Kamis, 26 Mei 2011

Hidayah Allah Kepada Manusia


Hidayah Allah Kepada Manusia
Firman Allah dalam Surat Al-Fatihah ayat 6 :
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
“ Tunjukilah kami jalan yang lurus ”

Ahmad Musthafa Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya yang dikenal dengan tafsir Al-Maraghi menjelaskan, ada beberapa macam hidayah/petunjuk yang diberikan Allah kepada manusia.
Pertama: Hidayah Ilhamiyah ( Naluri atau pembawaan dasar manusia dari sejak lahir). Hidayah ilhamiyah ini terbagi dua:
  1. Hidayah Jasmaniyah. Bahwa manusia selalu merasakan sesuatu dalam tubuhnya, seperti merasakan lapar, haus, sakit dan sebagainya. Kalau seseorang dipukul oleh orang lain dan dia merasakan sakit, maka rasa sakit itu-pun sesungguhnya merupakan hidayah dari Allah. Tetapi manakala seseorang tidak lagi merasakan sesuatu dari sentuhan yang terjadi pada dirinya, berarti itu merupakan pertanda bahwa hidayah jasmaniyah sudah mulai hilang dari kehidupan seseorang.
  2. Hidayah Rohaniyah. Secara rohani seseorang juga merasakan suatu perasaan dalam hidupnya, misalnya: Kalau ada seseorang melakukan suatu perbuatan yang menyimpang dari peraturan yang berlaku ditengah masyarakat, baik peraturan adat yang ada dalam masyarakat, terlebih lagi peraturan agama, dia merasa malu dengan pelanggaran yang telah ia lakukan, itu berarti dalam hidupnya masih ada hidayah rohaniyah. Namun apabila ada seseorang yang melakukan perbuatan yang menyimpang dalam hidupnya, dia tidak merasakan malu sama sekali, berarti orang yang seperti ini sudah hilang hidayah rohaniyah dari kehidupannya.
Kedua: Hidayah Hawasiyah: ( Hidayah panca indra ). Mata yang dapat melihat keindahan panorama alam yang ada. Telinga yang dapat menangkap gelombang-gelombang suara yang ada disekitarnya. Hidung yang mempu merasakan aroma dari sesuatu yang ada didekatnya. Lidah yang mampu berbicara dan merasakan lezatnya citarasa dari makanan, itu semua merupakan hidayah yang diberikan Allah kepada manusia.
Ketiga: Hidayah Dhamirul Qolbi ( kata hati ). Manusia dalam melakukan sesuatu selalu di dorong oleh kata hatinya. Oleh sebab itu, dorongan kata hati yang menjelma kepada perbuatan manusia, sangat menentukan akan nilai dari perbuatan seseorang, apakah perbuatannya baik atau buruk. Karenanya, hati perlu di rawat agar selalu mendorong kita kepada perbuatan yang bernilai positif. Disinilah maksud dari sabda Rasul, “ Ketahuilah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging, apabila dia baik kamu akan termotipasi untuk melakukan kebaikan, namun apabila dia tidak baik, kamu akan terangsang melakukan perbuatan yang tidak baik. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”.
Keempat: Hidayah ‘Aqliyah ( hidayah akal ). Manusia dikaruniakan Allah akal yang mampu untuk berpikir. Dengan akal pula manusia dapat menentukan hal yang baik dan yang buruk. Oleh sebab itu, akal juga merupakan hal penentu dalam kehidupan manusia dalam melakukan kabaikan maupun keburukan. Namun perlu disadari bahwa kemampuan akal dalam menentukan baik dan buruk sangat terbatas sekali, karenanya perlu hidayah yang lain dalam kehidupan manusia yaitu hidayah agama.
Kelima: Hidayah Diniyah ( Hidayah agama ). Di atas telah dikemukakan bahwa kemampuan akal manusia untuk menentukan baik dan buruk sangat terbatas sekali, karena keterbatasan manusia dalam hal tersebut maka Allah berkenan memberikan hidayah yang lain, yaitu hidayah agama. Agama yang dimaksud disini adalah agama yang diturunkan Allah, yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul yang menjadi utusan Allah. Sebab itu, sesuatu yang menjadi ketetapan agama harus diyakini mutlak kebenarannya. Seorang mukmin wajib mengimani dan mengamalkannya.
Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan seperti demikian: Manusia diciptakan Allah memiliki pembawaan dasar untuk dapat merasakan sesuatu dalam dirinya, baik secara jasmani maupun rohani. Kemudian Allah memberikan perangkat yang lain kepada manusia untuk penopang kehidupannya, yaitu panca indra. Tugas panca indra adalah untuk mengopservasi yang ada dilingkungan hidupnya. Setelah itu, sesuatu yang dilihat dan dirasakan oleh manusia dalam kehidupannya secara reflek dilaporkan kepada hati, kemudian hati mendorong manusia untuk melakukan sesuatu, namun keinginan yang datang dari hati, belum tentu bisa dijamin kebenaran dan kebaikannya, karena itu perlu Badan Pertimbangan untuk memutuskannya, apakah dorongan yang timbul dari hati tadi boleh dilaksanakan atau tidak. Badan pertimbangan itu adalah akal. Rupanya keputusan yang diambil oleh Badan Pertimbangan akal-pun selalu mengalami kebuntuan bahkan kesalahan, untuk itu dibutuhkan pula badan pertimbangan yang lebih tinggi dan mutlak kebenarannya, yaitu syari’at Islam yang diturunkan Allah SWT. Sebab sesuatu yang sudah menjadi ketetapan Allah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sikap seorang mukmin harus “sami’na - wa atha’na” ( kami dengar dan kami patuhi ).
Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh, 147 :
“الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ”.
Artinya : “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu “.
Apabila manusia menyadari tentang beragam hidayah yang diberikan Allah kepadanya, dan dia mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya, maka manusia yang seperti inilah yang akan menempuh jalan yang sesuai dengan kehendak Allah. Apabila jalan kehidupan yang ditempuh sudah sesuai dengan kehendak Allah, insya Allah, keridhaan Allah-pun akan di dapatkan.
Semoga kita termasuk diantara orang-orang yang diridhai Allah .....…………………!
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 25 Mei 2011

