Selasa, 18 Januari 2011

Kebohongan Baru Pemerintah


SBY. Bertemu Tokoh Lintas Agama.
Inilah 9 Kebohongan Baru Pemerintah
Selain menyampaikan pernyataan terkait sembilan kebohongan lama pemerintah, tokoh-tokoh lintas agama dan pemuda juga membacakan sembilan kebohongan baru pemerintah yang terjadi sepanjang 2010. Hal itu disampaikan Senin (10/1/2011) di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta.
Sembilan kebohongan baru pemerintah itu berkenaan dengan kebebasan beragama; kebebasan pers; perlindungan terhadap TKI-pekerja migran; transparansi pemerintahan, pemberantasan korupsi; pengusutan rekening mencurigakan (gendut) perwira polisi; politik yang bersih, santun, beretika; kasus mafia hukum yang salah satunya adalah kasus Gayus H Tambunan; dan terkait kedaulatan NKRI.
Salah seorang pemuda, Riza Damanik, menyampaikan, kebohongan pertama pemerintah adalah saat presiden berpidato pada 17 Agustus 2010 yang isinya menjunjung tinggi pluralisme, toleransi, dan kebebasan beragama. Padahal kenyataannya, janji tersebut tidak terpenuhi.
Sepanjang 2010 terjadi 33 penyerangan fisik atas nama agama. "Mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengatakan, 2009 terjadi 40 kasus kekerasan ormas, 2010 menjadi 49 kasus," katanya.
Kebohongan kedua, terkait kebebasan pers. Presiden menjanjikan jaminan terhadap kebebasan pers dan kepolisian berjanji akan menindak tegas setiap kasus kekerasan terhadap insan pers. "Namun, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mencatat selama 2010 kasus kekerasan pers sebanyak 66 kasus meningkat dari 2009 yang 56 kasus," kata Riza.
Ketiga, kebohongan terkait perlindungan terhadap TKI atau pekerja migran. Presiden berjanji akan melengkapi TKI dengan telepon genggam agar tidak terjadi ketertutupan informasi, tetapi nyatanya, telpon genggam tidak juga diberikan dan memorandum untuk melindungi para TKI tidak juga dilakukan.
Keempat, terkait transparansi pemerintahan. Aktivis pemuda, Stefanus Gusma, membacakan, Presiden SBY menyatakan bahwa kepindahan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke Bank Dunia adalah atas dasar permintaan Bank Dunia. Namun, di sebuah media nasional diungkapkan bahwa kepindahan Sri Mulyani sesungguhnya merupakan paksaan dari Presiden. Seorang pejabat Kementerian Keuangan mengatakan, Sri Mulyani tidak pernah berniat mengundurkan diri.
Kelima, lanjut Gusma, terkait pemberantasan korupsi. Presiden berkali-kali berjanji akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi di Indonesia. "Namun, riset ICW, dari pernyataan SBY yang mendukung korupsi, hanya 24 persen yang terlaksana," katanya.
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, melanjutkan, kebohongan keenam pemerintah adalah pengusutan rekening gendut para pewira Polri. Presiden menginstruksikan jika ada pelanggaran hukum, yang terkait harus diberikan sanksi. Jika tidak, Kapolri harus menjelaskan kepada masyarakat.
Namun kenyataannya, kata Haris, sampai saat ini baik masalah rekening gendut maupun pelaku penganiayaan aktivis ICW Tama S Langkan masih misterius. "Bahkan 7 Agustus 2010 dan 29 Desember 2010 dua Kapolri mengatakan, kasus ini ditutup," katanya.
Kebohongan ketujuh, Presiden menjanjikan politik yang bersih, santun, dan beretika. Padahal kenyataannya, lanjut Haris, hingga kini, Andi Nurpati masih menjadi pengurus Partai Demokrat meskipun sudah diberhentikan tidak hormat oleh Dewan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Andi Nurpati melanggar peraturan KPU," imbuhnya.
Kedelapan, lanjut aktivis ICW, Tama S Langkun, terkait kasus mafia hukum. Kapolri Jenderal Timur Pradopo berjanji menyelesaikan kasus pelesiran terdakwa mafia pajak Gayus H Tambunan dalam 10 hari. Tapi kenyataannya tidak ada keterangan pers tentang hal tersebut.
"Kapan Gayus keluar, pergi naik apa, dengan siapa, aktivitasnya, sekarang malah mencuat kasus baru, Gayus pelesir ke luar negeri," kata Tama.
Dan kesembilan, kebohongan pemerintah menyangkut kedaulatan NKRI. Pada 1 September di Mabes TNI Cilangkap Presiden menyampaikan bahwa perlakuan tidak patut terhadap tiga petugas KKP sedang diusut. Pemerintah Malaysia sedang menginvestigasi masalah tersebut. "Tapi sampai saat ini tidak pernah diumumkan penjelasan atau hasil investigas apa pun," pungkas Tama.
Sumber Data :
http://nasional.kompas.com/read/2011/01/10/20290154/Inilah.9.Kebohongan.Baru.Pemerintah


