Rabu, 06 Juli 2011

Zainuddin MZ Menghadap Sang Khaliq

Zainuddin MZ Menghadap Sang Khaliq
Da’i yang mendapat julukan “Sejuta Ummat” itu talah pergi untuk selama-lamanya menghadap sang Khaliq pada hari selasa tanggal 5 Juli 2011.
Pria yang bernama lengkap Haji Zainuddin Muhammad Zein meninggal pada hari selasa di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. .
Zainuddin lahir di Jakarta pada tanggal 2 Maret 1951. Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini Selain aktif di bidang keagamaan, dia juga terjun di dunia politik.
Sebutan Da’i Sejuta Umat disandangnya lantaran puluhan ribu umat kerap datang dan mendengarkan ceramah-ceramahnya. Karena banyaknya penggemar beliau, kaset rekaman dakwahnya pun diproduksi dan mendapat respons positif dari publik. Tak hanya di kawasan Nusantara, kaset rekaman Zainuddin juga beredar di beberapa negara Asia. Tak hanya lewat kaset dan radio, Zainuddin pun kerap menyampaikan dakwah melalui televisi.
Sebagai da’i, Zainuddin memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menghadapi audiensnya, dia memiliki retorika berpidato yang mumpuni dan dapat menyesuaikan penyampaian dakwahnya dengan kondisi daerah dimana dia berdakwah. Da’i sejuta ummat ini memiliki kekhasan ceramah yang sering menyebut kata “betul”. Betul apa betul?”, begitu biasanya Zainuddin berkomunikasi dengan jama’ah saat berdakwah.
Akhirnya kita ucapkan selamat jalan kepada Bapak Zainuddin MZ, semoga Allah memberinya ampunan dan menempatkannya di tempat yang mulia disisinya.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Selasa, 28 Juni 2011

Puisi Isra' Mi'aj

ISRA’ MI’RAJ
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Dikeheningan malam nan sunyi dan sepi
Diam.......... Bisu.......... Sepi..........
Seorang Insan mulia tertengadah menatap langit
Seolah-olah ada sesuatu yang dia harapkan
Ia Lelah………. Ia Letih dan berduka
Menghadapi ummat yang selalu durhaka
Kemanakah hati yang duka akan dibawa
Allah yang agung tempat Ia mengadu
Ia sandarkan diri di Ka’bah mulia
Sembari mengharap rahmat Ilahi Rabbi
Allah mendengar rintihan hatinya
Allah melihat penderitaannya
Allah Isra’kan NabiNya Ke Baitul Maqdis
Allah Mi’rajkan RasulNya ke Langit yang tinggi
Untuk melipurlara hati hambaNya yang berduka

Muhammad bersimpuh…… mengucapkan tahniyah dan salam penghormatan
Penghormatan dan kemuliaan hanya milik Allah sang pencipta alam.
Allah bangga pada hambanya Muhammad
Kemuliaan tertinggi diberikan untuknya
Salam penghormatannya Allah balas dengan sanjungan kemuliaan
Perintah shalat diwajibkan kepadanya
Sebagai oleh-oleh dari perjalanan panjangnya
Untuk disampaikan pada ummatnya

Jumat, 24 Juni 2011

Orang-Orang Yang Bahagia

Orang-Orang Yang Bahagia
Setiap manusia tentu mendambakan hidup yang bahagia, namun manusia banyak yang berbeda dalam memandang kebahagiaan tersebut. Ada yang memandang kebahagiaan itu akan tercapai manakala seseorang memiliki harta kekayaan, ada yang mamandang apabila dia memiliki pangkat dan jabatan, dan ada yang mamandang apabila dia memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat.
Lalu, bagaimana dengan pandangan Rasulullah?
Dalam sebuah hadits yang termuat dalam kitab Syarah Mukhtaarul Ahaadits  oleh Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, halaman 113, yang sumbernya dari Ali bin Abi Thalib, diriwayatkan oleh ad-Dailami. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
اربع من سعادة المرء: ان تكون زوجته صالحة, واولاده ابرار, وخلطاؤه صالحين, وان يكون رزقه في بلده ( رواه الديلمى عن على )
Artinya: “Ada empat hal yang menjadikan kebahagiaan bagi seseorang, yaitu: memiliki istri yang shalihah, anak-anak yang berbakti, teman-teman yang shalih dan rezkinya berada di negerinya ( tempat tinggalnya ) sendiri.
Untuk itu, yang harus kita lakukan adalah:
  1. Membimbing istri kita agar menjadi istri yang shalihah.
  2. Mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, dan menjadi anak-anak berbakti kepada agama bangsa dan Negara.
  3. Menjadikan orang-orang yang gemar melakukan amal-amal yang shalih sebagai teman akrab kita.
  4. Bekerja dengan mengembangkan potensi yang ada di Negara ini, baik dalam meningkatkan sumberdaya manusia yang mumpuni, maupun mengelola sumberdaya alam yang dikaruniakan Allah kepada kita dengan cara yang baik dan benar.
Mari kita resapi firman Allah dalam Al-Qur’an, surat Al-A’raaf;96:
“وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ “
Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya “.

