Jumat, 17 Juni 2011

Tentang Kewajiban Haji

Tentang Kewajiban Haji
Hari ini ada yang bertanya kepada saya melalui SMS. Pertanyaannya adalah: Adakah dalil tentang kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup?.

Sebenarnya saya sudah mengirimkan jawabannya melalu SMS kepada pihak yang bertanya, namun saya merasa jawaban tersebut perlu disampaikan kepada masyarakat yang lebih luas, dengan harapan dapat menambah pengetahuan terutama bagi yang belum menemukan dalil yang dimaksud, karena itu saya berinisiatif untuk memposting jawaban tersebut ke Blog saya, dan saya sampaikan pula kepada teman-teman yang sudah ada dalam daftar pertemanan dengan saya di Facebook saya. Semoga bermanfa’at.
Manyangkut masalah dalil yang menyatakan tentang kewajiban haji hanya sekali seumur hidup, adalah berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW. yang termuat dalam kitab Subulu As-Salam, oleh: Imam Muhammad Bin Ismail Al-Kahlani As-Shon’ani, seperti yang tertera di bawah ini:
وعَنْهُ رضي اللَّهُ عنهُ قالَ: خطبنا رسُولُ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم فقال: "إنَّ الله كتب عليكمُ الحج" فقامَ الأقرع بن حابس فقال: أَفي كلِّ عامٍ يا رسولَ الله؟ قال: "لَوْ قُلتُها لوجبت، الحجُّ مَرَّة، فما زاد فَهُو تطوُّعٌ" رواهُ الخمْسةُ غيْر الترمذي وأَصْلُهُ في مسلم من حديث أَبي هُريْرةَ.
Artinya: “ Dan daripadanya (maksudnya dari Ibnu Abbas r.a. ) dia berkata: Rasulullah SAW.  berkhutbah kepada kami, Rasul bersabda; “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu (ummat islam) untuk menunaikan haji ”, lantas ada seorang yang bernama Al-Aqra’ Bin Haabis’, dia berdiri dan bertanya, “Apakah setiap tahun ya Rasulallah”?. Rasul berkata; andai aku katakan ya, pasti diwajibkan setiap tahun. (sabda Rasul) “Haji itu hanya sekali, selebihnya adalah sunnat ”. ( Hadits ini riwayat khamtsah(lima perawi) kecuali Tirmizi ( mereka adalah; Ahmad bin Hanbal, Abu Daud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah ). Asalnya adalah pada shahih Muslim dari hadits Abi Hurairah).
Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwa ibadah haji itu hanya diwajibkan sekali seumur hidup, namun demikian bagi orang yang mempunyai kemampuan, boleh melakukannya beberapa kali dan nilai hajinya yang ke dua dan seterusnya adalah nilai ibadah sunnat.
Mudah-mudahan jawaban ini dapat dimengerti, khususnya oleh yang menyampaikan pertanyaan ini kepada saya.
وَالله ُ اَعْـلـَـمُ.



