Pelaksanaan Shalat Idul Adha 1432 Hdi Lapangan Merdeka Medan
Ribuan ummat islam di Medan kemarin ( 6 Nopember 2011 ) memadati lapangan Merdeka Medan dalam rangka melaksanakan shalat Idul Adha 1432 H.Bertindak sebagai Imam dalam pelaksanaan shalat Idul Adha tersebut Al-Ustaz Jakfar Hasibuan, Qori Sumatera Utara. Al-Ustaz Jakfar Hasibuan adalah salah seorang pengurus “Wadah Silaturrahmi Qori’ Qori’ah” Sumatera Utara. Sedangkan yang bertindak sebagai khatib adalah Al-ustaz Saidurrahman ( Pembantu Dekan I Fakultas Syariah IAIN Sumatera Utara ).Khatib menyampaikan dalam khutbahnya bahwa kurban yang dilaksanakan ummat islam bukanlah dinilai dari berapa daging dan darah dari hewan yang dikurbankan, tapi kurban tersebut dinilai dari sejauhmana nilai ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.Dalam khutbahnya, khatib juga mengimbau agar seluruh jamaah senantiasa meneladani sikap yang ditunjukkan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail dan Siti Hajar dalam hal menjunjung tinggi perintah Allah.Pada kesempatan tersebut, khatib mengingatkan agar perayaan Idul Adha dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan aqidah kepada Allah SWT, yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga hingga ke lingkup yang lebih besar dengan meningkatkan ketauhidan. Kemudian meningkatkan kepedulian sosial dengan berbagi rasa kepada sesama dengan dasar kemauan dan kemampuan untuk berkurban yang dilandasi dengan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah SWT.Hadir dalam pelaksanaan shalat Id tersebut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan Walikota Medan Rahudman Harahap serta sejumlah unsur Forum Komunikasi Piminan Daerah (FKPD) Sumut dan Kota Medan serta ribuan masyarakat Kota Medan.
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 November 2011
Shalat Idul Adha 1432 H di Medan
Minggu, 06 November 2011
KEGIATAN JAMA'AH HAJI DI MINA
KEGIATAN JAMA’AH HAJI SELAMA BERADA DI MINASetelah melaksanakan wukuf di Padang Arafah, dan setelah melaksanakan Mabit di Muzdalifah, maka jama'ah haji berangkat ke Mina. Adapun kegiatan ibadah haji yang akan dilaksanakan oleh para jama'ah haji selama mereka berada di Mina adalah sebagai berikut:Pada tanggal 10 Dzulhijjah, kegiatan ibadah yang dilaksanakan oleh jama’ah haji adalah melontar Jumrah ‘Aqabah dengan tujuh buah batu.Kemudian setelah selesai melontar Jumrah 'Aqabah, jama’ah haji dapat bertahallul, yang ditandai dengan memotong rambut atau bercukur. Namun yang terbaik (Afdhal) adalah bercukur, dan tahallul ini disebut dengan tahallul awal.Dengan terlaksananya tahallul awal ini, maka jama’ah haji sudah boleh mengganti pakaian ihramnya dengan pakaian biasa, dan sudah terbebas dari larangan yang ada pada saat masih ber-ihram kecuali satu hal, yaitu melakukan hubungan suami isteri.Untuk selanjutnya pada tanggal 11 Dzulhijjah jama’ah haji kembali melontar Jumrah, kali ini yang dilontar adalah ketiga Jumrah yaitu, Jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah yang masing-masing Jumrah dolontar dengan tujuh buah batu.Melontar ketiga Jumrah tersebut diawali dengan melontar Jumrah Ula, kemudian Wustha dan berikutnya Jumrah ‘Aqabah. Pelaksanaan melontar jumrah pada tanggal 11 dan tanggal berikutnya, jama'ah haji sudah memakai pakain biasa, sebab sudah bertahallul pada saat selesai melontar Jumrah 'Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah.Selanjutnya pada tanggal 12 Dzulhijjah jama’ah haji kembali melontar Jumrah. Pelaksanaan melontar Jumrah pada tanggal 12 Dzulhijjah ini sama seperti pelaksanaan melontar Jumrah pada tanggal 11 Dzulhijjah.Bagi jama’ah yang memilih Nafar awal, setelah selesai melontar Jumrah pada tanggal 12 Dzulhijjah dapat meninggalkan Mina untuk kembali ke Makkah sebelum matahari tenggelam dan tidak lagi melontar pada tanggal 13 Dzulhijjah.Bagi Jama’ah yang memilih Nafar Tsani masih tetap berada di Mina untuk menginap satu malam lagi, dan pada tanggal 13 Dzulhijjah kembali melontar ketiga-tiga Jumrah, setelah selesai melontar pada tanggal 13 Dzulhijjah tersebut, jama’ah haji baru meninggalkan Mina untuk kembali ke Makkah.Dalam hal adanya pilihan untuk Nafar awal atau Nafar Tsani bagi jama'ah haji, adalah berlandaskan kepada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 203 :وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَArtinya: “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya“.