Tiga Kunci Sukses Nabi Yusuf Dalam Menghadapi Godaan

Tiga Kunci Sukses Nabi Yusuf
Dalam Menghadapi Godaan

Kisah Nabi Yusuf sangat popular dikalangan masyarakat islam, dicelah-celah kisah yang ada dalam kehidupan Nabi Yusuf a, bahwa beliau digoda untuk berbuat mesum/zina oleh seorang wanita. Wanita itu adalah Zulaikha, dia wanita yang sangat jelita, juga merupakan istri pembesar Negara di Mesir pada masa itu, sedangkan Yusuf adalah anak angkat dari Zulaikha dan suaminya.
Nabi Yusuf adalah pemuda yang sangat tampan, setiap wanita yang melihatnya tidak ada yang tidak terpesona dengan ketampanannya, termasuk Zulaikha sebagai ibu angkatnya sangat tergila-gila dengan ketampanan Yusuf. Di sisi lain, sebenarnya secara manusiawi Yusuf pun suka kepada Zulaikha, hanya bedanya Yusuf mampu mengendalikan diri dikarenakan keimanannya kepada Allah. Hal ini diketahui melalui firman Allah dalam Al-Qur’an :
“وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ “.
Artinya: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih “.( Q. S. Yusuf: 24).
Nabi Yusuf Selamat Dari Godaan.
Rasa cinta Zulaikha kepada Yusuf memang tidak mampu lagi dia bendung, suatu hari Zulakha berupaya untuk mengajak Yusuf berbuat mesum/zina, pintu-pintu rumah dia kunci, setelah itu dia mulai menggoda dan mengajak Yusuf melakukan perbuatan zina. Hal ini tertuang dalam firman Allah dalam Al-Qur’an seprti dibawah ini:
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
Artinya: “ Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah kesini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung “.(Q.S. Yusuf: 23).
Dari farman Allah di atas dapat diketahui bahwa ada tiga faktor yang menjadikan Nabi Yusuf selamat dari rayuan Zulaikha. Tiga faktor yang dimaksud adalah:
  1. Nabi Yusuf menyadari bahwa perbuatan zina adalah perbuatan yang dimurkai Allah, dan Yusuf takut akan murka Allah dari akibat melakukan perbuatan tersebut, maka dia katakan kepada Zulaikha “ مَعَاذَ اللّهِ “ (Aku berlindung kepada Allah).
  2. Nabi Yusuf sadar bahwa dia adalah seorang budak yang dimuliakan oleh majikannya, bahkan dijadikan sebagai anak angkat. Oleh sebab itu, Yusuf menyadari bahwa sangat tidak berbudi apabila majikannya yang sedemikian baik kepadanya akan dia khianati. Dalam hal ini Nabi Yusuf mengatakan “ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ “ (sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik “.
  3. Nabi Yusuf menyadari pula bahwa melakukan zina adalah perbuatan zalim yang tidak akan membawa keberuntungan. Hal ini terungkap lewat pernyataan Yusuf melalui firman Allah di atas, yaitu “ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ “ (Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung).
Dari uraian di atas dapat di simpulkan antara lain:
  1. Hawa nafsu yang tidak terkendali akan menggiring manusia kepada perbuatan yang tercela dan dapat menjadikan seseorang lupa akan status dirinya.
  2. Berlindung kepada Allah dari godaan yang dihadapi adalah senjata yang ampuh untuk terhindar dari segala macam godaan.
  3. Berkhianat kepada seseorang adalah perbuatan tercela, terlebih kepada orang yang sudah berbuat baik kepada kita.
  4. Melakukan zina adalah perbuatan zalim yang akan menjadikan pelakunya mendapat kemurkaan Allah, dan orang yang dimurkai Allah tidak akan mendapat keberuntungan, terutama diakhirat kelak.
Saudaraku........................................!
Mari kita jadikan kisah Nabi Yusuf ini sebagai I’tibar dalam kehidupan kita. Semoga kita mampu mengendalikan diri dari segala bentuk cobaan dan godaan.

