Senin, 19 Maret 2012

Kisah Seorang Muallaf


Abdul Aziz Laia:
Bersyahadat karena Kitab Suci Islam
Memiliki Surah Maryam

Saat remaja, seorang guru berkerudung membuatnya kagum. Beranjak dewasa, hatinya terketuk oleh materi khutbah Jumat serta kumandang tilawah Alquran yang didengarnya setiap menjelang Maghrib. Kini, pria bernama Abdul Aziz Laia itu telah menghafal tiga setengah juz Alquran.

Abdul Aziz berislam sembilan tahun lalu, setelah beberapa tahun lamanya kebenaran Islam menyusup ke dalam sanubarinya. Islam, katanya, menjawab berbagai pertanyaan dan ketidakpastian dalam agamanya. “Tak ada alasan untuk keluar dari agama Allah ini,” kata pria bernama asli Lianus Laia ini.
Abdul Aziz. Demikian nama yang dipilihnya setelah ia memutuskan mengucap syahadat pada Januari 2002 silam. “Laia,” nama marga yang tak ingin ditanggalkannya, ia sematkan di belakang nama barunya itu. Dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga Kristiani, Aziz tak pernah mengenal Islam. Terlebih di Nias Selatan, kota kelahirannya, umat Islam adalah masyarakat minoritas.
“Yang kuingat, dulu aku dan teman-teman kerap merobek gambar apapun yang disebut-sebut sebagai gambarnya orang Islam. Tapi aku sendiri tak tahu apa itu Islam,” ujar Abdul Aziz kepada Republika yang menemuinya di kampus LIPIA, Jakarta Selatan, Kamis (15/3) lalu.
Satu hal yang ia tahu tentang Muslim kala itu; mereka berbeda. Perbedaan itu ditemukannya dalam diri salah seorang guru perempuan di sekolahnya. “Aku masih ingat, dulu aku sering mengamati pakaiannya. Ia mengenakan kerudung dan rok panjang yang menutupi kakinya, tidak seperti pakaian guru-guru perempuan lain di sekolahku.”
Tak hanya itu, Aziz kagum pada bagaimana sang ibu guru berperilaku dan bertutur kata. “Akhlaknya mencerminkan kebaikan budi pekerti. Jika semua Muslim seperti itu, saya yakin akan banyak sekali orang yang tertarik pada Islam,” kata Abdul Aziz, masih dengan nada kagum.
Semua hanya sebatas kekaguman, hingga akhirnya Abdul Aziz menamatkan sekolah menengah pertamanya dan melanjutkan studinya ke sebuah sekolah kejuruan di Medan. Di kota itulah segalanya berawal. Aziz bekerja sebagai fotografer pada sebuah keluarga Muslim dan tinggal bersama mereka di rumah yang berdekatan dengan masjid.
Setiap hari, selama tiga tahun, Aziz mendengar rekaman tartil Alquran lengkap dengan terjemahannya dikumandangkan setiap menjelang Maghrib. Al-Anbiyaa’ dan Maryam adalah dua surah yang paling sering diputar kala itu. “Aku sangat terheran-heran kala itu. Nabi-nabi yang disebutkan dalam Alquran sama persis dengan nabi-nabi yang pernah kami (umat Kristiani) pelajari,” kata Aziz.
Berangkat dari situ, perhatian Aziz pada Islam muncul secara perlahan. Khutbah yang didengarnya setiap hari Jumat melengkapi perhatiannya dan mengubahnya menjadi keingintahuan. “Aku semakin ingin tahu lebih banyak hal tentang Islam. Dan secara perlahan pula, aku semakin jarang pergi ke gereja.”
Tak hanya itu, Aziz merasa ada yang mengetuk-ngetuk hatinya kala melihat para jamaah masjid berwudlu. “Itu seperti baptis dalam ajaran kami. Aku merasa Islam dekat dengan berbagai hal yang pernah kuketahui sebelumnya tentang agamaku.” Meski belum resmi berislam, keingintahuan yang bertambah besar setelah itu membuat Aziz memilih menjadi remaja masjid. Sesekali, ia bahkan ikut mengerjakan amalan-amalan Muslim.
Lulus dari sekolah kejuruan, pria kelahiran 25 Oktober 1980 ini lalu merantau ke Riau dan bekerja di sana. Dua tahun pertama di sana, katanya, ia semakin giat mendalami Islam. “Aku mulai membandingkan antara Islam dan Kristen,” katanya.
Pada waktu yang sama, Aziz mulai meragukan dogma-dogma agamanya. Seperti dogma yang mengatakan bahwa dosa-dosa umat Kristiani dihapuskan pada Natal dan tahun baru. “Ketika yang kulihat justru bahwa banyak dari kami merayakan Natal sambil mabuk-mabukan, jaminan pengampunan dosa itu mustahil,” ujarnya.
