Minggu, 12 Juni 2011

Uang Bukanlah Segala-galanya


Uang Bukanlah Segala-galanya
( Hal Yang Tidak Dapat Dibeli Dengan Uang )

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia butuh akan uang, sebab dengan uang seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Uang bisa membuat sebagian orang melakukan banyak hal dalam hidupnya, namun bukan berarti uang adalah segala-galanya, sebab banyak juga orang yang banyak uangnya tetapi banyak pula kendala dalam hidupnya yang tidak mampu diselesaikan dengan uang yang dia miliki. Perlu disadari bahwa kendatipun dengan uang seseorang bias mendapatkan apa yang dia inginkan, namun ada beberapa hal yang tidak bisa  dia beli dengan uang, diantaranya adalah:
  1. Waktu. Uang tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24jam yang telah berlalu tidak akan mungkin dapat dikembalikan lagi walaupun dia beli dengan milyaran rupiah. Karena itu kita diingatkan agar jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada, sebab begitu waktu berlalu, kita tidak akan mampu untuk mengembalikannya. Karena itu, Rasul mengingatkan kepada kita agar pandai-pandai memanfaatkan waktu, seperti sabdanya dalam sebuah hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Baihaqi, artinya: “ Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain, yaitu:Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu senggangmu sebelum waktu sibuk, waktu mudamu sebelum tua, waktu kaya sebelum miskin “.
  2. Kebahagiaan. Rasa bahagia tidak hanya bisa dirasakan oleh orang yang mempunyai uang yang banyak, tetapi kebahagiaan itu dapat juga dirasakan oleh yang tidak banyak uang. Sebab, bahagia itu bisa datang ke dalam hati siapa-pun. Andaikan bahagia itu bisa dibeli dengan uang, dapat dipastikan dirumah-rumah orang kaya tentu tidak akan terjadi kesedihan, tetapi pada kenyataannya, banyak juga dikalangan orang-orang yang mempunyai banyak uang, justru banyak pula diantara mereka yang tidak merasakan kebahagiaan. Di sisi lain banyak juga kita perhatikan, orang-orang yang tinggal digubuk yang sangat sederhana, justru mereka merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya. Bahkan, ada ungkapan seorang istri, saya menyesal jadi orang kaya. Sebab, menurut penuturannya, setelah ekonomi keluarga mereka meningkat, keharmonisan yang selama ini dirasakan bersama suaminya, semua itu sirna. Itu pertanda bahwa kekayaan tidak merupakan jaminan hidup akan bahagia. Dan itu pula yang membuktikan bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang.
  3. Cinta. Memang dengan uang kita bisa membuat orang lain tertarik pada kita, tapi tidak demikian halnya dengan cinta, sebab, cinta tidak bisa dibeli dengan uang, karena cinta itu datang dari lubuk hati yang paling dalam, yang intinya bermuara pada saling menghargai, saling memberikan perhatian, berbagi pengalaman dan berkomitmen untuk berkembang secara bersama-sama. Oleh sebab itu, benar kata orang, cinta tidak bisa dipaksakan. Itu sebabnya banyak pasangan yang menikah karena uang, pernikahan mereka tidak bertahan lama, karena di dalamnya ada kepalsuan cinta.
  4. Kesehatan. Kita memang butuh uang untuk biaya kesehatan dan membeli obat, tapi uang tidak bisa menggantikan kesehatan yang telah hilang. Itu sebabnya pepatah yang mengatakan “ lebih baik mencegah daripada mengobati “ sebaiknya kita terapkan.
  5. Kesuksesan. Andai kesuksesan itu hanya dapat dicapai oleh mereka-mereka yang punya uang, tentu orang yang miskin tidak akan pernah meraihnya, namun tidak demikian keadaannya. Di dunia ini banyak tercatat nama-nama orang yang sukses yang berasal dari kalangan orang kelas bawah. Namun dikarenakan semangat yang tidak pernah menyerah, kemauan yang kuat dan kerja keras, mereka memperoleh kesuksesan dalam hidupnya. Ini menunjukkan bahwa kesuksesan itu tidak bisa dibeli dengan uang.
  6. Bakat dan Talenta. Kita dilahirkan dengan bakat tertentu. Oleh karena itu, bakat ini tidak bisa dibeli dengan uang. Uang hanya bisa digunakan untuk mengasah bakat tersebut. Misalnya, orang yang terlahir ke dunia ini tanpa ada bakat dan talenta menyanyi dan suaranya sumbang, tentu tidak bisa tampil menyanyi dengan indah dan merdu. Dalam hal ini bagi mereka-mereka yang punya uang yang banyak tidak akan bisa membeli bakat dan talenta yang dimiliki oleh orang lain. Sampai saat ini penulis belum pernah mendapatkan informasi ada Dokter yang mampu mengoprasi leher / Pita suara seseorang  yang tadinya sumbang menjadi merdu. Kalau begitu, memang bakat dan talenta tidak bisa dibeli dengan uang. Sebab, uang hanya bisa digunakan untuk mengembangkan bakat dan talenta yang ada.
  7. Sikap yang baik. Sikap yang baik juga tidak bisa dibeli dengan uang, andaikan bisa dibeli tentu para orang kaya sikapnya bisa baik semua. Namun tidak demikian halnya, justru ada orang kaya tapi sikapnya kasar, pandangannya sinis, kata-katanya menyakitkan, dan meremehkan serta merendahkan orang lain. Tidak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang banyak tidak dapat membeli sikap dan nilai-nilai kebaikan tersebut. Sikap yang baik terletak pada kebaikan hati seseorang. Orang yang kaya apabila memiliki hati yang baik, maka dia akan dapat menunjukkan sikap yang baik, demikian pula orang yang miskin apabila memiliki hati yang baik, maka sikapnya juga akan menjadi baik.
Semoga kita dapat menyadari hal yang telah dikemukakan di atas, sehingga kita tidak memandang uang adalah segala-galanya.


