Pembagian Tauhid
1.Tauhid RububiyahPengertian tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya,dengan keyakinan bahwa Dialah satu-satunya Pencipta, Penguasa, Pengatur segala urusan alam semesta. Dalam bagian tauhid yang satu ini, seluruh manusia dari anak cucu Adam, tidak ada yang mengingkarinya kecuali hanya sebagian kecil dan sangat jarang. Bahkan hati manusia telah diberikan fitrah agar mengakui dan meyakini (bahwa Dia-lah Tuhan sekalian alam) melebihi keyakinannya kepada selain-Nya (yang ada di dalam alam semesta ini).
Akan tetapi bagian tauhid ini belum memadai atau mencukupi untuk menjadikan seseorang sebagai orang yang bertauhid di hadapan Tuhannya, kecuali setelah Allah memberikannya hidayah kepada dua bagian tauhid lainnya, yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid asma` wa shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Hal ini dikarenakan Allah subhanahu wa ta'ala telah mengabarkan kepada manusia melalui kitab-Nya, bahwa kaum musyrikin juga mengakui dan meyakini bagian tauhid rububiyah ini. Akan tetapi, keyakinan dan pengakuan mereka tersebut sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, dikarenakan mereka belum mengesakan Allah dalam ibadah, (yaitu pengertian dari tauhid Uluhiyah).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ''Kalaulah bagian tauhid ini (tauhid rububiyah) dapat menyelamatkan manusia dengan sendirinya, maka akan selamat pulalah kaum musyrikin. Oleh karena itu, tauhid uluhiyahlah yang menjadi pembeda dan pemisah antara kaum musyrikin dan kaum muwwahhidin (kaum yang bertauhid)'' [Madaarijus Salikiin (1/324)].
2. Tauhid UluhiyahPengertian tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah, maka tidak boleh (haram) seorang hamba mendirikan shalat, berdoa, berkorban (menyembelih hewan) kecuali hanya untuk Allah, dan tidak pula thawaf kecuali di rumah-Nya (ka`bah), dan tidak pula meminta kepada orang yang telah meninggal (mayat) dan kepada sesuatu yang gha'ib selain Allah, dan tidak pula bertawakkal kecuali hanya kepada Sang Pemilik segala urusan dan ciptaan, Zat yang mempunyai sifat uluhiyah, yaitu (sifat yang merupakan bagian dari) sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang tidak dimiliki oleh selain-Nya. Oleh karena itu, tidak boleh (haram) bagi seorang hamba menyerahkan apapun dari jenis ibadahnya kepada selain Allah. Hanya Allah yang berhak memiliki (ibadah hamba-Nya), adapun selain-Nya (maka tidak berhak sedikitpun). Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi misi dakwah semua rasul Allah,
Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴿٣٦﴾
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS An-Nahl : 36).
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَArtinya : ''Katakanlah: "Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.'' (QS Az- Zumar : 11)
Seluruh rasul (yang Allah utus kemuka bumi ini), memulai dakwah terhadap kaum mereka dengan perintah untuk mengesakan Allah dalam segala ibadah, (yaitu pengertian dari tauhid Uluhiyah). Sebagaimana perkataan Nabi Hud :
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ ﴿٦٥﴾
Artinya : " Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"." (QS Al-A'raf : 65)
Oleh karena itu, para rasul menjadikan bagian tauhid ini sebagai misi dakwah mereka, karena bagian tauhid ini adalah bagian paling asas (pondasi) yang akan dibangun di atasnya seluruh bagian dari amal ibadah, maka tanpa menguatkan dan memperkokoh asas (pondasi) tersebut tidak akan sah seluruh amalan (yang dikerjakan oleh seorang hamba). Oleh karena itu, jika tauhid ini belum terwujud maka akan muncul lawan dari tauhid tersebut, yaitu syirik.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً ﴿١١٦﴾
Artinya: '' Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya..'' (QS An-Nisa' : 48 dan 117).