Hingga akhirnya, ia memilih salah seorang kawannya yang juga seorang penggiat masjid untuk menjawab pertanyaannya. Setelah sempat tidak mampu memejamkan mata pada malam sebelumnya, Aziz melontarkan tiga pertanyaan pada kawannya itu. “Aku bertanya tentang siapa Muhammad, bagaimana posisi Isa dan Maryam dalam Islam, dan mengapa babi haram dimakan.”
Dari uraian sang kawan, Aziz mengetahui bahwa perihal Nabi Muhammad juga disebutkan di dalam Injil, dan larangan memakan daging babi disebutkan dalam Alquran. Dan ia semakin takjub saat mengetahui bahwa Islam memiliki surah bernama Maryam, sementara agamanya tidak.
Tak ada lagi keraguan dalam hati Aziz untuk membantah kebenaran Islam saat itu. Tak ingin menunda, Aziz meminta diislamkan saat itu juga, dua minggu setelah ia merayakan Natal. Meski tak disaksikan siapapun selain Allah dan kawannya, Lianus Laia pun resmi berhijrah dengan nama Abdul Aziz Laia.
Pasca berislam, Aziz semakin menunjukkan perannya sebagai remaja masjid. Ia dipercaya sebagai ketua, diundang berbicara di berbagai masjid, dan menjadi penggagas pengajian khusus mualaf di Kecamatan Tualang Perawang, Siak, Riau. Selain itu, Aziz juga belajar membaca Alquran pada sang marbot yang mengislamkannya.
Hanya saja, Aziz merasa, ia tak banyak belajar banyak tentang Islam kala itu. Bahkan, ia malu karena tak juga mampu membaca Alquran. “Tak ada yang membimbingku mendalami agama. Namun di tengah kondisi itu, aku tak pernah absen untuk shalat berjamaah di masjid.”
Hingga akhirnya, ia bertemu seorang ustadz yang menyarankan Aziz untuk menimba ilmu agama di Jawa. Di luar dugaan, masyarakat Tualang Perawang mendukung dan bergotong royong menyiapkan biaya keberangkatannya. “Saya bertolak dari Riau dengan membawa uang sebesar 13 juta yang dikumpulkan oleh masyarakat. Subhanallah.”
Di Jawa, Aziz mula-mula menimba ilmu selama tiga bulan di sebuah pesantren di Pandeglang, kemudian setahun di Tasikmalaya. Dari kedua pesantren tersebut, Aziz merasa kebutuhannya sebagai mualaf tidak terpenuhi, dikarenakan tidak ada sistem pembimbingan khusus bagi mualaf seorang seperti dirinya.
Kondisi itu semakin parah karena Aziz mulai kehabisan bekal sehingga harus bekerja. Ia bekerja di klink pesantren dan hanya diperbolehkan ikut belajar bersama para siswa Aliyah setelah tugas-tugasnya selesai. Itupun tanpa terlibat aktif dan menerima rapor karena ia tak mampu membayar SPP. “Di kelas, aku hanya jadi pendengar.”
Solusi datang dari Allah saat ia bertemu seorang teman yang kemudian mengenalkannya pada seorang teman lain dari Medan. Dari teman yang terakhir, Aziz bertemu seorang mualaf yang mengelola pesantren khusus mualaf An-Naba’ Center, Syamsul Arifin Nababan.
Ustaz Nababan, demikian Aziz memanggilnya, mengizinkannya untuk tinggal di An-Naba’ Center dan mempelajari Islam tanpa dibebani kewajiban finansial. “Di sanalah aku mulai belajar Alquran secara intensif dan kemudian mulai menghafalnya.”
Atas perjuangan sang ustadz pula, Aziz dapat berkuliah di LIPIA . Di samping itu, semangat dakwah yang tinggi dalam dirinya mendorongnya untuk mendalami ilmu dakwah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta Selatan. Selain berkuliah, pria yang bercita-cita menjadi dai ini juga sibuk berdakwah di berbagai tempat.
Mengenai keislamannya, Aziz mengaku puas dan tenang. “Subhanallah, kehidupan menjadi sangat indah dengan Islam.” Keindahan itu, katanya, tidak akan ia gadaikan dengan apapun. “Diiming-imingi apapun, dan diancam dengan apapun, aku tidak akan meninggalkan agama ini. Jiwa ragaku untuk Islam,” tegasnya.
Tentang cita-citanya, Aziz mengaku akan terus mempersiapkan diri untuk itu. Sulung dari tujuh bersaudara ini bertekad untuk terus menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang ‘mumpuni’ di bidang agama. “Setelah lulus S2, aku akan kembali ke Nias dan berdakwah di sana.”

