Selasa, 22 Februari 2011

Cerita Islam

Meninggalkan Khianat, Mendapat Rahmat

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar al-Anshari berkata. Dulu, aku pernah berada di Makkah. Suatu hari aku merasakan perutku sangat lapar. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dimakan. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera dan diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera. Ketika aku buka, aku dapatkan di dalamnya sebuah kalung permata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. 
Kemudian, suatu hari aku keluar rumah, saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan. Ini adalah untuk orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata. Aku berkata dalam hati, Aku sangat membutuhkan uang untuk membeli makanan, karena aku sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini kepadanya. Maka, aku membawa bapak tersebut ke rumahku.
Sesampainya di rumah, dia menceritakan kepadaku tentang ciri-ciri kantong sutera itu. Ciri-ciri yang dijelaskannya sama seperti kantong yang ketemukan. Maka, akupun mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya, dan dia pun memberikan untukku uang lima ratus dinar sesuai dengan yang dijanjikannya, tetapi aku tidak mau mengambilnya. Aku katakan kepadanya, Memang seharusnya aku wajib mengembalikannya kepada tuan tanpa mengambil upah untuk itu. Ternyata dia bersikeras memberikan uang tersebut dan memaksaku agar aku mau menerimanya, namun aku tetap pada pendirianku. Akhirnya, bapak tua itu pun pergi meninggalkanku.
Beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, aku keluar dari kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut perahu yang aku tumpangi itu pecah, orang-orang yang ada dalam perahu semua tenggelam dengan harta benda mereka. Tetapi aku selamat dengan berpegang dengan potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut dalam keadaan terombang-ambing.
Akhirnya aku terdampar di sebuah pulau yang ada penduduknya. Aku duduk di dalam salah satu Masjid yang ada di pulau tersebut sambil membaca Al-Qur’an. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, seorang dari penduduk pulau tersebut datang kepadaku dan mengatakan, ajarkanlah Al-Qur’an kepada kami. Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapatkan harta yang banyak.
Di dalam Masjid aku menemukan bebarapa lembar mushaf Al-Qur’an, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, Kau bisa menulis?' 'Ya. Mereka berkata, Kalau begitu, ajarilah kami menulis. Aku katakan, aku bersedia. Mereka pun datang dengan anak-anak dan para remaja mereka. Aku ajari mereka menulis dan membaca. Dari itu, aku juga mendapat banyak uang.
Setelah itu mereka berkata, Kami mempunyai seorang putri yatim, dia mempunyai harta yang banyak. Maukah kau menikahinya? Aku menolak. Tetapi, mereka terus mendesak, Tidak bisa, kau harus mau. Akhirnya aku menuruti keinginan mereka.
Ketika mereka membawa anak perempuan itu ke hadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya. Tidak ada yang aku lakukan saat itu, kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata itu. Mereka berkata, Sungguh kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya.
Maka, aku ceritakan kepada mereka peristiwa yang pernah aku alami di Makkah dengan kalung tersebut. Setelah mereka mendengar ceritaku, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk yang lain. Aku bertanya, ada apa dengan kalian?. Mereka menjawab, Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini. Dia pernah mengatakan, Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku. Dia juga berdoa, Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku. Dan, sekarang sudah menjadi kenyataan.
Aku mulai menjalani kehidupan bersama isteriku, dan kami dikaruniai dua orang anak. Kemudian, istriku meninggal, dan kalung permata itu menjadi harta pusaka untukku dan untuk kedua anakku. Tetapi, kedua anakku itupun meninggal dunia, hingga kalung permata itu jatuh kepadaku. Lalu, aku menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan, harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari seratus ribu dinar itu.
Sumber: Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi'in, Orang-Orang Terdahulu dan Sekarang, Syekh Ibrahim bin Abdullah.