Senin, 23 Mei 2011

Jahiliyah Menurut Al-Qur’an

Jahiliyah Menurut Al-Qur’an
Diungkapkan dalam catatan sejarah bahwa masyarakat yang dihadapi Nabi Muhammad dalam dakwahnya adalah masyarakat jahiliyah. Namun disayangkan, banyak yang memahami jahiliayah tersebut hanya sebatas pengertian secarah harfiyah semata, sehingga yang selalu tergambar dari kehidupan masyarakat yang ada di masa Nabi Muhammad adalah masyarakat yang tertinggal, terbelakang, bodoh, kampungan dan sebutan lain yang menggambarkan sesuatu yang serba tidak baik. Padahal apabila kita telusuri kehidupan mereka pada masa itu tidaklah seperti apa yang digambarkan.
Sebenarnya dari beberapa sisi kehidupan bangsa arab khususnya Makkah dan Madinah saat itu, mereka sudah memiliki peradaban dan pengetahuan yang tidak kalah dengan masyarakat yang ada di sekitarnya. Misalnya, dalam dunia bisnis mereka mampu bersaing dengan pebisnis dari daerah lain, bahkan mereka mampu membaca pangsa pasar, sehingga mereka tahu persis komoditi apa yang harus mereka bawa ke daerah tujuan mereka berdagang. Mereka juga mampu menyesuaikan kondisi pada saat musim dingin dan musim panas kemana mereka harus membawa dagangannya.
Di sisi lain, sebelum masyarakat dunia mengenal sisitem penyerbukan dalam pertanian, masyarakat Madinah pada saat itu sudah mengenal sistem penyerbukan tersebut. Maka tidak mengherankan kalau hasil panen kurma mereka selalu meningkat dibandingkan petani kurma dari daerah lain. Kalau demikian, sebutan jahiliyah terhadap masyarakat yang dihadapi Rasulullah pada saat itu tidak bisa hanya diartikan dari sudut harfiyah semata, namun harus dipandang dari sudut yang lain. Dalam hal ini tentunya kita harus kembali kepada konsep Al-Qur’an tentang apa yang dimaksud tentang jahiliyah itu.
Apabila ditelusuri ayat-ayat Al-Qur’an tentang jahiliyah, ada empat pengertian jahiliyah yang menjadi sorotan Allah SWT. dan keempat hal itu adalah merupakan sikap mental yang selalu menjadi prilaku hidup masyarakat yang dihadapi Rasulullah pada saat itu. Empat hal tersebut adalah:
  1. Zhonnul Jahiliyyah: Maksudnya adalah, bahwa orang-orang jahiliyah mempunyai sangkaan atau keyakinan yang salah terhadap Allah, sebab itu kejahiliyahan mereka dalam hal ini adalah menyangkut masalah keimanan kepada Allah dan RasulNya. Oleh sebab itu,  syari’at islam yang dibawa Nabi Muhammad  bertujuan untuk meluruskan keyakinan mereka kepada Allah agar tidak menyekutukan Allah dan beribadah hanya kepada Allah semata. Allah berfirman dalam surat Ali-Imron, 154: “ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاساً يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ “. Artinya: “Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati“. ( Ayat ini diturunkan Allah berkenaan dengan peristiwa perang uhud dimana ummat islam pada saat itu mengalami kekalahan. Dalam menyikapi kekalahan tersebut terjadi dua kelompok dikalangan ummat islam. Satu