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/03/18/m12bd2-abdul-aziz-laia-bersyahadat-karena-kitab-suci-islam-memiliki-surah-maryam

Rabu, 14 Maret 2012

MTQ Kota Medan Ke 45 Tahun 2012

Tilawah Al-Qur'an dengan Riwayat Qolun dan Warsy ( Suroh An-Nahl: 77 - 79 )
Pada MTQ Ke 45 Kota Medan Tahun 2012
 Oleh: Qori' H. Darwin Hasibuan S.Pd.I

Klik pada Video untuk mendownload



Selasa, 06 Maret 2012

MTQ KOTA MEDAN


MTQ Nasional Ke 45 Kota Medan Tadi Malam Dibuka
Pelaksanaan MTQN ke 45 tingkat Kota Medan tadi malam (senin, 5 Maret 2012) secara resmi telah dibuka oleh Walikota Medan Drs. Rahutman Harahap MM. Pelaksanaan MTQ tersebut ditempatkan di Jl. Amal Kecamatan Medan Sunggal.
Pembukaan MTQ ke 45 tingkat Kota Medan kali ini sangat meriah seperti tahun-tahun sebelumnya,  walaupun pada acara pembukaan MTQ tersebut Kota Medan diguyur hujan, namun masyarakat tetap antusias untuk menghadirinya.
Walikota Medan dalam sambutan dan arahannya menyampaikan harapan bahwa melalui MTQ ini akan mampu membentuk karekter ummat menuju arah yang lebih baik  melalui pedoman dan penghayatan nilai-nilai isi kandungan Al-Qur’an, terutama dalam kaitan pembangunan kota Medan.
Walikota Medan juga berharap MTQ ini akan mendapatkan Qori’-Qori’ah yang potensial sebagai duta kota Medan untuk mengikuti MTQ tingkat Propinsi Sumatera Utara yang akan dilaksanakan di Kabupaten Serdang Bedagai.
Acara ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Al-Ustaz Jakfar Hasibuan sebagai Qori’ Internasional yang meraih sukses sebagai juara pertama pada MTQ Internasional di Iran tahun 2012.
MTQ kali ini dilaksanakan sejak tanggal 5 – 12 Maret 2012, dan hari ini ( selasa 6 maret 2012) adalah merupakan hari pertama dan para peserta mulai bermusabaqah sesuai dengan tingkat dan golongan masing-masing.
Semoga nilai-nilai dari isi kandungan Al-Qur’an akan senantiasa melekat dalam kehidupan ummat melalui semangat MTQ tahun ini.