Kamis, 16 Juni 2011

Mengendalikan Hawa Nafsu

Mengendalikan Hawa Nafsu
Sekembalinya dari suatu peperangan, Nabi Muhammad menyatakan dihadapan para sahabatnya, kita baru pulang dari perang yang kecil menuju perang yang besar. Para sahabat yang mendengarnya terperangah dan bertanya. Apakah perang yang besar itu ya Rasul?. Bukankah perang yang baru kita hadapi ini perang yang dahsyat?. Rasul menjawab: Perang yang besar itu adalah Perang melawan hawa nafsu. Demikian lebih kurang dialog yang terjadi antara Rasul dan para sahabat.
Kalau menghadapi hawa nafsu adalah merupakan perang yang besar, tentu harus ada kiat-kiat tertentu agar kita berhasil menghadapinya. Kiat-kiat tersebut antara lain adalah:
Pertama: Mengenal musuh terbesar. Musuh terbesar dalam kehidupan kita adalah hawa nafsu. Kata hawa nafsu selalu dipahami berupa keinginan atau kecendrungan kepada sesuatu yang tidak baik, atau perbuatan yang melawan kebenaran dan kebaikan. Orang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya tentu akan mengakibatkan dirinya lalai, sehingga dia punya kecendrungan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran yang benar. Orang yang memperturutkan hawa nafsu dinyatakan Allah sebagai manusia yang paling sesat.
Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qoshos ayat 50:
“ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ َ ………”.
Artinya: “ Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun ”.
Kedua: Menggunakan kecerdasan akal untuk mengendalikan hawa nafsu. Manusia diberi Allah potensi akal agar dengan akal tersebut manusia dapat mempertimbangkan segala sesuatu yang menjadi keinginan dalam kehidupannya. Dengan demikian akal tersebut merupakan salah satu alat kontrol bagi manusia terhadap kecenderungan yang tidak baik, dan kecenderungan yang tidak baik tersebut tentunya dikarenakan hawa nafsu yang tidak terkendali.
Ketiga: Menolak segala keinginan hawa nafsu yang tidak baik. Untuk berhasil menolak keinginan tersebut, tentunya diperlukan iman yang kokoh.
Ketahuilah, bahwa dari sudut kemanusiaan Nabi Yusuf-pun sebenarnya suka kepada Zulaikha yang menggodanya untuk berbuat mesum. Namun dikarenakan imannya kepada Allah, keinginan yang tidak baik itu mampu dia kalahkan. Dalam hal ini Allah befirman:
“ وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ ”.
Artinya: “ Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”.

Keempat: Menaklukkan dan menguasai hawa nafsu sepenuhnya. Peperangan melawan hawa nafsu berlangsung setiap saat. Dalam pertarungan ini, terkadang kita menang, tapi juga terkadang kita kalah. Namun bagi orang yang beriman tentu dia akan mampu untuk menguasai nafsunya.
Kita dianjurkan untuk selalu berdoa kepada Allah dengan doa seperti berikut:
“ Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari memiliki ilmu yang tidak bermanfa’at, hati yang tidak pernah khusyu’. nafsu yang tidak terkendali dan aku berlindung kepadaMu dari do’a yang tidak pernah Engkau dengarkan “.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu.





Rabu, 15 Juni 2011

Bekal Menuju Kematian

Bekal Menuju Kematian
Tidak ada yang dapat dipastikan dalam kehidupan ini kecuali kematian. Setinggi apapun ilmu kedokteran yang dikuasai oleh seseorang dia-pun pasti akan mengalami kematian. Namun walaupun kematian itu merupakan sesuatu yang pasti, banyak manusia  yang lalai akan kematian tersebut. Upaya apapun yang dilakukan oleh manusia agar terhindar dari kematian, sesungguhnya kematian itu pasti akan datang. Dia datang tanpa diundang, dan apabila sudah datang tidak dapat diusir.
Dalam hal kematian ini Allah mengingatkan kita agar jangan lalai dalam mempersiapkan bekal menuju kematian tersebut. Peringatan Allah tersebut tertuang dalam firmanNya pada surah Al-Jumu’ah ayat 8:
“قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ “
Artinya: “ Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerja “.
Seorang yang bernama Syauqi memberikan nasehat kepada kita berkenaan dengan kematian tersebut. Nasehat tersebut tertuang dalam bentuk Syair, terjemahan syair tersebut adalah:
“Persiapkanlah dirimu untuk berbuat taqwa, sebab kalau malam datang, anda tidak mampu menjamin apakah besok pagi masih bisa hidup atau tidak. Berapa banyak yang anda lihat, ada orang yang sehat-segar bugar, tapi secara mendadak meninggal dunia. Namun sebaliknya, banyak pula orang yang penyakitan, tapi belum mati-mati ”.
Ungkapan nasehat tersebut dapat disimpulkan; Bahwa kita harus mempersiapkan diri menghadapi kematian. Sebab, kendatipun secara umum orang yang meninggal dunia ada faktor derita sakit yang dia alami, tetapi tidak tertutup kemungkinan, orang yang sehat segarbugar-pun secara mendadak bisa meninggal dunia. Oleh karena itu ketahuilah, bukan kematian itu yang perlu kita takuti, tetapi sedikitnya amal untuk menghadapi kematian itu yang perlu kita risaukan.
Firman Allah dalam surah Al-Baqoroh ayat 197:
“  وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ “
Artinya: “ Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal “.
Mari kita siapkan bekal menghadapi kematian itu, dan bekal yang harus kita persiapkan adalah nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah SWT.