kelompok adalah mereka-mereka yang kuat imannya, satu kelompok lagi adalah mereka-mereka yang lemah imannya. Mereka yang masih lemah imannya mempunyai pikiran, kalau Muhammad itu benar adalah Rasul Allah, mengapa dia bisa kalah dalam peperangan ini). Pemikiran yang seperti itu adalah pemikiran yang salah, dan Allah menyindir mereka, bahwa mereka masih mempunyai pemikiran yang sama seperti orang-orang jahiliyah, dan pemikiran orang-orang jahiliyah selalu salah dalam memandang Allah sebagai tuhan.
  2. Hukmul Jahiliyyah: Orang-orang jahiliyah selalu tidak tepat dan tidak adil dalam menerapkan hukum. Hal ini menjadi sorotan Allah terhadap pola hidup mereka dalam bermasyarakat. Sebab, apabila hukum tidak dapat dilaksanakan dengan benar, maka kehidupan ummat itu pasti akan porak poranda. Firman Allah  dalam surat Al-Maidah, 50:“ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْماً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ “. Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?“.
  3. Hamiyyatul Jahiliyyah. Orang-orang jahiliyah mempunyai sikap sombong dalam kehidupan mereka, dan salah satu penyebab sikap mereka seperti itu adalah akibat kekotoran hati dan jiwa mereka. Karena itu islam datang untuk membersihkan hati manusia dari segala kotoran-kotoran yang dapat mempengaruhi pola hidup manusia itu, terutama kesombongan yang mengakibatkan manusia tidak mau percaya kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Al-Fath, 26: “إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً “. Artinya: “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “.
  4. Tabarrujal Jahiliyyah. Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari orang-orang jahiliyah terutama kaum wanitanya selalu menunjukkan sikap hidup yang tidak baik, mereka tidak menjaga kehormatan dan kemuliaan diri mereka sebagai wanita, dengan itu Allah mengingatkan kepada wanita-wanita muslimah agar jangan berprilaku seperti wanita-wanita di zaman jahiliyah. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab, 33:“وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الاولَى وَأَقِمْنَ الصَّلوةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً “. Artinya: “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya“.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pengertian jahiliayah tidak bisa dipahami secara harfiah semata, namun harus dilihat dari sudut pandang Al-Qur’an, dimana dapat disimpulkan bahwa jahiliyah itu sesungguhnya adalah merupakan sikap mental yang mewarnai kehidupan seseorang. Oleh sebab itu kita di ingatkan oleh Allah agar tidak lagi memiliki gaya kehidupan seperti orang-orang jahiliyah. Namun yang perlu disadari adalah bahwa pola kehidupan jahiliyah itu pasti masih akan tetap merayap ditengah-tengah kehidupan ummat sepanjang sikap mental ummat masih belum bersih dari kemusyrikan, kemunafikan, kekufuran dan segala sifat-sifat yang tidak terpuji.