Sabtu, 11 Juni 2011

ORANG ORANG YANG BERUNTUNG

ORANG ORANG YANG BERUNTUNG
Pada prinsifnya semua manusia menginginkan dirinya menjadi orang-orang yang beruntung, walaupun masing-masing manusia selalu berbeda dalam memandang keberuntungan tersebut. Sebab ada orang memandang dia baru merasa beruntung apabila memiliki harta yang banyak, ada lagi yang memandang apabila ia memiliki jabatan atau kekuasaan, ada pula yang memandang apabila dia memiliki status sosial yang tinggi di masyarakatnya. Namun, ditinjau dari sudut pandang agama islam, orang yang beruntung itu adalah orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah SWT. Banyak kita temukan ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an yang menjelaskan siapa sebenarnya orang yang beruntung itu, diantaranya adalah yang tercantum dalam surat Al-‘Ashr ayat 1-3:
“وَالْعَصْرِ  إِنَّ الانسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر  “
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “.
Lawan kata dari merugi adalah beruntung, dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang beruntung itu adalah apabila memiliki empat hal dalam hidupnya:
  1. Beriman kepada Allah S.W.T. Adapun keimanan itu harus memenuhi tiga ruang lingkup: Pertama: Hati membenarkan tentang eksistensi Allah sebagai Tuhan, dan meyakini hal-hal yang terkait dengan masalah-masalah yang wajib di imani sesuai dengan ajaran yang ada dalam aqidah islam. Kedua: Keyakinan yang sudah ada harus di ikrarkan dengan lidah dalam bentuk pengakuan yang tersimpul dalam dua kalimah syahadah. Ketiga: Keyakinan yang sudah diikrarkan dengan lidah tersebut, harus direalisasikan dengan segenap perbuatan sehari-hari dengan melaksanakan ajaran yang ada dalam syari’at islam. Orang yang hanya memiliki salahsatu dari tiga komponen tersebut, menandakan bahwa imannya belum sempurna.
  2. Beramal sholeh. Amal sholeh adalah melakukan nilai-nilai kebaikan yang sesuai dengan ajaran islam. Orang yang melakukan amal sholeh, hidupnya akan mulia (terutama dalam pandangan Allah). Oleh karena itu, hidup harus di isi dengan amal-amal yang sholeh. Allah berjanji terhadap orang-orang yang melakukan amal yang sholeh bahwa hidup mereka akan mendapat kemuliaan dan amal sholeh yang laksanakan akan diberi balasan yang berlipat ganda oleh Allah SWT. Firman Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 97 : “مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ “. Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “.
  3. Saling menasehati dalam melakukan kebenaran. Saling menasehati untuk melakukan kebenaran memang sangat diperlukan, sebab terkadang kita lalai dalam kehidupan ini. Dalam suasana lalai tersebut kita perlu nasehat orang lain untuk mengingatkan kita dari kelalaian tersebut, sehingga kita tidak larut dalam kelalaian yang dapat membuat kita melakukan hal-hal yang melanggar ketentuan Allah S.W.T.
  1. Saling menasehati dalam kesabaran. Hidup ini tidak selalu mulus ke depan, tempo-tempo kita menghadapi problem yang terkadang sulit untuk diatasi, terkadang membuat kita hilang kesabaran yang akhirnya diri menjadi prustasi. Dalam kondisi seperti ini, peran orang lain sangat diperlukan terutama orang yang dapat memberikan nasehat kepada kita untuk pencerahan kepada diri kita agar dapat bersabar dan bertawakkal dalam menghadapi cobaan yang sedang dihadapi. Dengan nasehat tersebut diharapkan seseorang yang sedang dirundung malang dalam kehidupannya akan merasa bahwa ia punya teman dalam kesedihan, punya sahabat dalam berduka. Disinilah letak keberuntungan orang-orang yang beriman kepada Allah, beramal sholeh dan saling nasehat-menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran.
Mari kita pertebal iman kepada Allah, kita tingkatkan amal ibadah kepadaNya, saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan saling memberi nasehat manakala ada diantara kita yang mengalami problem dalam hidupnya. Dengan demikian insya Allah kita termasuk dalam kelompok orang-orang yang beruntung seperti yang tertera dalam firman Allah di atas.

