Senin, 20 Juni 2011

Orientasi Menuntut Ilmu

Orientasi Menuntut Ilmu
( Kisah seorang anak Desa yang miskin, bercita-cita menjadi Sarjana)

Seorang Mahasiswa yang baru memasuki Semester II dipanggil pulang ke kampung oleh ayahnya. Sesampainya di kampung halaman, sang Mahasiswa bertanya kepada ayahnya, apa gerangan ia dipanggil pulang ke kampung. Sang ayah menyerahkan sebuah Amplop yang berisikan surat sambil berkata; Ada panggilan kerja untukmu dari sebuah perusahaan, ini surat panggilannya. Sang ayah bertanya kepada anaknya, kapan kamu memasukkan lamaran kerja ke perusahaan ini?. Tidak pernah yah, kata sang anak menjawab. (Informasi belakangan diperoleh bahwa ada orang dalam perusahaan tersebut melihat potensi anak ini dan dia memandang pantas untuk dipekerjakan pada perusahaan tersebut, walaupun si anak tidak pernah mengajukan permohonan untuk bekerja di perusahaan tersebut).
Setelah membaca surat panggilan kerja tersebut, sang anak bertanya kepada ayahnya; Bagaimana pendapat ayah, apakah saya menerima pekerjaan ini atau tidak?. Sebab, kalau saya menerima pekerjaan ini tentu saya tidak bisa meneruskan kuliah, karena waktu kerja dan kuliah berbenturan. Tapi kalau saya kuliah, tentu kesempatan untuk bekerja di perusahaan yang menjanjikan untuk masa depan akan hilang.
Si ayah hanya mengatakan; Keputusan itu ada di tanganmu, ayah tidak bisa memberikan pendapat untukmu, sebab, kalau ayah katakan kamu harus kuliah, ayah tidak mampu memberikan biaya kuliah untukmu. ( perlu diketahui bahwa sang anak kuliah dengan mencari biaya kuliah sendiri, tanpa ada biaya dari orang tua). Dan kalau ayah katakan kamu harus bekerja, tentu menghilangkan kesempatanmu untuk menuntut ilmu.
Untuk sementara pembicaraan mereka terhenti dan saling berdiam diri. Dalam keheningan tersebut sang anak berbicara memecah kebisuan. Cobalah ayah berikan pandangan ayah yang mungkin bisa menjadi pertimbangan buat saya dalam memutuskan masalah ini.
Ayahnya berkata; Ayah mempunyai pandangan, sebenarnya bekerja itu identik dengan mencari uang dan mencari uang baru akan berhenti saat ajal tiba. Kalau kuliah, itu berarti menuntut ilmu, menuntut ilmu di pendidikan formil waktunya terbatas, ayah yakin apabila ilmu sudah di dapat insya Allah pintu-pintu rezeki akan terbuka anakku. Demikian ayanhnya berpandangan.
Setelah itu pembicaraan antara ayah dan anak berhenti karena masing-masing beranjak ke peraduan untuk tidur, ternyata waktu sudah menunjukkan jam 02.30 wib.
Namun sang anak di kamarnya belum bisa tidur, dia terus merenungkan ungkapan dari pandangan ayahnya yang telah dia terima, dia terus berpikir untuk mengambil keputusan antara kuliah atau bekerja. Akhirnya dia sampai kepada satu kesimpulan bahwa dia akan meneruskan kuliahnya.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi, sang anak berkata kepada ayahnya; Saya memilih untuk melanjutkan kuliah ayah…..! Sudah bulat tekat dan keputusanmu itu?, tanya sang ayah padanya. Sudah ayah, jawab anaknya.
Kalau itu sudah merupakan keputusanmu, ayah berpesan padamu, kata sang ayah. Apa itu ayah? tanya anak pada ayahnya.