Semoga kita terhindar dari prilaku jahiliyah tersebut...............................!
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Minggu, 22 Mei 2011

Sepuluh Cara Hidup Untuk Mendapat Kemuliaan


Sepuluh Cara Hidup Untuk Mendapat Kemuliaan
Semua orang tentu ingin mendapatkan kemuliaan dalam hidupnya. Hanya, manusia selalu berbeda dalam upaya untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Sekurang-kurangnya ada sepuluh cara yang harus diterapkan oleh setiap pribadi muslim untuk mendapatkan kemuliaan dalam hidupnya. Sepuluh cara yang dimaksud adalah:
  1. Bertakwalah kepada Allah dan ikuti ajaran Rasulullah. Firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 102 : “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. “.
  2. Sayangi dan berbaktilah kepada orang tua. Firman Allah dalam surat Al-Isro’ ayat 23: “وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً “. Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia “.
  3. Hilangkan sifat mengolok-olok, mencela, buruk sangka, iri hati, dengki dan takabbur, sebab sikap yang demikian adalah sikap yang mengindikasikan bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak baik. Firman Allah dalam surat Al-Hujurot ayat 11-12  : “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالالْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الايمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ “. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang “.
  4. Jangan terlalu berharap kepada sesama makhluk, sebab tiada kekuasaan mutlak ditangannya,  tetapi gantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah, sebab kekuasaan Allah tiada batasnya. Firman Allah dalam surat Al-Mulk ayat 1 : “تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “. Artinya: “ Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu “.
  5. Perbanyak rasa syukur kepada Allah, karena orang yang bersyukur rezkinya akan ditambah oleh Allah. Sebaliknya orang yang tidak bersyukur diancam Allah dengan azab yang pedih. Firman Allah dalam surat Ibrohim ayat 7 : “وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “. Artinya: “ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
  6. Hormati orang yang ada disekitarmu dan jalin serta bina ukhuwah dengan baik, sebab sesama mukmin itu adalah bersaudara. Firman Allah dalam surat Al-Hujurot ayat 10 : “إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “. Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.
  7. Timbulkan sopan santun dalam setiap gerak langkah kehidupan dan jangan menyombongkan diri. Firman Allah dalam surat Luqman ayat 18 : “وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الارْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ “. Artinya: “ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
  8. Perbanyaklah melakukan perbuatan baik dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan tersebut. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 148 : “وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “. Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “.
  9. Jangan banyak berkeluh kesah dan berkhayal, sebab dengan berkeluh kesah dan berkhayal akan menghilangkan semangat dan gairah dalam kehidupan.
  10. Berusahalah menimbulkan keyakinan yang utuh bahwa kebahagian dunia sifatnya hanyalah semu dan kebahagiaan akhirat adalah kekal dan abadi. Firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 185 : “وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ “. Artinya: “ Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan “. Firman Allah dalam surat Ad-Dhuha ayat  : “وَلَلاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الاولَى “. Artinya : “ dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan “. ( Kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia ).
Semoga kita dapat menerapkan sepuluh cara di atas dalam kehidupan kita, dengan demikian insya Allah hidup kita mendapat kemuliaan.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