Penomena Dalam Perlombaan

Penomena Dalam Perlombaan
اَلـسَّـلاَمُ عَـلـَيْـكـُمْ وَرَحْـمَـة ُ اللهِ وَبَـرَ كـَـاتـُـهُ
Dalam setiap pertandingan tentu ada yang menang dan yang kalah, termasuk dalam MTQ atau STQ. 
Tapi tahukah anda bahwa "Kemenangan yang terindah adalah manakala anda menang tanpa mengalahkan orang lain ?”. Anda tau maksudnya………..?.  
Maksudnya adalah: "Manakala anda menang semua orang mengakui bahwa memang andalah pemenangnya, kemenangan seperti inilah yang terindah". 
Tapi manakala anda menang, namun  banyak orang yang merasa anda tidak pantas menang, itu berarti ada faktor X dalam kemenangan anda ..............! 
Kemenangan seperti ini seharusnya membuat orang yang meraihnya tertunduk malu dihadapan orang yang seharusnya pantas menerimanya. 
Pertanyaannya........?. 
Bak kata Ebiet G. Ade dalam lagunya: 
Salah siapa…? Ini salah siapa ? 
Dosa siapa….? Ini dosa siapa ?     
Kalau begitu: Ini tanggung jawab siapa ?  ( Silakan komentarnya...............!).

Jumat, 10 Juni 2011

PENGARUH MEDIA KOMUNIKASI TERHADAP UMMAT

PENGARUH MEDIA KOMUNIKASI
TERHADAP UMMAT

Sudah merupakan pengetahuan umum saat ini bahwa Pengaruh ICT (Information and Comunication Technology) atau teknologi informasi dan komunikasi, menempati posisi yang sangat signifikan dan krusial dalam pembentukan moral dan kepribadian masyarakat saat ini, terutama generasi mudanya. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah mudahnya mengakses suatu peristiwa yang terjadi melalui media cetak maupun elektronik, dan media baru seperti telepon seluler dan internet, karena saat ini kita dan anak-anak hidup di era ICT.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, memaksa kita untuk kembali melihat, cara atau methode yang harus diterapkan dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak kita. Sedikit kesalahan dalam menyampaikan informasi kepada anak-anak kita, bisa tidak menjadi efektif, walaupun mungkin menurut kita, cara yang kita tempuh sudah benar.

