Senin, 11 April 2011

TUJUH KRITERIA MENJADI HAMBA YANG SHALIH

KRITERIA HAMBA YANG SHALIH

Banyak menusia yang menginginkan dirinya menjadi hamba Allah yang shalih. Bahkan, saat selesai berwudhu’ kita disunnatkan berdo’a, salah satu do’a yang kita mohon kepada Allah adalah agar kita dijadikan Allah menjadi hamba-hambanya yang shalih.

Nabi Ibrahim AS sebagai seorang nabi-pun berdo'a kepada Allah agar ia dijadikan sebagai hamba yang shalih. Do’a nabi Ibrahim ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu'ara ayat 83:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

"(Ibrahim berdo`a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih”.

Untuk menjadi hamba yang shalih, perlu diketahui kriteria sebagai hamba yang shalih tersebut. Dengan mengetahui kriteria tersebut, diharapkan kita dapat berupaya untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga di hadapan Allah kita termasuk dalam golongan hamba-hambanya yang shalih.

Adapun kriteria hamba yang shalih itu, disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 113-114.

لَيْسُواْ سَوَاء مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللّهِ آنَاء اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ﴿١١٣﴾ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُوْلَـئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١١٤﴾

Artinya : “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh “.

Dalam ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa ada tujuh kreteria sebagai hamba yang shalih, yaitu :

Pertama, orang yang berlaku lurus, memiliki karakter istiqamah. Yakni, teguh pendirian, konsisten, dan memiliki komitmen dalam meyakini dan melakukan kebenaran.

Kedua, senantiasa membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis maupun yang tercipta di alam yang terbentang ini.

Ketiga, mereka yang senantiasa sujud di tengah keheningan malam, dengan melaksanakan shalat malam.

Keempat, beriman kepada Allah. Setiap perbuatan dan tingkah lakunya dilandasi dengan selalu ingat kepada Allah.  Dengan selalu ingat kepada Allah akan menjadi alat kontrol dan stabilitator baginya dari berbagai kemaksiatan dan dosa.

Kelima, beriman kepada hari akhir. Kehidupan hamba yang shalih senantiasa beroritenasi kepada kehidupan akhirat. Ia mengisi waktunya dengan kegiatan positif yang bernilai ibadah.

Keenam, mengajak orang lain untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan atau kemaksiatan. Ia selalu berupaya menjadi teladan, sehingga orang lain bisa mengikutinya.

Ketujuh, segera melakuan kegiatan positif. Hamba yang shaleh senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan yang dilandasi dengan keikhlasan dan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Tujuh karakter di atas merupakan karakter hamba yang shalih. Dari ayat ini pula dapat disimpulkan bahwa keshalehan tersebut mencakup dua hal, yaitu keshalihan Spritual dan keshalihan sosial.

Semoga kita mempu menerapkan tujuh kriteria di atas sehingga kita termasuk ke dalam katagori orang-orang yang shalih.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