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿٨٨﴾
Artinya: ''Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan.'' (QS Al-An'am :88)
Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi kewajiban yang paling pertama bagi seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿١٥١﴾
Artinya : '' Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).,'' (QS Al-An'am : 151)
3. Tauhid Asma` wa ShifatPengertian tauhid asma` wa shifat adalah iman terhadap seluruh nama dan sifat yang telah Allah tetapkan atas dirinya, dengan tidak men-tasybih-kan (menyerupakan dengan makhluk), men-tamtsil-kan (membuat permisalan dengan makhluk), men-ta`thil-kan (meniadakan sifat), men-tahrif-kan (mengubah huruf atau makna), dan tidak pula men-takyif-kan (menggambarkan bentuk) nama dan sifat yang dimiliki oleh Allah tersebut.
Dialah Allah yang memiliki nama dan sifat-Nya yang mulia dan sempurna, Yang Maha Suci dari sifat kekurangan dan penyerupaan (dengan makhluk-Nya) dan tidak ada pula yang mampu menandingi kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, wajib bagi seorang muslimin menetapkan seluruh apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya yang tedapat dalam Al-Qur'an atau melalui lisan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿١٨٠﴾
Artinya : " Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.." (QS Al-A'raf : 180).
Jadi, seorang muslim wajib menetapkan dan meyakini dalam hidupnya seluruh nama-nama yang baik dan sifat sifat yang mulia bagi Allah sesuai dengan yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Dan dia mengenal-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat tersebut.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ''Pengetahuan tentang zat (Allah) serta seluruh sifat dan perbuatan-Nya, akan mendatangkan ilmu (pengetahuan) terhadap hal selain-Nya. Oleh karena itu, secara zat-Nya, Dialah Tuhan sekalian alam dan Penguasanya, maka ilmu (pengetahuan) ini merupakan asal dari setiap ilmu lainnya. Jadi, barang siapa mengenal Allah maka ia akan mengetahui selain-Nya, dan barang siapa yang bodoh terhadap Tuhannya maka dia akan lebih bodoh lagi dengan hal selain Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿١٩﴾
Artinya : " Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.." (QS Al-Hasyr : 19)
Renungilah ayat ini, maka akan di dapati makna yang sangat mulia dan agung, yaitu sesungguhnya barangsiapa yang lupa kepada Tuhannya maka dia telah melupakan zat dan dirinya sendiri, serta dia belum mengetahui hakikat dirinya dan maslahat-maslahat (bagi dirinya sendiri), bahkan ia lupa dimana letak kebaikan dan keberhasilan bagi dirinya dalam kehidupannya di dunia ini dan di tempat ia akan kembali kelak. Sehingga ia menjadi orang mu`aththil (orang yang meniadakan nama dan sifat Allah) dalam hidupnya, dia akan menjadi hina, yang derajatnya bisah sama dengan hewan-hewan ternak. Bahkan bisa jadi hewan-hewan tersebut lebih mengetahui maslahat-maslahatnya (dari orang tersebut)……dan maksud bahwa ilmu (pengetahuan) terhadap Allah merupakan asal mula seluruh ilmu adalah bahwa ilmu tersebut akan mampu memberikan kebahagiaan, kesempurnaan dan manfaat bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata, ''Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah yang beribadah dengan segala nama dan sifat yang diketahui oleh manusia'' [ MadaarijusSaalikiin (1/420) ].
Pengetahuan seorang hamba terhadap Tuhannya akan mewariskan sifat malu kepada hamba tersebut yang datangnya dari Allah, dan juga kecintaan kepada-Nya, serta hati yang selalu terikat kepada-Nya, kerinduan dengan perjumpaan-Nya, kesenangan kepada-Nya, selalu taubat kepada-Nya, takut kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya.Manusia berbeda-beda dalam mengenal Allah. Tidak ada yang mengenalnya kecuali orang-orang yang Allah kenalkan diri-Nya kepada mereka dan (orang-orang) yang Allah bukakan hati-hati mereka untuk mengenal apa-apa yang tersembunyi dari selain diri mereka.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ''Kecintaan dan kerinduan tergantung pada ilmu dan pengetahuan terhadap-Nya. Sejauh mana ilmu terhadap-Nya bertambah, maka sejauh itu pulalah kecintaan kepada-Nya akan bertambah sempurna...Barang siapa yang lebih mengenal Allah beserta seluruh nama dan sifat-Nya maka ia akan semakin lebih cinta kepada-Nya dan semakin sempurna pula kenikmatan untuk sampai pada-Nya, berhadapan dengan-Nya serta melihat wajahnya dan mendengar perkataan-Nya… (Jadi kesimpulannya adalah) letak kesempurnaan seorang hamba adalah dalam dua kekuatan ini: ilmu dan cinta, maka ilmu yang paling utama adalah ilmu (pengetahuan) kepada Allah dan cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada-Nya dan kenikmatan yang paling sempurna adalah kenikmatan yang disebabkan oleh keduanya (ilmu dan cinta).