Kalau tiga pulu atau empat puluh tahun yang lalu, setelah Maghrib kita selalu mendengar kumandang ayat-ayat suci Al-Qur’an dibaca, baik di masjid-masjid, surau, atau di rumah-rumah ummat islam. Guru mengaji dan orang tua akrab mengaji bersama dengan anak-anaknya, orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana melaksanakan shalat yang baik dan benar, diajarkan bagaimana hukum bersuci, dan lain-lain yang berkenaan dengan bagaimana hidup yang baik menurut agama, berakhlak terpuji dalam pergaulan, namun hari ini suasana yang seperti itu kelihatannya sudah banyak yang sirna.

Hasil jerih payah mereka lebih kurang tiga puluh atau empat puluh tahun yang lalu adalah diri kita sekarang ini. Kita adalah tempaan pribadi secara manual oleh orang tua dan guru-guru kita, yang pada zaman itu tidak mengenal apa yang disebut telepon seluler, tidak mengenal apa yang disebut CD atau VCD, tidak mengenal dunia internet, tabloid, dan lain sebagainya.

Kalau dahulu orang tua kita sangat teliti dan sabar mendidik diri kita untuk menanamkan nilai-nilai agama, namun begitu masih banyak juga diantara kita hari ini yang hidupnya menyimpang dari yang telah diajarkan. Lalu, bagaimana pula dengan anak-anak kita hari ini apabila tidak ditanamkan nilai-nilai ajaran agama ?. Tentu dengan kondisi hidup yang tantangannya jauh berbeda dengan masa lebih kurang empat puluh tahun yang lalu, akan menjadikan generasi kita di masa yang akan datang lebih parah lagi dari kondisi kita hari ini. Oleh sebab itu, adalah merupakan kewajiban bagi kita untuk lebih bersungguh-sungguh memberikan dan menanamkan pendidikan agama kepada anak-anak kita, agar kelak generasi kita mempunyai filter untuk mengantisipasi segala tantangan dan godaan dalam kehidupan mereka.

Marilah kita mencoba kembali menerapkan pola yang dulu diterapkan oleh orang-orang tua kita untuk memberikan pendidikan agama dan sekaligus menerapkannya bersama anak-anak kita atau keluarga kita. Sebab pembinaan agama yang dimulai dari rumah tangga masing-masing akan lebih memberika bekas yang berarti kepada anak-anak kita. Janganlah kita hanya mempercayakan pembinaan anak-anak kita kepada guru-guru agama, namun hedaknya kalaupun anak kita sudah kita serahkan kepada guru agama, maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengajak anak kita menerapkan ilmu-ilmu agama tersebut yang dimulai dari lingkungan rumah taangga kita masing-masing
Jangan kita biarkan mereka membuka internet dengan bebasnya, walau-pun kita tau, bahwa di dunia internet sekalipun banyak hal-hal yang mendatangkan manfa’at untuk menambah ilmu dan wawasan serta informasi, namun disisi lain dunia internet dapat juga membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Diantaranya adalah, banyaknya beredar situs-situs porno yang saat ini sangat mudah diakses oleh siapapun. Oleh sebab itu, kewajiban orang tualah untuk mengontrol anak-anaknya pada saat anaknya berselancar di dunia maya. Kita dan anak-anak, harus pandai-pandai memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Kunci untuk selamat dari pengaruh negatif dunia maya tersebut tidak lain adalah meningkatkan kwalitas pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama bagi setiap anggota keluarga di rumah tangga kita masing-masing.

