Jumat, 03 Juni 2011

Harga Segelas Air

Harga Segelas Air
Banyak diantara kita yang tidak menghargai air. Kita seringkali tidak menggunakannya secara baik. Padahal berwuduk di Samudera yang luas sekalipun tidak boleh melibihi dari kader yang ditetapkan. Memang, bagi kita di Indonesia , air bagaikan tanpa harga. Tetapi di Timur Tengah harganya cukup mahal, dan tidak jarang melebihi harga bensin.
Tahukah Anda berapa nilai segelas air disisi Harun Al-Rasyid, penguasa Dinasti Abbasiyah (766-809 M), yang pada masanya di nilai masa keemasan Islam?. Atau disisi Umar bin Khattab ra ?. Atau bahkan disisi Allah?. Dibalik kisah berikut ini terkandung pelajaran yang sangat berharga dalam kaitannya dengan penggunaan air.
Suatu ketika, Harun Al-Rasyid duduk gelisah, entah apa sebabnya. Dia memerintahkan salah seorang pembantunya untuk mengundang Abu As Sammak, seorang ulama terhormat pada masanya. “ Nasihatilah aku, wahai Abu As Sammak,” kata A-Rasyid.
Pada saat itu seorang pelayan membawa segelas air untuk Al-Rasyid, dan ketika dia bersiap untuk meminumnya, Abu As Sammak berkata: “ Tunggu sebentar wahai Amirul Mukminin. Demi Tuhan, aku berharap agar pertanyaanku dijawab dengan jujur. Seandainya Anda haus, tapi segelas air ini tak dapat anda minum, berapa harga yang bersedia Anda bayar demi melepaskan dahaga?”. Setengah dari yang kumiliki, ujar Al-Rasyid dan kemudian ia pun meminumnya.
Beberapa saat kemudian Abu As Sammak bertanya lagi, “ Seandainya apa yang Anda minum tadi tidak dapat keluar, sehingga mengganggu kesehatan Anda, berapakah Anda bersedia membayar untuk kesembuhan Anda?”, Setengah dari yang kumiliki, jawab Al-Rasyid dengan tegas.
“ Ketahuilah bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaan yang nilainya hanya seharga segelas air tidak wajar diperebutkan atau dipertahankan tanpa hak,” kata Abu As Sammak.
Khalifah yang kekuasaannya meliputi beberapa Negara yang amat luas dan kekayaannya tidak ternilai itu mengangguk membenarkan.
Lain kisah Umar bin khattab ra. Hurmuzan, seorang tokoh Persia yang sedang ditawan dan kemudian dijatuhi hubungan mati memohon kepada Umar r.a, “Berilah aku segelas air sebelum hukuman dijatuhkan kepadaku”.
Umar setuju, dan sebelum terpidana tersebut minum, ia memandang Umar dengan bertanya, “Apakah aku memperoleh keamanan sampai air ini habis aku minum?”.
Umar mengiayaka, tetapi dengan serta merta Hurmuzan menumpahkan isi gelas itu, dan dengan senyum penuh arti dia berkata, “ Tepatilah janjimu wahai Umar! Berilah aku keamanan.”
Hadirin yang menyaksikan tersentak, namun Umar berkata, “Lepaskan dia, kita harus setia kepada janji, apapun akibatnya”. Segelas air yang merupakan sumber kehidupan, bahkan kehidupan itu sendiri, tiada artinya jika menyalahi kesetiaan kepada janji. Inilah harga segelas air bagi Umar r.a.
Ada seorang yang bergelimang dosa melihat seekor anjing kehausan, Ia sodorkan segelas air kepada binatang itu, Sabda Nabi yang menguraikan peristiwa ini: “ Allah mengampuni dosa-dosanya, dan memasukkannya ke dalam surga karena segelas air itu.” Inilah harga tertinggi bagi segelas air.
Banyak tuntunan agama menyangkut air. Di dalam Al-Qur’an saja kata “air” terulang sebanyak 63 kali. Salah satu yang amat sarat dengan makna adalah firman Allah dalam surat Hud ayat 7:
“ ……. وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً “.
Artinya: “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah `Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya  “.
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
Sumber:
Lentera Hati, M. Quraish Shihab.