Senin, 31 Oktober 2011
NILAI-NILAI SUFISTIK IBADAH HAJI
NILAI-NILAI SUFISTIK IBADAH HAJII. Ibadah Haji Dapat Ditinjau Dari Dua Sisi:
- Syari’at ( Makna formal ), menyangkut masalah syarat, wajib dan rukun haji yang berkaitan dengan penilaian sah atau tidaknya ibadah haji seseorang.
- Hakikat ( Makna bathin ), menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan makna ibadah secara bathiniyah untuk dapat merasakan hikmah dari nilai-nilai ibadah dalam kehidupan seseorang, dan diharapkan dapat membentuk kepribadian yang baik lewat tempaan ibadah yang dilaksanakan, karena itu pendekatan ibadah melalui nilai-nilai bathiniyah sangat penting, karena secara mendasar dapat merasakan nilai-nilai sufistik dalam ibadah tersebut.
II. Proses Sederhana Dalam Pelaksanaan Ibadah Haji:
- Memenuhi undangan Allah
- Praktikum menjadi hamba Allah yang sempurna
- Geladi resih mempersiapkan diri untuk menghadap kepada Allah yang sesungguhnya.
III. Tahapan Kegiatan Pelaksanaan Ibadah Haji:
- Buka dan ganti pakaian kebesaran dengan pakaian kematian.
- Mandi dan sucikanlah badan sebagai persiapan untuk pensucian jiwa.
- Gunakan pakaian ihrom, karena itulah pakaian yang sesungguhnya.
- Shalatlah dua raka’at dan mantapkan tekad.
- Pasang niat, kuatkan ikrar.
- Kumandangkan Talbiyah sebagai tanda menyahuti panggilan Allah dan sebagai tanda pengukuhan tujuan anda datang.
- Laksanakan Thawaf di Ka’bah mulia untuk sadarkan diri bahwa tujuh hari dalam seminggu harus di isi dengan nilai-nilai ketaatan.
- Laksanakan Sa’i antara Bukit Shofa dan Marwah dengan menyadari bahwa hidup harus penuh dengan perjuangan.
- Sadarkan diri saat wukuf di Padang Arofah bahwa wukuf di Padang Arofah adalah tamsilan bentuk miniatur kehidupan Padang Mahsyar.
- Melontar Jumroh di Mina sebagai lambang membuang jauh-jauh nafsu syaitoniah dari dalam diri kita.
- Melaksanakan Thawaf Wada’ (perpisahan), untuk menyadarkan diri bahwa setiap perpisahan hendaknya bernilai dengan kebaikan. Terlebih pada saat berpisah dengan dunia, sejatinya kita dalam keadaan husnul Khotimah.
Langganan:
Postingan (Atom)