Senin, 17 Januari 2011

PELITA YANG MENERANGI KEGELAPAN

NASIHAT ABU BAKAR AS-SHIDDIQ RA.
Sahabat Rasul SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berkata, ”Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima. Jika tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan menjerumuskan kita ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, barangsiapa teguh memegang lima pelita itu maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.
Kegelapan pertama adalah cinta dunia (hubbu ad-dun-ya). Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi). Manusia yang berorientasi duniawi, ia akan melegalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Untuk memeranginya, Abu Bakar menjelaskan pelitanya adalah berupa takwa. Dengan takwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.
Kedua, berbuat dosa. Kegelapan ini akan tercerahkan oleh taubat nashuha (taubat yang sungguh-sungguh). Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampun serta bertaubat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya.” (HR Ahmad). Inilah al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muthaffifin (83) ayat 10-14.
وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ ﴿١٠﴾ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ ﴿١١﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ ﴿١٢﴾ إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ ﴿١٣﴾ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿١٤﴾
Artinya:
010. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,
011. (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.
012. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa,
013. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu".
014. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.
Ketiga, kegelapan kubur akan benderang dengan adanya siraj (lampu penerang) berupa bacaan laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulallah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab, ”Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.
Keempat, alam akhirat sangatlah gelap. Untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak amal shaleh. QS Al-Bayyinah (98) ayat 7-8 menyebutkan:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ ﴿٧﴾ جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ ﴿٨﴾        
Artinya :
007. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
008. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Kegelapan kelima adalah shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) dan Yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati. Dengan keyakinan itu, kita akan lebih aktif mempersiapkan bekal sebanyak mungkin menuju alam abadi (akhirat). Demikian lima wasiat Abu Bakar. Semoga kita termasuk pemegang kuat lima wasiat itu, sehingga menyibak kegelapan dan mengantarkan kita ke kebahagiaan abadi di surga. Amin.
Di posting oleh Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti.

Minggu, 16 Januari 2011

HIDUPLAH DENGAN IMAN, ISTIQOMAHLAH DALAM IBADAH


HIDUP DALAM BINGKAI KEIMANAN,  ISTIQOMAH DALAM KETAATAN
Setiap pribadi muslim hendaknya memiliki iman yang kokoh kepada Allah dan tetap istiqmah dalam berbuat ketaatan. Dalam hal ini ada lima hal yang harus melekat selalu dalam kehidupan setiap pribadi muslim. Lima hal tersebut terangkum dalam rumus 5 M.
1.     Muhasabah (Intropeksi diri).
Manusia adalah makhluk yang sangat memerlukan evaluasi diri dan penilaian ulang. Kehidupannya, baik yang bersifat individual maupun sosial, sangat perlu diperhatikan. Itu tak lain karena sisi spiritual dan intelektual selalu berubah-ubah. Cepat terwarnai dengan keadaan yang menyertainya. Hari ini baik, besok bisa sangat baik. Atau hari ini sangat baik, besok mungkin saja sangat tidak baik. Disinilah perlunya kita intropeksi diri (muhasabah), agar kebaikan tetap bisa kita pertahankan. Sebab kita tak pernah tahu kapan kita akan dimatikan. Hidup dan mati kita Allahlah yang mengatur, yang kita tahu adalah bahwa setiap kita pasti akan mati.