Ayahnya menjawab; Berangkatlah kamu untuk menuntut ilmu dengan niat menjunjung tinggi perintah Rasul, sebab itu akan menjadi nilai ibadah untukmu. Janganlah ber-orientasi untuk mencari kerja atau menjadi Pegawai Negeri. Ayah bukan anti terhadap Pegawai Negeri, ayah hanya ingin orientasi-mu menuntut ilmu itu tidak salah. Apabila orientasi-mu dalam menuntut ilmu adalah untuk menjunjung tinggi perintah Rasul, kemudian pada saat kamu nanti selesai kuliah dan mencoba untuk mencari kerja atau mencoba masuk menjadi Pegawai Negeri dan ternyata tidak berhasil, maka kamu tidak akan stres, sebab bukan itu yang menjadi tujuanmu. Tapi, andaikan kamu berhasil mendapatkannya, itu adalah rezekimu. Maka dengan orientasi seperti itu, apapun yang akan kemu hadapi kelak setelah selesai kuliah, hatimu akan selalu tentram. Bahkan andaikata kamu sudah berusaha untuk mencari kerja, namun belum berhasil, kamu tidak akan berputus asa, ayah yakin dengan ilmu yang sudah kamu miliki tidak tertutup kemungkinan kamu bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan.
Mendengar kalimat-kalimat yang bermakna filosofi tersebut sang anak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda membenarkan pandangan ayahnya tersebut, kemudian dia salam dan dia peluk ayah dan ibunya sembari mengucapkan terima kasih atas pandangan yang sangat dalam dari ayahnya.
Disisi lain sang ibu menyapu pundak anaknya sambil berkata; emak dan ayah hanya bisa memberikan do’a untukmu anakku, sambil keluar dari mulutnya untaian do’a: Ya Allah Engkaulah Tuhan tempat meminta, Tidak ada yang mudah kecuali Engkau jadikan dia menjadi mudah, yang sulit itupun bisa menjadi mudah apabila Engkau kehendaki dia menjadi mudah, karena itu ya Allah, berilah kemudahan kepada anak kami ini dalam menuntut ilmu untuk mencapai cita-citanya, hindarkan dia dari segala fitnah kehidupan, hiasi hidupnya dengan akhlaqul karimah, penuhi dadanya dengan iman dan takwa kepadaMu, bersihkan hatinya dari ujub dan sombong, berilah dia keberkahan dan ilmu yang bermanfaat, jadikan dia menjadi belahan jiwa kami dan kami berharap kelak dia berguna bagi agama, bangsa dan Negara.
Setelah itu, sang anak berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk kembali ke kota melanjutkan kuliahnya dengan bekal petuah hidup yang sangat bermakna dari orang tuanya.
Saat ini sang anak sudah berhasil meraih gelar Sarjananya dan menjadi orang yang dipandang oleh masyarakat sebagai anak yang sukses, terutama oleh orang-orang yang ada di kampungnya.
Bahkan ada kebanggaan tersendiri dari kedua orang tuanya, karena saat di Wisuda dia termasuk diantara Wisudawan yang terbaik dan mendapat Piagam penghargaan dikarenakan memperoleh prestasi yang baik dalam perkuliahannya.
Pesan Kepada Penuntut Ilmu dan Para Orang Tua.
Dari kisah di atas hendaknya dapat menjadi renungan dan I’tibar, terutama bagi para pelajar dan Mahasiswa agar tidak salah orientasinya dalam menuntut ilmu. Demikian pula kepada para orang tua, hendaknya menanamkan pemahaman kepada anak-anaknya bahwa sekolah atau kuliah hendaknya didasari dengan orientasi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan mengamalkan perintah Rasulullah. Sebab pada kenyataannya, banyak orang tua yang saat memotivasi anaknya bersekolah dengan ungkapan; Kamu harus rajin belajar supaya nanti bisa dapat pekerjaan yang bagus dan punya masa depan yang baik. Kalau demikian halnya, tentu yang ada dibenak sang anak adalah selesai sekolah harus mendapat pekerjaan yang mapan. Andaikan hal tersebut tidak terwujud, tidak tertutup kemungkinan orang tuanya akan kecewa, bahkan yang sangat tidak wajar, kalau keluar ungkapan dari orang tua; Percuma kamu disekolahkan tinggi-tinggi, menghabiskan uang yang banyak tapi kamu tidak mendapat pekerjaan. Kalau demikian halnya, dimana letak kesalahannya…………………..? Barangkali memang sudah tiba saatnya kita merubah orientasi yang salah selama ini dalam hal menuntut ilmu.
Semoga catatan singkat ini mampu memberikan pandangan kepada kita untuk memberikan motovasi kepada anak-anak kita tentang orientasi dalam menuntut ilmu, terutama dalam memasuki ajaran baru di tahun 2011 ini.
Semoga……………….!