Akhirnya mari kita selalu berdoa kepada Allah agar kita dan generasi kita tetap diberi hidayah oleh Allah kepada jalan yang diridoinya.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ





Rabu, 08 Juni 2011

Nilai-Nilai Hidup Yang Bergeser


Nilai-Nilai Hidup Yang Bergeser
Akhlak secara etimologi diambil dari bahasa Arab yang berarti sikap atau tingkah laku manusia yang akan mempunyai nilai baik dan buruk. Akhlak manusia bila dikaji dengan pendekatan makna dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan moral.
Moral baik dan buruk sifatnya relatif dan subjektif, tergantung konvrsi masyarakat yang menyepakatinya. Misalnya: Bagi budaya barat berciuman di depan umum adalah merupakan hal yang wajar dan biasa. Beda halnya dengan budaya timur, seperti di Indonesia berciuman di depan umum adalah perbuatan yang tidak baik.
Namun bagaimana pun nilai baik dan buruk itu selalu mengalami pergeseran dari generasi ke generasi. Jadi akhlak manusia itu akan mengalami perubahan persepsi dalam memandang kebenaran sesuatu, walaupun pergeseran makna tersebut belum tentu semuanya dapat dibenarkan. Oleh sebab itu, standart nilai baik dan buruk itu adalah agama, sebab penilaian agama terhadap sesuatu tidak akan pernah berubah.
Pergeseran nilai-nilai yang terjadi saat ini banyak sekali. Jika dahulu dalam budaya orang Indonesia hubungan seks diluar nikah adalah sesuatu yang sangat tabu dan diharamkan oleh agama, namun generasi sekarang melakukan hubungan seks diluar nikah sudah dianggap merupakan hal yang biasa, bahkan dipandang bagian dari gaya kehidupan.
Jika dahulu ada perempuan hamil diluar nikah (tanpa suami) adalah sebuah aib besar, bahkan tidak jarang orang tua si-perempuan mengungsikan anaknya ke tempat yang jauh sampai ia melahirkan anaknya. Zaman sekarang hal itu sudah dianggap biasa dan orang akan memakluminya. Bahkan banyak diantara orang tua yang membuat pesta terhadap anaknya secara meriah, sehingga seolah-olah orang tua tersebut merestui perbuatan anaknya yang sudah hamil tanpa suami. Bahkan yang paling mengherankan ada diantara masyarakat yang memandang perbuatan itu adalah hal yang wajar dan merupakan faktor manusiawi. Pemikiran seperti ini sudah lebih jauh menyimpang dari tatanan yang ada, baik ditinjau dari adat-istiadat ketimuran, terlebih-lebih ditinjau dari sudut pandang agama. Inilah yang dinamakan pergeseran nilai yang menyimpang dari makna kebenaran.
Saat ini banyak orang yang memandang kebenaran tidak lagi menjadikan aturan agama sebagai tolok ukur, tetapi dengan dalih kebebasah hak asasi manusia. Akhirnya mereka bebas melakukan apa saja tanpa berpikir apakah perbuatannya layak atau tidak. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi hal tersebut, manusia harus kembali kepada nilai-nilai moral yang berlandaskan kepada aturan agama yang sifatnya tidak bisa ditawar-tawar.
Perlu disadari, kebebasan berpikir dan bertindak bukan berarti kebebasan melakukan apa saja yang kita inginkan. Kita masih punya aturan Tuhan yang harus di taati. Kita lahir kedunia bukan untuk menjalankan kebebasan tetapi untuk menjalankan aturan.
Masalah orang merasa terbelenggu atau tidak dengan aturan Tuhan, hal itu kembali kepada kepada setiap pribadi seseorang, bagaimana kita menyikapi aturan itu yang akan menuntun manusia kepada akhlak yang baik.
Jadi, akhlak yang baik dan benar adalah akhlak yang dirumuskan dalam Al-Qur’an dan Hadits, dengan menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

