di dekat Maqom Ibrahim, hal ini dapat mengganggu orang lain dalam melaksanakan thawaf. Padahal shalat sunnat dua rakaat setelah selesai thawaf apabila tidak memungkinkan dilakukan di dekat Maqom Ibrahim, bisa saja dilaksanakan di tempat lain di sekitarnya atau di dalam Masjidil Haram.
Ketiga: Beberapa Kesalahan Dalam Pelaksanaan Sa’i.
  1. Ada sebagian jama’ah haji ketika naik ke bukit Shafa dan Marwah, mereka menghadap ke Ka’bah sambil mengangkat tangan ke arahnya sewaktu membaca takbir, seolah-olah mereka bertakbir untuk shalat. Yang diajarkan Rasul adalah mengangkat kedua tangan seperti ketika berdo’a.
  2. Berjalan cepat pada waktu sa’i antara Shafa dan Marwah pada seluruh perjalanan sa’i. Padahal menurut sunnah Rasulullah berjalan cepat itu hanyalah dilakukan antara dua tanda hijau saja, adapun sisanya hanya berjalan biasa saja.
Keempat: Beberapa Kesalahan di Arafah.
  1. Sebagian jama’ah haji ada yang berhenti atau melaksanakan wuquf di luar batas Arafah, dan mereka tetap berada di tempat tersebut hingga terbenam matahari. Kemudian mereka berangkat ke Muzdalifah tanpa wukuf di Arafah. Hal ini adalah kesalahan besar, yang mengakibatkan ibadah haji mereka tidak sah, karena sesungguhnya puncak ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah, orang yang tidak wukuf di Arafah tentu hajinya tidak sah.  
  2. Berdesak-desakan untuk naik ke Jabal Rahmah yang banyak menimbulkan mudarat. Padahal disudut manapun selagi masih berada di lingkungan batas Arafah adalah tempat berwukuf.
  3. Ada sebagian jama’ah haji ketika berdo’a menghadap ke Jabal Rahmah, hal tersebut tidak sesuai dengan sunnah, sebab yang di sunnahkan dalam berdo’a adalah menghadap kiblat.
Kelima: Beberapa Kesalahan di Muzdalifah.
  1. Sebagian jama’ah haji ada yang memahami bahwa untuk melempar jumrah, batu yang digunakan harus diambil di Muzdalifah. Padahal tidak demikian, batu kerikil yang digunakan untuk melempar jumrah tidak musti diambil di Muzdalifah, tetapi boleh juga mengambil batu di Mina. 
  2. Sebagian jama’ah ada pula yang memahami bahwa batu tersebut harus di cuci dengan air, hal itu sebenarnya tidak di syari’atkan.
Keenam: Beberapa Kesalahan Ketika Melontar Jumrah.
  1. Ketika melontar jumrah bila ada jama’ah yang meyakini bahwa dia sedang melempar syaitan, itu adalah suatu kesalahan. Melempar jumrah itu hanya semata-mata melaksanakan satu diantara rangkaian ibadah haji yang niatnya adalah semata-mata ibadah kepada Allah.
  2. Ada jama’ah melontar jumrah dengan sendal, hal itu juga merupakan kesalahan. Yang diwajibkan melontar jumrah adalah dengan batu, dan disunnatkan pula dengan batu yang kecil.
  3. Merupakan kesalahan juga ketika melontar jumrah dengan berdesak-desakan, apalagi saling sikut dan saling menginjak. Yang disyari’atkan adalah agar melontar dengan tenang dan hati-hati, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti orang lain.
  4. Ada jama’ah yang melontar jumrah dengan melontarkan batu sekaligus, yang disyari’atkan adalah dengan melemparkan batu-batu dengan satu persatu sambil bertakbir setiap lontaran.
  5. Merupakan kesalahan pula apabila ada jama’ah haji dia wakilkan melontar jumrah kepada orang lain karena dirinya tidak mau mengalami kesulitan dalam melontar tersebut, padahal sebenarnya dia mampu dan tidak sakit juga tidak ada halangan apa-apa.
Ketujuh: Beberapa Kesalahan dalam thawaf wada’.
  1. Sebagian jama’ah ada yang meninggalkan Mina untuk menuju Makkah pada hari nafar ( tanggal 12 atau 13 Dzulhijjah ) sebelum melontar jumrah pada tanggal tersebut, sesampainya di Makkah mereka laksanakan thawaf wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melontar jumrah. Setelah selesai melontar, mereka langsung pergi atau pulang menuju negeri masing-masing, dengan demikian akhir perjumpaan mereka adalah dengan jumrah bukan dengan Baitullah, padahal Nabi telah bersabda, Artinya:”Janganlah sekali-sekali seseorang meninggalkan Makkkah sebelum mengakhiri perjumpaannya dengan melakukan thawaf di Baitullah”. Maka dari itu thawaf wada’ wajib dilakukan setelah selesai dari semua rangkaian ibadah haji, dan dilakukan beberapa saat akan meninggalkan Makkah. Setelah thawaf wada’ ia tidak lagi menetap di Makkah kecuali untuk sedikit keperluan.
  2. Sebagian jama’ah pada saat selesai melakukan thawaf wada’ ada yang berjalan mundur sambil menghadapkan wajah ke Ka’bah. Mereka beranggapan bahwa hal itu merupakan penghormatan terhadap Ka’bah. Perbuatan itu adalah kesalahan dan bukan yang diperintahkan Rasul.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menambah bekal bagi jama’ah calon haji, dan semoga ibadah haji yang akan dilaksanakan terhindar dari kesalahan-kesalahan. Semoga mendapatkan Haji yang mabrur.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