Malik bin dinar rahimahullah berkata, "(Ada sebagian) penghuni dunia keluar (meninggalkan) dunia yang ia tempati, akan tetapi ia belum pernah merasakan sesuatu yang paling indah di dalamnya. maka sebagian orang bertanya, "Apakah itu Ya Abu Yahya?" Ia berkata, "ma`rifatullah (Mengenal Allah) `azza wa jalla " .
Dan apabila Anda menelaah Al-Qur’an, maka hampir keseluruhan ayat –yang terdapat di dalamnya- diakhiri dengan penyebutan sebagian dari nama-nama Allah `azza wa jalla atau sebagian dari sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Seperti beberapa firman Allah di bawah ini:
Artinya : "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat : 14)
Artinya :"Dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS Al-Fath : 4)
Artinya : "Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." (QS Al-Baqarah : 235)
Artinya : "Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS At-Taghabun : 6)
Seluruh yang terdapat dalam ayat ini yang berupa nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia akan memberikan pengaruh di dalam hati seorang yang mengetahuinya, sehingga Allah (akan senantiasa) mengawasinya dalam segala urusannya. Dengan demikian, sempurnalah kecintaan, ketakutannya, dan pengharapannya kepada Allah.
Oleh karena itu ketika Nuh `alaihissalam berdakwah kepada kaumnya, tetapi mereka (kaum Nuh) tidak memenuhi dakwahnya karena beliau mengetahui bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan terhadap kebesaran Allah.
Allah berfirman : مَّا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَاراً ﴿١٣﴾
Artinya : "Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?" (QS Nuh : 13)
Ibnu Abbas berkata dalam menafsirkan ayat ini, "Apakah yang menyebabkan kalian tidak memuliakan Allah dengan memberikan hak-Nya yang mulia sebagaimana mestinya?" Sesungguhnya apabila makhluk memuliakan Allah maka mereka pasti tidak akan berbuat syirik kepada selain Allah, karena seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Jadi, bagaimana bisa mereka berlindung kepada selain-Nya?! Dan segala bentuk keburukan akan tertolak dari mereka dikarenakan kekuatan, keperkasaan dan kekuasaan-Nya. Bagaimana bisa mereka percaya kepada selain Allah?
Apabila makhluk memuliakan Tuhan mereka, maka akan hadir perasaan takut kepada-Nya dari dalam hati mereka sehingga tidak akan didapati dari mereka yang berbuat kemaksiatan. Perasaan takut itulah yang menghalanginya dari hal-hal yang menyebabkan kemarahan Allah. Oleh karena itu, tidaklah seseorang berbuat maksiat kepada Allah kecuali dia itu termasuk orang-orag yang tidak mengagungkan-Nya sebagaimana mestinya.
Dari Abul-'Aliah, dia berkata, "Dulu sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Seluruh perbuatan dosa yang dilakukan seorang hamba adalah akibat kebodohannya." Maksud kebodohan di sini adalah kebodohan tentang Allah. Ini menunjukkan pemahaman sahabat radhiallahu ‘anhum ajma`iin tentang kitabullah azza wa jalla sangat mendalam
Nabi Yusuf berkata,
وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ
Artinya : "Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu Aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah Aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS Yusuf : 33).