Seorang muslim harusnya sangat menyadari, bahwa apapun yang dilakukannya kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Dan menyadari pula bahwa setiap hembusan nafasnya adalah mutiara yang sangat bernilai. Maka seharusnya ia tidak menyia-nyiakan walaupun sesaat.
Ketahuilah……!  Kepentingan menghisab diri ini kita lakukan untuk mengetahui dua hal, yaitu:

Pertama: untuk mengetahui segala aib diri, apakah kebaikan yang telah kita lakukan lebih banyak dari pada keburukan, atau sebaliknya.
Kedua: untuk mengetahui hak Allah terhadap kita. Apakah kewajiban kita sebagai hamba Allah sudah disempurnakan ataukah dilalaikan. Dari dua kesadaran ini akan lahir kepribadian yang istiqomah dan sikap mental yang tidak mudah melemah.

Terkait dengan muhasabah, Hasan al-Basyri pernah berkata: “Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia menghisab dirinya karena Allah. Karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah menghisab dirinya di dunia. Hal senada juga pernah di ungkapan oleh Umar bin Khaththab; “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari” (Di riwayatkan dari Imam Ahmad dan At-Tarmidzi secara mauquq dari Umar bin Khaththab).

2.     Muroqobah ( Selalu Merasa diawasi Allah)
Orang yang sadar bahwa Allah selalu mengawasi hidupnya, maka ia akan terbentengi dari kesalahan dan dosa. Rasa khauf (takut) selalu menyelimutinya bila ia melakukan kesalahan. Khauf (rasa takut) akan membakar syahwat yang diharamkan Allah, sehingga kemaksiatan yang dulu disukai jadi dibenci.

Kesombongan yang dulu dipertahankan berubah menjadi ketawadhuan, Ia selalu waspada terhadap langkah, pikiran dan kalimat yang keluar dari dirinya. Ia menyadari betul tentang firman Allah di bawah ini:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾ مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴿١٨﴾

Artinya : 016. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,
017. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.
018. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.( Qs Qaf [50]:16-18)

Hamba yang selalu bermuroqobah adalah orang yang memiliki kecerdasan ruhiyah yang tinggi. Kesadaran itu dibangun berdasarkan pemikiran yang cerdas, karena ia sangat menyadari bahwa hidup akan mempunyai makna apabila ruang tempat berpijak adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk dirinya dan kemudian dia pertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٢٧﴾

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
( Q. S. Al-Anfal :27)

Ketahuilah……..!  Islam memandang amanat sebagai suatu yang amat berharga, sekecil apapun amanah yang kita terima, wajib kita jaga dengan baik dan kita sampaikan kealamatnya secara konsisten. Karena dengan memandang kecil sebuah amanat, kita akan terbiasa memandang amanat itu sebagai hal yang tidak berarti. Sehinga amanat yang besarpun akan kita anggap sebagai amanat yang sepele.

3.     Mu’ahadah (selalu mengingat perjanjian dengan Allah SWT)
Kesadaran kita bahwa hidup bukan sekedar ada tetapi karena ada yang mengadakannya, adalah sikap dan sifat seorang muslim sejati. Allah menghidupkan kita dengan fasilitas yang diberikan-Nya bukanlah tanpa tujuan. Dan tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Dan hanya Allah sajalah yang harus kita pertuhankan, karena inilah inti kehidupan; yaitu mempertuhankan Allah dan tidak boleh menyekutukan- Nya dengan sesuatupun. Inilah perjanjian yang harus selalu kita ingat, sebagaimana di ungkapan oleh Allah:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢﴾
Artinya : “Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab. “Betul (engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kesesaan Tuhan)”.(Qs. Al-A’raf [7]:172).