Semoga kita menjadi orang-orang bahagia, baik di dunia ini, terlebih-lebih di akhirat kelak.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Selasa, 21 Juni 2011

Memenuhi Panggilan Allah

Memenuhi Panggilan Allah
Dalam ajaran islam banyak seruan atau panggilan Allah untuk dilaksanakan oleh manusia, diantaranya adalah:
  1. Panggilan shalat. Panggilan shalat ini ditandai dengan berkumandangnya seruan azan untuk shalat lima waktu dalam sehari semalam. Seruan ini terus berkumandang diseluruh sentro bumi ini, dan berlangsung secara terus menerus, susul menyusul dari satu daerah ke daerah lainnya, dan dari belahan bumi yang satu dengan belahan bumi yang lain. Dengan demikian kumandang azan ini tidak ada putus-putusnya selama 24 jam. Kalimat Allahu akbar mengandung makna panggilan kepada orang beriman yang sedang sibuk dengan aktivitasnya dalam urusan dunia, agar berhenti sesaat memenuhi panggilan Allah tersebut untuk beribadah kepadanya demi meraih kepentingan akhirat. Karena itu wajarlah kalau panggilan shalat ini disahuti dengan ucapan Allahu Akbar, dan kalimat itu diucapkan pada saat seseorang melaksanakan Takbirotul Ihram dalam shalatnya.
  2. Panggilan Haji. Menyangkut panggilan haji ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj;27: “وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق “. Artinya:   “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. Karena itu wajarlah kalau panggilan haji ini disahuti oleh orang-orang yang menunaikan haji dengan ucapan: “لـَبـَّـيـْـكَ الـلـّــهُــمَّ  لـَبـَّـيـْـكَ‘ لـَبـَّـيـْـكَ لاَ شـَـِريْـكَ لـَكَ لـَبـَّـيـْـكَ‘ اِنَّ الـْـحَـمْـدَ وَالـنـِّـعْـمَـة َ لـَكَ وَالـْـمُـلـْـكَ لاَ شـَـِريْـكَ لـَكَ “. "Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi penggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu." 
  3. Panggilan kematian. Panggilan kematian ini mutlak adanya, semua manusia pasti mengetahuinya, sebab manusia sepenuhnya menyadari bahwa setiap makhluk hidup di dunia ini pasti akan mengalami kematian. Berkenaan hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran;185: “ …….. كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ “. Artinya: “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati………………. “.
Dari ketiga panggilan Allah tersebut, panggilan kematianlah yang tidak ada alasan bagi manusia untuk menunda-nundanya. Kalau panggilan shalat, masih banyak manusia yang menunda-nundanya dengan berbagai alasan. Demikian juga dengan panggilan haji, masih banyak manusia yang sebenarnya sudah mampu untuk melaksanakannya, namun masih menunda-nunda untuk menunaikannya. Tidak demikian halnya dengan panggilan kematian, tak satu-pun manusia yang dapat menundanya walaupun dia sudah berusaha semaksimalmungkin agar kematian itu ditunda sejenak. Sebab Allah sudah mengingatkan manusia melalui firmannya dalam Al-Qur’an surat  Al-A’raf; 34:
“ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ ”
Artinya: “ Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya ”.
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. ( Q.S. Al-Munafiqun: 11 ).
Untuk itu, mari kita laksanakan panggilan Allah, seperti panggilan shalat, panggilan haji dan panggilan-panggilan lainnya, sebelum datang panggilan Allah yang apabila saatnya sudah tiba tidak dapat ditawar-tawar lagi, itulah panggilan kematian yang semua orang pasti akan mengalaminya.
Ketahuilah, orang bijak mengatakan:
“Bukanlah kematian itu yang perlu kita takutkan, tapi sedikitnya amal yang perlu kita risaukan“