Selasa, 07 Juni 2011

Naghom / Irama Dalam Membaca Al-Qur’an


Naghom / Irama Dalam Membaca Al-Qur’an
Kata Naghom secara etimologi paralel dengan kata ghina yang bermakna lagu atau irama. Secara terminologi Naghom dimaknai sebagai membaca Al Qur’an dengan irama (seni), atau suara yang indah dan merdu, atau melagukan Al Qur’an secara baik dan benar tanpa melanggar aturan-aturan bacaan.  
Keberadaan ilmu Naghom, tidak sekedar realisasi dari firman Allah dalam suroh Al Muzzammil ayat 4 “وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً ………. “ ” Bacalah Al Qur’an itu secara tartil ”, akan tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang berbudaya yang memiliki cipta, rasa, dan karsa. Rasa yang melahirkan seni (termasuk Naghom) merupakan bagian integral kehidupan manusia yang didorong oleh adanya daya kemauan dalam dirinya. Kemauan rasa itu sendiri timbul karena didorong oleh karsa rohaniah dan pikiran manusia.
Naghom merupakan salah satu dari sekian ekspresi seni yang menjadi bagian integral hidup manusia. Bahkan Naghom ini telah tumbuh sejak lama. Ibnu Manzur menyatakan bahwa ada dua teori tentang asal mula munculnya Naghom Al Quran.   Pertama: Naghom Al-Qur’an berasal dari nyanyian nenek moyang bangsa Arab. Kedua: Naghom terinspirasi dari nyanyian orang-orang kafir yang menjadi tawanan perang.
Kedua teori tersebut menegaskan bahwa lagu-lagu Al Qur’an berasal dari khazanah tradisional Arab (tentu saja berbau padang pasir). Dengan teori ini pula ditegaskan bahwa lagu-lagu Al-Quran idealnya bernuansa irama Arab. Karena itu tidak bisa Naghom Al-Qur’an itu di pribumisasikan, seperti menggunakan langgam lagu es lilin, dendang gulo atau irama dangdut.
Meski kedua teori tersebut hampir benar adanya tapi tetap saja muncul permasalahan. Jika memang benar Naghom Al-Qur’an berasal dari seni Arab lalu siapakah yang pertama kali mengkonversikannya untuk lagu Al Qur’an ? Sampai di sini ada ketidak jelasan. Dan lagi, jika memang benar informasi Al Qur’an berasal dari nyanyian, tentu dapat direpresentasikan dalam not balok atau oktaf tangga nada. Tapi kenyataannya tidaklah demikian, Naghom Al Qur’an sangat sulit ditransfer ke dalam notasi angka atau nada. Dan karena sifat eksklusifisme inilah kemudian yang “memaksa” bahwa metode sima’I dan talaqqi, merupakan satu-satunya cara dalam mentransmisikan lagu-lagu Al Qur’an.
Pada zamannya Rasulullah SAW adalah seorang Qari’ yang membaca Al Qur’an dengan suara indah dan merdu. Abdullah bin Mughaffal pernah mengilustrsikan suara Rasulullah dengan terperanjatnya unta yang ditunggangi Nabi ketika Nabi melantunkan suroh Al Fath. Para sahabat juga memiliki minat yang besar terhadap ilmu Naghom ini.
Sejarah mencatat sejumlah sahabat yang berpredikat sebagai Qari’, diantaranya adalah : Abdullah Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari. Pada periode tabi’in, tercatat Umar bin Abdul Aziz dan Safir Al Lusi sebagai Qari’ kenamaan. Sedangkan periode tabi’ tabi’in dikenal nama Abdullah bin Ali bin Abdillah Al Baghdadi dan Khalid bin Usman bin Abdurrahman.
Kendati di masa awal Islam sudah tumbuh lagu-lagu Al Qur’an, namun perkembangannya tidak bisa dilacak karena tidak ada bukti yang dapat dikaji. Hal ini dimungkinkan karena pada saat itu belum ada alat perekam suara. Transformasi seni baca Al Qur’an berlangsung secara sederhana dan turun temurun dari generasi ke generasi.