Manusia dengan segala keberhasilan dunia yang diraihnya tidaklah kemudian menjadi mulia, manakala ia merasa bahwa apapun yang diraihnya adalah hasil usahanya sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain.

Sadarilah, kita bisa disebut kaya karena ada yang miskin. Kita disebut cantik karena ada yang jelek. Dan kita juga bisa disebut baik (mulia), karena ada yang buruk. Kemudian ketahuilah, tidaklah orang lain memuliakan kita, kecuali karena Allah yang menghendaki.

Karena itu jangan merasa diri lebih mulia dari orang lain, karena itu adalah kebodohan. Sebab hanya orang bodohlah yang merasa dirinya tidak perlu membutuhkan bantuan. Dan ketika rasa itu mendominasi dirinya, maka kecenderungan menyekutukan Allah nampak semakin sempurna.

Maka kesadaran; bahwa Allah sebagai Tuhan dan hanya kepada Allah segalanya dikembalikan adalah buah dari kecerdasan pikiran yang lahir dari keimanan.
Ingatlah selalu akan perjanjian kita dengan Allah yaitu untuk selalu beribadah hanya kepada-Nya. Jangan berpaling dari syariat-Nya dan tidak mendustai kebenaran yang di turunkannya (al-Qur’an).

4.     Mu’aqobah ( Memberi sangsi ketika lalai beribadah)
Memberikan sanksi (‘iqob ) ketika kita lalai beribadah memang sesuatu yang tidak mudah. Dibutuhkan kesadaran diri yang prima dan keimanan yang sempurna. Hanya orang-orang yang mendapat rahmat dari Allah sajalah yang dapat melakukannya.

Seringnya kita membiarkan kelalaian akan menghadirkan sikap meremehkan kesalahan. Dan lambat laun, ketika kesalahan sudah menjadi kebiasaan, maka dorongan melaksanakan ketaatan akan semakin hilang. Bahkan membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah kesalahan-kesalahan yang lain.
Disinilah pentingnya kita meng’iqob (memberikan sangsi) kepada diri agar jiwa terselamatkan dari dosa. Sanksi yang dimaksud disini adalah; apabila kita menemukan kesalahan maka tidak pantas bagi kita untuk membiarkannya.

Bentuk pemberian sanksi tentu saja harus yang mubah dan tidak boleh berlebihan, apalagi sampai membahayakan diri. Seperti memukul kepala karena tidak sholat subuh. Atau membakar diri karena asyiknya nonton TV hingga lupa sholat Isya. Tentu saja tidak seperti itu.

Sebuah perilaku yang dapat kita jadikan contoh adalah; seperti kebiasaan pada generasi sahabat atau para salaf yang meng ‘iqob diri secara langsung ketika mereka melakukan kekhilafan, misalanya: dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Umar bin Khaththab pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan sholat Ashar. Maka beliau berkata: “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sholat Ashar!..kini kebunku aku jadikan shodaqoh untuk orang-orang miskin.

Subhanallah. Bagaimana dengan kita, bisakah kita mencontoh Umar, sudah berapa seringkah kita melalaikan kewajiban. Tetapi adakah kita pernah meng’iqob diri karena banyaknya kekhilafan itu ?

5.     Mujahadah (adanya kesungguhan dalam ibadah).
Ibadah adalah alasan Allah menciptakan manusia. Karena untuk itulah kita hidup dan di hidupkan. Kita hidup bukanlah sedekar hidup, tetapi harus mentaati aturan yang maha hidup, Dialah Allah. Bahkan ibadah adalah inti hidup, orang yang tidak punya orientasi ibadah dalam hidup seperti orang yang melakukan perjalanan tanpa tujuan,

Bermujahadah artinya bersungguh-sungguh dalam melaksanatan ketaatan dalam rangka menjemput keridhoan Allah. Hingga akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan, bukan sebuah beban yang memberatkan.