Kamis, 02 Juni 2011

HATI YANG BAIK DAN YANG BURUK

HATI YANG BAIK DAN YANG BURUK
Nabi Muhammad SAW. menginformasikan kepada kita bahwa di dalam tubuh kita ada segumpal daging. Apabila dia baik maka seseorang akan termotipasi melakukan nilai-nilai kebaikan, tetapi apabila dia tidak baik maka seseorang akan terangsang melakukan hal-hal yang tidak baik. Segumpal daging yang dimaksud Rasul itu adalah hati. Bila demikian, perbuatan yang dilakukan seseorang adalah merupakan cermin dari dari apa yang ada dalam hatinya.

Dari ungkapan Nabi Muhammad tersebut dapat dipahami bahwa hati manusia itu ada yang baik dan ada yang buruk.

Pertama: “Hati yang Baik”.
Yaitu hati yang mudah tersentuh untuk menerima ajaran-ajaran yang baik dan benar. Hati orang-orang yang demikian biasanya penuh dengan kelembutan, gampang tersentuh melihat penderitaan orang lain, suka menolong, punya sikap penyantun, penuh kasih sayang kepada siapapun, gemar melakukan ibadah kepada Allah, dan tidak suka dengan kekerasan. Hati yang seperti ini merupakan hati orang yang beriman kepada Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 2-4:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni`mat) yang mulia “.
Kedua: “ Hati yang Buruk”.
Hati yang buruk ini memiliki lima tingkatan yaitu:
  1. Hati yang berpenyakit. Orang yang hatinya berpenyakit biasanya selalu memiliki sikap iri, benci, pendendam, pembohong, munafik, berbuat kasar, pemarah dan lain sebagainya. Berkenaan dengan hati yang berpenyakit ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 2: “ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ “. Artinya : “ Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta “.
  2. Hati yang Keras. Hati seseorang bisa menjadi keras akibat dari hati yang tadinya sakit tapi tidak diobati. Orang yang hatinya keras, apabila melakukan kejahatan dia tidak merasa bahwa kejahatan yang dia lakukan itu merupakan suatu kejahatan, yang dia lakukan menurut pandangannya semuanya benar, itu adalah akibat hatinya tidak lagi memiliki kepekaan. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 43. “فَلَوْلا إِذْ جَاءهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَـكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ “. Artinya: “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan “.
  3. Hati yang Membatu. Hati yang keras apabila tidak segera disadari akan meningkat keburukannya menjadi hati yang membatu atau semakin mengeras dari sebelumnya. Firman Allah dalam surat Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 74: “ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ “. Artinya: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan “.
  4. Hati yang Tertutup. Hati yang sudah tertutup tidak akan dapat lagi menerima getaran petunjuk yang disampaikan kepadanya. Bentuk nasehat dan pengajaran apa-pun yang disampaikan kepadanya hanya dianggap angin lalu. Semua itu adalah akibat kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam kehidupannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Muthoffifin ayat 14: “كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ “. Artinya: “ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka “.
  5. Hati yang Terkunci. Jika hati sudah tertutup, maka untuk tingkat selanjutnya hati itu akan terkunci mati. Terhadap orang yang seperti ini, tidak ada bedanya, dia diberi peringatan atau tidak, tetap tidak mau menerimanya. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 6-7: “إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ  خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ “. Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat “.
Mari kita jaga hati agar “ tidak berpenyakit”, “tidak menjadi keras”, “tidak membatu”, “tidak tertutup” dan “ tidak terkunci ”.
Semoga Allah membuka hati kita untuk dapat menerima ajaran yang baik dan benar dalam kehidupan kita, sehingga hati kita mempunyai getaran yang baik untuk selalu mendorong kita melakukan kebaikan dalam kehidupan ini.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 01 Juni 2011