Maka atas dasar ini semua, seorang hamba memiliki kewajiban agar tidak mengurangi sedikitpun dari hak Tuhannya, dan dia juga harus mengetahui bahwa setiap kali ia memuliakan hak Allah maka ia juga akan dimuliakan di mata Allah, dan ia akan menjadi manusia yang bahagia di dunia dan akhirat.Allah berfirman :
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الارْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾
Artinya : "Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nur :55).
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Januari 2011
PENTINGNYA ILMU TAUHID
Minggu, 16 Januari 2011
HIDUPLAH DENGAN IMAN, ISTIQOMAHLAH DALAM IBADAH
Setiap pribadi muslim hendaknya memiliki iman yang kokoh kepada Allah dan tetap istiqmah dalam berbuat ketaatan. Dalam hal ini ada lima hal yang harus melekat selalu dalam kehidupan setiap pribadi muslim. Lima hal tersebut terangkum dalam rumus 5 M.
1. Muhasabah (Intropeksi diri).Manusia adalah makhluk yang sangat memerlukan evaluasi diri dan penilaian ulang. Kehidupannya, baik yang bersifat individual maupun sosial, sangat perlu diperhatikan. Itu tak lain karena sisi spiritual dan intelektual selalu berubah-ubah. Cepat terwarnai dengan keadaan yang menyertainya. Hari ini baik, besok bisa sangat baik. Atau hari ini sangat baik, besok mungkin saja sangat tidak baik. Disinilah perlunya kita intropeksi diri (muhasabah), agar kebaikan tetap bisa kita pertahankan. Sebab kita tak pernah tahu kapan kita akan dimatikan. Hidup dan mati kita Allahlah yang mengatur, yang kita tahu adalah bahwa setiap kita pasti akan mati.
Seorang muslim harusnya sangat menyadari, bahwa apapun yang dilakukannya kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Dan menyadari pula bahwa setiap hembusan nafasnya adalah mutiara yang sangat bernilai. Maka seharusnya ia tidak menyia-nyiakan walaupun sesaat.
Ketahuilah……! Kepentingan menghisab diri ini kita lakukan untuk mengetahui dua hal, yaitu:
Pertama: untuk mengetahui segala aib diri, apakah kebaikan yang telah kita lakukan lebih banyak dari pada keburukan, atau sebaliknya.Kedua: untuk mengetahui hak Allah terhadap kita. Apakah kewajiban kita sebagai hamba Allah sudah disempurnakan ataukah dilalaikan. Dari dua kesadaran ini akan lahir kepribadian yang istiqomah dan sikap mental yang tidak mudah melemah.
Terkait dengan muhasabah, Hasan al-Basyri pernah berkata: “Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia menghisab dirinya karena Allah. Karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah menghisab dirinya di dunia. Hal senada juga pernah di ungkapan oleh Umar bin Khaththab; “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari” (Di riwayatkan dari Imam Ahmad dan At-Tarmidzi secara mauquq dari Umar bin Khaththab).
2. Muroqobah ( Selalu Merasa diawasi Allah)Orang yang sadar bahwa Allah selalu mengawasi hidupnya, maka ia akan terbentengi dari kesalahan dan dosa. Rasa khauf (takut) selalu menyelimutinya bila ia melakukan kesalahan. Khauf (rasa takut) akan membakar syahwat yang diharamkan Allah, sehingga kemaksiatan yang dulu disukai jadi dibenci.
Kesombongan yang dulu dipertahankan berubah menjadi ketawadhuan, Ia selalu waspada terhadap langkah, pikiran dan kalimat yang keluar dari dirinya. Ia menyadari betul tentang firman Allah di bawah ini:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾ مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴿١٨﴾
Artinya : 016. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,017. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.018. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.( Qs Qaf [50]:16-18)
Hamba yang selalu bermuroqobah adalah orang yang memiliki kecerdasan ruhiyah yang tinggi. Kesadaran itu dibangun berdasarkan pemikiran yang cerdas, karena ia sangat menyadari bahwa hidup akan mempunyai makna apabila ruang tempat berpijak adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk dirinya dan kemudian dia pertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٢٧﴾
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.( Q. S. Al-Anfal :27)
Ketahuilah……..! Islam memandang amanat sebagai suatu yang amat berharga, sekecil apapun amanah yang kita terima, wajib kita jaga dengan baik dan kita sampaikan kealamatnya secara konsisten. Karena dengan memandang kecil sebuah amanat, kita akan terbiasa memandang amanat itu sebagai hal yang tidak berarti. Sehinga amanat yang besarpun akan kita anggap sebagai amanat yang sepele.