Sa’id Musfar Al-Qahthani mengatakan; Mujahadah berarti mencurahkan segenap usaha dan kemampuan dalam mempergunakan potensi diri untuk taat kepada Allah dan apa-apa yang bermanfaat bagi diri saat sekarang dan akan datang, dan mencegah apa-apa yang membahayakannya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾                     
Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Qs. Al-Ankabut:69)

Sadarlah………!  Bangkitnya seseorang dari kelemahan kepada semangat, dari kemaksiatan kepada taat, dari kebodohan kepada ilmu, dan dari keraguan kepada yakin; adalah ciri dari orang-orang yang bermujahadah. Selalu ingin mengoptimalkan nilai-nilai kebenaran dalam setiap gerak kehidupan.
Dengan melakukan rumus 5 M di atas, Insya Allah nilai kehidupan yang kita jalani akan semakin berarti. Sebab dengan Muhasabah kita selalu memperbaiki segala yang salah. Dengan Muroqobah kita selalu merasa keagungan Allah. Dengan Mu’ahadah kita tetap akan istiqomah. Dengan Mu’aqobah kita dapat mengurangi beban dari rasa bersalah dan dengan Mujahadah kehidupan kita akan selalu dipermudah.
Ketahuilah……….! Bahwa buah pelaksanaan 5 M ini adalah 5 C . yaitu: Comitment, Confident, consisten, consquent dan creative.
1.     Comitment adalah keyakinan kokoh yang menggerakan prilaku menuju arah yang di yakini (I’tikad).
2.     Consistence adalah kemampuan untuk bersikap secara taat azaz, pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsif kebenaran yang diyakininya betapapun harus membahayakan dirinya.
3.     Consequence, adalah keberanian menerima konsekwensi dari keputusan yang di ambilnya. Baginya hidup adalah pilihan yang harus di pertanggung jawabkan.
4.     Confidence adalah sikap percaya diri yang lahir dari kekuatan keyakinan dan sifat ini merupakan kematangan berpikir dari jiwa yang istiqomah
5.     Creative, adalah sikap yang tak pernah lelah melalukan kebaikan, selalu saja ada aktivitas yang membuat dirinya semakin maju selangkah demi selangkah namun pasti. Dan kreatiptas ini menjadikan seorang mukmin selalu menangkap sinyal kebaikan dalam setiap efisode hidup yang di jalaninya.

Bangkitnya seseorang dari kelemahan kepada semangat, dari kemaksiatan kepada taat, dari kebodohan kepada ilmu, dan dari keraguan kepada yakin, adalah ciri dari orang-orang yang bermujahadah( sungguh-sungguh) Selalu ingin mengoptimalkan nilai-nilai kebenaran dalam setiap gerak kehidupan.

Akhirnya kita berdoa kepada Allah:

“ Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dalam pandangan kami, dan berilah kemampuan kepada kami untuk dapat menjalankan kebenaran itu. Tunjukkan pula kepada kami yang salah itu salah dalam pandangan kami, dan berikan pula kepada kami kekuatan agar kami dapat menjauhkan diri dari kesalahan itu”.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


RASUL SANGAT MENCINTAI UMMATNYA

DETIK-DETIK WAFATNYA RASUL

Saat Rasulullah dijemput detik-detik sakaratul maut  ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. 

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka ta’ati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." 

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh simpati menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, akan selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang dalam keadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. 

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.. 

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak ditatap sepuasnya. "Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara di dunia ini, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dia adalah malaikat maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersamanya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. 

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua pintu syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, " kata Jibril. 

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih menunjukkan penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Setelah mendengar jawaban malaikat Jibril baru kelihatan tenang di wajah Rasul.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril……, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat Penghantar Wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. 
  
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengeluarkan suara, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat rasa maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum" - "Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu ( kaum wanita )." 

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Ummatku, ummatku, ummatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. 
  
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kini, mampukah kita mencintainya seperti dia mencintai kita…? Yang sampai detik-detik teakhir dari kehidupannya masih memanggil-manggil kita sebagai ummatnya….?

اَ للـّــهُــمَّ صَـِلّ وَسَـلِـّـمْ عَـلى مَــحَـمَّــدٍ وَّعَـلى اَلِـه وَ اَ صْـحَـابــِــه اَجْــمَـعِــيْـنَ٠

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.