Empat Tahap Menuju Jenjang Muttaqin


Empat Tahap Menuju Jenjang Muttaqin
Islam memandang bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta kekayaan yang ia miliki, tidak pada pangkat dan jabatan yang ia emban, dan bukan pula pada status social yang ia sandang. Tetapi kemuliaan seseorang dalam pandangan Allah terletak pada nilai-nilai ketaqwaan yang ia lakukan.
Orang-orang yang dinilai Allah sebagai muttaqin akan dimasukkanNya kedalam Syurga. Hal ini berdasar kepada firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada Surat Ali Imran ayat 133 :
“وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “.
Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“.
Perlu disadari bahwa untuk sampai kepada jenjang muttaqin, seseorang harus terlebih dahulu melalui empat tahap, dalam hal ini penulis singkat dengan 4M.
Pertama: Muslim. Seseorang harus menjadi muslim yang baik, rumusan dan ungkapan yang paling sederhana untuk menjadi muslim yang baik adalah seperti yang pernah dinyatakan Nabi Muhammad dalam sabdanya, artinya: “ Muslim yang baik adalah, selamat orang lain dengan lidah dan tangannya”. Lidah dan tangan adalah merupakan perwakilan dari seluruh komponen anggota badan seseorang. Oleh sebab itu, seorang muslim dilarang mengganggu kehidupan orang lain, membuat keonaran dan kekacauan, membuat orang yang ada disekitarnya menjadi resah dan gelisah dan mengganggu ketentraman orang lain. Intinya adalah, kehadiran seorang muslim bisa menjadi kesejukan dan kedamaian  dalam masyarakatnya.
Kedua: Mukmin. Seseorang harus menjadi mukmin yang baik. Upaya yang harus dilakukan untuk menjadi seorang mukmin yang baik adalah dengan membenahi aqidah yang kokoh dengan berpegang teguh kepada konsep islam tentang hal-hal yang wajib di-imani. Seseorang harus benar-benar beriman kepada Allah, kepada rasul-rasulNya, kepada kiab-kitabNya, kepada malaikat-malaikatNya, kepada ketentuan buruk dan baik, dan beriman kepada hari kiamat. Apabila iman seseorang sudah kokoh, tentu imannya pula yang akan mendorongnya untuk beribadah kepada Allah, dan ibadah yang dilaksanakan akan menghantarkan orang tersebut untuk sampai kepada jenjang muttaqin.
Ketiga: Muhsin. Seseorang harus menjadi seorang yang disebut muhsin. Muhsin maksudnya senantiasa melakukan kebaikan dalam hidupnya, terutama melaksanakan ibadah secara langsung kepada Allah. Dalam hal ini Rasul pernah ditanya oleh malaikat jibril tentang apa yang dimaksud dengan ihsan. Rasul menjawab yang maksudnya: “ Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-oleh engkau melihatNya, andai pada kenyataannya engkau tidak melihat Allah, maka yakinkanlah dirimu bahwa engkau dilihat Allah”. Itu artinya, bahwa seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah. Tingkat kesadaran yang seperti ini akan mangantarkan seseorang kepada sikap hidup untuk selalu berhati-hati dalam kehidupannya. Setiap kali dia akan melakukan sesuatu, tentu dia terlebih dahulu berpikir apakah perbuatan yang akan dilakukan, sesuai dengan syariat Allah atau tidak. Daya control seperti ini yang akan menyelamatkan seseorang dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, dan dengan sikap hidup seperti itu pula yang akan menjadikan seseorang menjadi orang yang muttaqin.
Keempat: Mukhlis. Mukhlis maksudnya adalah orang-orang yang ikhlas dalam menjalankan ibadah. Perlu disadari bahwa segala ibadah dan nilai-nilai kebaikan yang dilaksanakan harus didasari dengan keikhlasan kepada Allah. Sebab Allah tidak akan menerima ibadah orang-orang yang tidak ikhlas. Allah SWT berirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 :
“ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ  “
Artinya: “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus “.
Kelima: Muttaqin. Apabila seseorang sudah menjadi “ muslim “ yang baik”, menjadi “mukmin” yang baik, menjadi seorang yang “ muhsin “ dan “ mukhlis”, tentu dia akan naik kepada jenjang yang ke lima, yaitu menjadi seorang yang “ muttaqin “. Terhadap rang-orang yang “ muttaqin “ dijanjikan Allah untuk masuk kedalam syurganya. Gambaran umum tentang keberadaan orang-orang yang “ muttaqin “ di dalam syurga tersebut, seperti yang difirmankan Allah dalam surat An-Naba’ ayat 31 - 36 :
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازاً حَدَائِقَ وَأَعْنَاباً  وَكَوَاعِبَ أَتْرَاباً  وَكَأْساً دِهَاقاً لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً وَلا كِذَّاباً  جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً
Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.
Mari kita berupaya secara maksimal untuk menjadikan diri kita sebagai muslim yang baik, menjadi mukmin yang baik, menjadi seorang yang muhsin dan mukhlis agar kita mencapai kederajat muttaqin. Semoga Allah menempatkan kita dalam kelompok orang-orang yang muttaqin.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