Dalam sejarah juga tidak tercatat perkembangan pasca tabi’in. Apresiasi terhadap seni Al Qur’an semakin tenggelam seiring dengan semakin maraknya umat Islam melakukan olah akal (berfilsafat), olah batin (tasawwuf), dan olah laku ibadah (fiqh). Selain itu, yang paling mendasar menyangkut dengan Naghom Al-Qur’an ini, dibutuhkan kemampuan khusus untuk masuk dalam kualifikasi Qari’, terumata menyangkut modal suara. Modal ini lebih merupakan hak periogratif Allah untuk diberikan kepada yang dikehendaki-Nya.
Pada abad ke-20, lagu-lagu Al-Qur’an mulai masuk dan berkembang di Indonesia. Transmisi lagu-lagu tersebut dilakukan oleh ulama-ulama yang mengkaji ilmu-ilmu agama di Timur Tengah, kemudian pulang ke tanah air untuk mengembangkan ilmunya, termasuk seni baca Al Quran.
Ditinjau dari penerapan Naghom Al-Qur’an ini, ada dua versi yang berkembang, yaitu versi Makkawi dan versi Mishri.
Lagu versi Makkawi sangat digandrungi di awal perkembangannya di Indonesia, karena liriknya yang sangat sederhana dan relatif datar. Lagu Makkawi mewujud dalam barzanji. Beberapa Qari’ yang menjadi eksponen aliran ini adalah : KH Arwani, KH Sya’roni, KH Munawwir, KH Abdul Qadir, KH Damanhuri, KH Saleh Ma’mun, KH Muntaha, dan KH Azra’i Abdurrauf.
Memasuki paruh abad 20, seiring dengan eksebisi Qari’ Mesir ke Indonesia, mulai marak perkembangan lagu versi Mishri. Pada tahun 60-an pemerintah Mesir mensuplai sejumlah maestro Qari’ seperti, Syeikh Abdul Basith Abdus Shomad, Syeikh Musthofa Ismail, Syeikh Mahmud Kholil Al Hushori, dan Syeikh Abdul Qadir Abdul Azim. Animo dan atensi umat Islam Indonesia terhadap lagu-lagu Mishri demikian tinggi. Hal ini disebabkan karakter lagu Mishri yang lebih dinamis dan merdu. Keadaan ini cocok dengan kondisi alam Indonesia.
Sejumlah qari’ yang menjadi elaboran lagu Mishri ini adalah : KH Bashori Alwi, KH Mukhtar Lutfi, KH Aziz Muslim, KH Mansur Ma’mun, KH Muhammad Assiry, dan KH Ahmad Syahid.
Seni baca Al Quran baru menampakkan geliatnya pada awal abad 20 M yang berpusat di Makkah dan Madinah serta di Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang sangat aktif mentransfer ilmu-ilmu agama (termasuk Naghom) Al-Qur’an.
Hingga hari ini Makkah dan Mesir merupakan kiblat Naghom se-dunia. Masing-masing kiblat memiliki karakteristik tersendiri. Dalam versi Makkawi dikenal lagu Banjakah, Hijaz, Mayya, rakby, Jiharkah, Sikah, dan Dukkah. Sementara pada versi Mishri dikenal lagu Bayyati, Hijaz, Shoba, Rashd, Jiharkah, Sikah, dan Nahawand.
Nagham ini bisa dikembangkan dengan bermacam variasi, yang dikembangkan dengan banyak mendengarkan bacaan Syekh Musthofa Ismail, Syekh Musthofa Gholwasy  dan lainnya, dan juga dengan banyak mendengarkan lagu-lagu padang pasir dari sumber aslinya, seperti lagu-lagu Ummi Kultsum, Muhammad Abdul Wahhab dan lannya. Kita dapat mengembangkan sendiri dan bisa juga dengan memasukkan irama lainya yang munasabah(sesuai) dengan Naghom - Naghom tersebut.
Berkenaan dengan Naghom Al-Qur’an tersebut, ada hal yang saya tidak sependapat dengan pandangan sebagian Qori-Qori’ah saat ini. Banyak diantara Qori’-Qori’ah yang salah dalam memandang tentang lagu-lagu Al-Qur’an. Saya sering mendengar seseorang berkomentar setelah mendengar seorang Qori’ atau Qori’ah membaca Al-Qur’an, diantara mereka ada yang berkomentar, wah bacanya bagus, lagunya banyak lagu-lagu yang baru. Dalam hal ini saya merasa perlu mengomentarinya. lagu-lagu Al-Qur’an itu tidak ada yang baru, sebab lagu-lagu Al-Qur’an itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Oleh sebab itu, tidak ada istilah lagu baru, yang ada adalah variasi baru.
http://www.topblogarea.com/rss/Quran.htm ( Dengan penambahan dan pengurangan keterangan yang dipandng perlu).