3. Mu’ahadah (selalu mengingat perjanjian dengan Allah SWT)
Kesadaran kita bahwa hidup bukan sekedar ada tetapi karena ada yang mengadakannya, adalah sikap dan sifat seorang muslim sejati. Allah menghidupkan kita dengan fasilitas yang diberikan-Nya bukanlah tanpa tujuan. Dan tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya.
Dan hanya Allah sajalah yang harus kita pertuhankan, karena inilah inti kehidupan; yaitu mempertuhankan Allah dan tidak boleh menyekutukan- Nya dengan sesuatupun. Inilah perjanjian yang harus selalu kita ingat, sebagaimana di ungkapan oleh Allah:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢﴾Artinya : “Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab. “Betul (engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kesesaan Tuhan)”.(Qs. Al-A’raf [7]:172).
Manusia dengan segala keberhasilan dunia yang diraihnya tidaklah kemudian menjadi mulia, manakala ia merasa bahwa apapun yang diraihnya adalah hasil usahanya sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain.
Sadarilah, kita bisa disebut kaya karena ada yang miskin. Kita disebut cantik karena ada yang jelek. Dan kita juga bisa disebut baik (mulia), karena ada yang buruk. Kemudian ketahuilah, tidaklah orang lain memuliakan kita, kecuali karena Allah yang menghendaki.
Karena itu jangan merasa diri lebih mulia dari orang lain, karena itu adalah kebodohan. Sebab hanya orang bodohlah yang merasa dirinya tidak perlu membutuhkan bantuan. Dan ketika rasa itu mendominasi dirinya, maka kecenderungan menyekutukan Allah nampak semakin sempurna.
Maka kesadaran; bahwa Allah sebagai Tuhan dan hanya kepada Allah segalanya dikembalikan adalah buah dari kecerdasan pikiran yang lahir dari keimanan.
Ingatlah selalu akan perjanjian kita dengan Allah yaitu untuk selalu beribadah hanya kepada-Nya. Jangan berpaling dari syariat-Nya dan tidak mendustai kebenaran yang di turunkannya (al-Qur’an).
4. Mu’aqobah ( Memberi sangsi ketika lalai beribadah)
Memberikan sanksi (‘iqob ) ketika kita lalai beribadah memang sesuatu yang tidak mudah. Dibutuhkan kesadaran diri yang prima dan keimanan yang sempurna. Hanya orang-orang yang mendapat rahmat dari Allah sajalah yang dapat melakukannya.
Seringnya kita membiarkan kelalaian akan menghadirkan sikap meremehkan kesalahan. Dan lambat laun, ketika kesalahan sudah menjadi kebiasaan, maka dorongan melaksanakan ketaatan akan semakin hilang. Bahkan membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah kesalahan-kesalahan yang lain.Disinilah pentingnya kita meng’iqob (memberikan sangsi) kepada diri agar jiwa terselamatkan dari dosa. Sanksi yang dimaksud disini adalah; apabila kita menemukan kesalahan maka tidak pantas bagi kita untuk membiarkannya.
Bentuk pemberian sanksi tentu saja harus yang mubah dan tidak boleh berlebihan, apalagi sampai membahayakan diri. Seperti memukul kepala karena tidak sholat subuh. Atau membakar diri karena asyiknya nonton TV hingga lupa sholat Isya. Tentu saja tidak seperti itu.
Sebuah perilaku yang dapat kita jadikan contoh adalah; seperti kebiasaan pada generasi sahabat atau para salaf yang meng ‘iqob diri secara langsung ketika mereka melakukan kekhilafan, misalanya: dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Umar bin Khaththab pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan sholat Ashar. Maka beliau berkata: “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sholat Ashar!..kini kebunku aku jadikan shodaqoh untuk orang-orang miskin.