Rabu, 15 Februari 2012

Jauhkan Diri Dari Sifat Sombong

Taubatnya Sang Dokter Dari Kesombongan
Seorang ayah yang jauh tinggal di pelosok Desa melihat ketekunan anaknya dalam belajar, anaknya termasuk anak yang pintar dan selalu mendapat nilai terbaik di sekolahnya. Setelah menammatkan pendidikannya di SMU, sang anak memohon kepada ayahnya agar membiayainya masuk Fakultas Kedokteran. Melihat kesungguhan sang anak, ayahnya-pun setuju agar anaknya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan memilih Fakultas kedokteran yang ia inginkan. Setiap bulan uang dikirim untuk biaya pendidikan anaknya, walaupun ia harus bantingtulang untuk mendapatkan biaya buat anaknya.
Beberapa tahun kemudian sang anak berhasil menjadi seorang dokter dan menjadi dokter ahli bedah yang terkenal.
Suatu hari ayahnya berkunjung ke kota ditempat anaknya tinggal. Esok harinya, pagi-pagi sekali sang anak sudah berangkat ketempat dia berkerja, rupanya hari itu dia me-operasi seorang pasien yang mengidap penyakit tumor. Sore harinya dia pulang dengan membawa daging tumor yang sudah dia angkat dari perut pasiennya. Lalu dia tunjukkan daging tumor tersebut kepada ayahnya sembari berkata kepada ayahnya dengan rada sombong; Ini anak ayah sudah jadi dokter yang hebat, tidak sia-sia ayah menyekolahkan aku, kalau bukan karena ilmu kedokteran yang aku kuasai, mana mungkin tumor yang sebesar ini bisa dikeluarkan dari perut pasien.
Mendengar ucapan sang anak, si ayah bukan gembira tapi malah bersedih sambil mengucap istighfar karena melihat kesombongan pada diri anaknya sembari berkata kepada anaknya; Ah… Kamu sombong anakku, ayah sekolahkan kamu tinggi-tinggi bukan bertujuan untuk menjadikan kamu anak yang sombong nak. Tapi sayang, kamu tadi tidak bilang pada ayah bahwa kamu akan mengoperasi pasien yang terserang tumor. Andai kamu tadi bilang tentu pasienmu itu tidak perlu di operasi. Jadi diapakan ayah….? Tanya sang anak. Ayahnya menjawab; Cukup ayah usap saja perutnya, insya Allah atas izin Allah tumornya akan hilang.
Rupanya ayahnya tergolong orang yang makbul do’anya dikarenakan ketekunannya beribadah kepada Allah. Orang-orang dikampungnya meyakini Bapak tersebut sudah sampai kepada derajat Wali di sisi Allah, sebab sudah banyak disaksikan masyarakat tentang kelibihan-kelebihan yang diberikan Allah kepadanya, namun dia tidak pernah sombong, bahkan selalu menunjukkan sikap tawadhu’(rendah hati). Itulah sebabnya saat melihat kesombongan pada diri anaknya, sang ayah merasa sangat bersedih.
Mendengar ucapan sang ayah yang mengatakan cukup hanya di usap perut si pasien, sang anak berkata; Mana mungkin bisa ayah, tidak masuk akal.
Menurut akal-mu boleh jadi tidak mungkin, tetapi ketahuilah anakku tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, jawab sang ayah.
Ayah…. Kata si anak dengan suara keras. Aku sudah membuktikan kemampuanku dan aku berhasil. Bisakah ayah buktikan ucapan ayah tadi?. Insya Allah kalau Allah mengizinkan anakku…….!
Ayahnya-pun bermunajat kepada Allah serta bermohon agar Allah menunjukkan kekuasaanNya kepada anaknya yang sudah menjadi sombong dengan ilmunya. Selesai bermunajat dan ber-do’a, sang ayah menyapu dengan tangannya kantong plastik yang berisi daging tomor tadi. Tak lama berlalu, gumpalan daging yang ada dalam kantong plastik tersebut berubah menjadi cairan dan hilang bersama tiupan angin yang berlalu.
Melihat kejadian itu mata si anak terbelalak keheranan sambil bertanya, kok bisa begitu ayah?. Sang ayah menjawab; Itulah kekuasaan Allah anakku. Sadarlah wahai anakku, bahwa ilmu yang kamu miliki itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Kamu tadi tidak akan berhasil mengoperasi pasienmu kalau tidak ada izin Allah, karena itu janganlah sombong wahai anakku. Sebagai ahli bedah seharusnya kamu selalu merasakan kebesaran Allah setiap melakukan operasi terhadap pasienmu dan imanmu harusnya bertambah terus. Kenapa harus begitu ayah? Tanya sang anak.
Betapa tidak? Sang ayah berucap….! Saat kamu membedah perut pasienmu tentu kamu melihat betapa besarnya kekuasaan Allah dalam menciptakan manusia yang di dalam tubuhnya tersusun jaringan-jaringan yang unik dari ciptaan Allah? bahkan sampai saat ini belum ada dokter di dunia ini yang mampu mengurai secara tuntas tentang jaringan yang ada dalam tubuh manusia. Karena itu, sekali lagi ayah katakan padamu, janganlah kamu sombong dengan ilmu-mu dan bertaubatlah kepada Allah, gunakanlah ilmu-mu itu untuk kabaikan dan menolong sesama manusia.
Mendengar petuah dan nasehat dari sang ayah si anak merenung secara mendalam, tak lama terlihat butiran-butiran air mengalir dari kedua mata membasahi pipinya dan ia menangis terisak-isak sembari menenggelamkan wajahnya di pangkuan ayahnya.
Melihat hal yang demikian sang ayah menyapu dengan lembut pundak sang anak sambil berkata; Ayah gembira melihat kamu bisa menangis, sebab itu adalah pertanda hatimu masih lembut dan masih bisa menerima nasehat.
Tanpa mereka sadari waktu maghrib pun tiba, sang ayah mengajak anaknya melaksanakan shalat meghrib berjama’ah dan dalam shalatnya sang anak tak mampu menahan sedih atas kesombongannya selama ini. Akhirnya dia larut dalam istighfarnya kepada Allah sampai waktu Isya’ menjelang. Sajadah tempat ia bersimpuh-pun basah terkena butiran-butiran air mata penyesalan.
Sejak saat itu sang anak selalu menunjukkan sikap tawadhu’ dan banyak membantu pasien yang memerlukan pertolongannya.
( Kisah ini Penulis sadur dari cerita Guru Penulis sendiri saat menempuh pendidikan di Al-Qismul ‘Ali  Al-Washliyah Sei. Rampah Kab. Serdang Bedagai, dan kisah ini terjadi di Kampung Guru tersebut ).