Subhanallah. Bagaimana dengan kita, bisakah kita mencontoh Umar, sudah berapa seringkah kita melalaikan kewajiban. Tetapi adakah kita pernah meng’iqob diri karena banyaknya kekhilafan itu ?
5. Mujahadah (adanya kesungguhan dalam ibadah).Ibadah adalah alasan Allah menciptakan manusia. Karena untuk itulah kita hidup dan di hidupkan. Kita hidup bukanlah sedekar hidup, tetapi harus mentaati aturan yang maha hidup, Dialah Allah. Bahkan ibadah adalah inti hidup, orang yang tidak punya orientasi ibadah dalam hidup seperti orang yang melakukan perjalanan tanpa tujuan,
Bermujahadah artinya bersungguh-sungguh dalam melaksanatan ketaatan dalam rangka menjemput keridhoan Allah. Hingga akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan, bukan sebuah beban yang memberatkan.
Sa’id Musfar Al-Qahthani mengatakan; Mujahadah berarti mencurahkan segenap usaha dan kemampuan dalam mempergunakan potensi diri untuk taat kepada Allah dan apa-apa yang bermanfaat bagi diri saat sekarang dan akan datang, dan mencegah apa-apa yang membahayakannya.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Qs. Al-Ankabut:69)Sadarlah………! Bangkitnya seseorang dari kelemahan kepada semangat, dari kemaksiatan kepada taat, dari kebodohan kepada ilmu, dan dari keraguan kepada yakin; adalah ciri dari orang-orang yang bermujahadah. Selalu ingin mengoptimalkan nilai-nilai kebenaran dalam setiap gerak kehidupan.
Dengan melakukan rumus 5 M di atas, Insya Allah nilai kehidupan yang kita jalani akan semakin berarti. Sebab dengan Muhasabah kita selalu memperbaiki segala yang salah. Dengan Muroqobah kita selalu merasa keagungan Allah. Dengan Mu’ahadah kita tetap akan istiqomah. Dengan Mu’aqobah kita dapat mengurangi beban dari rasa bersalah dan dengan Mujahadah kehidupan kita akan selalu dipermudah.Ketahuilah……….! Bahwa buah pelaksanaan 5 M ini adalah 5 C . yaitu: Comitment, Confident, consisten, consquent dan creative.1. Comitment adalah keyakinan kokoh yang menggerakan prilaku menuju arah yang di yakini (I’tikad).2. Consistence adalah kemampuan untuk bersikap secara taat azaz, pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsif kebenaran yang diyakininya betapapun harus membahayakan dirinya.3. Consequence, adalah keberanian menerima konsekwensi dari keputusan yang di ambilnya. Baginya hidup adalah pilihan yang harus di pertanggung jawabkan.4. Confidence adalah sikap percaya diri yang lahir dari kekuatan keyakinan dan sifat ini merupakan kematangan berpikir dari jiwa yang istiqomah5. Creative, adalah sikap yang tak pernah lelah melalukan kebaikan, selalu saja ada aktivitas yang membuat dirinya semakin maju selangkah demi selangkah namun pasti. Dan kreatiptas ini menjadikan seorang mukmin selalu menangkap sinyal kebaikan dalam setiap efisode hidup yang di jalaninya.
Bangkitnya seseorang dari kelemahan kepada semangat, dari kemaksiatan kepada taat, dari kebodohan kepada ilmu, dan dari keraguan kepada yakin, adalah ciri dari orang-orang yang bermujahadah( sungguh-sungguh) Selalu ingin mengoptimalkan nilai-nilai kebenaran dalam setiap gerak kehidupan.
Akhirnya kita berdoa kepada Allah:“ Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dalam pandangan kami, dan berilah kemampuan kepada kami untuk dapat menjalankan kebenaran itu. Tunjukkan pula kepada kami yang salah itu salah dalam pandangan kami, dan berikan pula kepada kami kekuatan agar kami dapat menjauhkan diri dari kesalahan itu”.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
Langganan:
Postingan (Atom)