Selasa, 14 Februari 2012

Meneladani Kejujuran Nabi Muhammad SAW


Meneladani Kejujuran Nabi Muhammad
( Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1433H )
Nabi Muhammad adalah manusia paripurna yang layak untuk dijadikan teladan dalam kehidupan, terutama bagi ummat islam. Dari nukilan sejarah yang terangkum dalam kehidupannya dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad pantas dijadikan teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Baik sebagai ayah dalam keluarga, sebagai kepala pemerintahan dalam sebuah Negara, sebagai panglima perang dalam medan pertempuran, sebagai anggota masyarakat dalam kehidupan sosial, sebagai seorang hamba dalam pengabdiannya kepada sang khaliq, maupun lain-lain yang berkenaan dengan berbagai kehidupan.
Dari semua nilai-nilai kebaikan yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dalam kehidupannya, bila dikaitkan dengan kondisi kekinian di Indonesia ini, paling tidak satu hal dari keteladanan yang ada pada diri Nabi Muhammad perlu diterapkan secara kolektif dalam kehidupan berbangsa, yaitu; Kejujuran. Sebab salah satu sifat yang dikagumi dari diri beliau dari sejak beliau masih kanak-kanak sampai wafatnya adalah sifat jujur, sehingga kaum Quraisy bemberinya gelar “Al-Amin” (orang yang jujur, amanah dan dapat dipercaya).
Sifat jujur ini penting untuk digelorakan, diterapkankan dalam kehidupan seluruh bangsa Indonesia, terutama kalangan elitnya. Sebab pada kenyataannya sifat jujur ini cenderung diabaikan. Selain itu, kehidupan semakin keras dan penuh persaingan, akhirnya membawa kepada sikap pragmatis dengan menanggalkan kejujuran dan menghalalkan segala cara untuk meraih kemewahan dan kesenangan materi.
Di kalangan masyarakat bahkan ada pandangan, kalau berperilaku jujur dan lurus akan dijauhi, tidak disukai dan hidupnya susah. Katanya; jujur akan terbujur. Pandangan seperti ini harus dicegah dan dihentikan.
Dalam menerapkan kejujuran ada tiga tingkatan yang harus dilakukan:

Pertama: Jujur kepada Allah, yaitu menepati janji untuk taat terhadap semua perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Larangan Allah yang berkaitan dengan kejujuran ialah sifat munafik. Sifat minafik ditandai; apabila berbicara ia berbohong, kalau berjanji ia mengingkari janjinya, dan jika dipercaya ia berkhianat. Sifat-sifat munafik ini kelihatannya tumbuh subur dan sangat mengakar sekali.

Kedua: Jujur terhadap sesama manusia, yaitu menjaga sesuatu yang diterima dan menyampaikannya kepada yang berhak menerimanya. Kejujuran seperti ini sangat dituntut untuk dapat diterapkan terutama oleh para penguasa dan Ulama’ dalam membimbing masyarakat.

Ketiga: Jujur kepada diri sendiri. Allah telah membekali manusia dengan akal untuk membedakan yang hak dan batil. Pada tataran ini, banyak manusia yang mengkhianati dirinya sendiri dengan mengambil harta yang bukan miliknya. Prilaku seperti inilah yang membuat suburnya korupsi di tanah air ini.

Kesimpulan:
Dalam suasana memperingati Maulid tahun 1433 H ini, sejatinya bangsa Indonesia perlu kembali mendalami Sirah Nabawiyah (Perjalanan kehidupan Rasul ), untuk mengambil teladan bagi kehidupan kita, terutama yang berkenaan dengan kejujuran. Sebab dengan kejujuran yang betul-betul merakyat ditengah-tengah masyarakat dan pemimpinnya akan menghantarkan masyarakat di Negara ini menuju kesejahteraan,  kedamaian, dan ketenteraman. Apalagi mampu mengambil sisi-sisi lain dari suriteladan yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW.