Selasa, 07 Desember 2010

AWAL PENETAPAN TAHUN HIJRIYAH


AWAL PENETAPAN TAHUN HIJRIYAH
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

         Penetapan hitungan tahun pada masa sebelum Nabi Muhammad dilahirkan, pada masa sesudah Nabi Muhammad dilahirkan, bahkan sampai pada masa Nabi Muhammad menjadi Rasul dan sampai pada masa Khalifah Abu Bakar sungguhnya belum ada ketentuan. Adapun penetapan tahun pada masa sebelum Rasul dan masa sesudah Rasul diangkat menjadi Nabi, begitu pula pada masa Khalifah Abu Bakar selalu dikaitkan kepada peristiwa yang terjadi pada masa itu atau peristiwa yang sangat mudah untuk mereka ingat. Misalnya Nabi Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul awal tahun Gajah, mereka menyebutnya tahun Gajah sebab tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad peristiwa Tentara bergajah yang dikerahkan Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah di Makkah terjadi pada saat itu, maka mereka sebut tahun itu dengan tahun Gajah.
        Adapun penetapan tahun hijriyah menjadi ketetapan tahun untuk ummat Islam, ditetapkan pada masa Khalifah Umar Bin Khattab. Sejarah mencatat bahwa Umar Bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dalam menentukan hitungan tahun yang akan dijadikan hitungan tahun untuk ummat Islam. Adapun yang menjadi persoalan bagi para sahabat yang ikut bermusyawarah pada saat itu, dari mana menentukan hitungan tahun pertama yang dapat dijadikan hitungan tahun untuk ummat Islam. Banyak diantara sahabat yang mengusulkan dalam musyawarah tersebut, ada yang mengusulkan hitungan tahun satu dimulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad, ada yang mengusulkan sejak Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama dan ada yang mengusulkan sejak Nabi Muhammad mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun semua usulan tersebut tidak menarik perhatian Umar Bin Khattab. Dalam suasana kepakuman yang terjadi dalam musyawarah tersebut, Ali Bin Abi Thalib mengusulkan bagaimana kalau hitungan tahun satu bagi Ummat Islam dihitung sejak peristiwa Hijrahnya Rasul ke Madinah. Adapun dasar pertimbangannya adalah bahwa peristiwa Hijrah tersebut sangat mempunyai makna yang penting terhadap perkembangan ummat Islam, diantaranya adalah bahwa sejak Rasul dan para sahabat Hijrah ke Madinah, ummat Islam dapat berdakwah lebih gencar dan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang kafir.
Di sisi lain posisi Nabi Muhammad sejak Hijrah ke Madinah tidak hanya sebagai seorang Nabi, tetapi Nabi Muhammad sekaligus menjadi seorang pimpinan Negara, sebab setelah Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah Daulah Islamiyah terbentuk. Maka berdasarkan pertimbangan tersebut Ali Bin Abi Thalib mengusulkan peristiwa hijrah tersebut ditetapkan sebagai tahun satu bagi ummat Islam.
Atas dasar usulan dari Ali Bin Abi Thalib dengan segenap alasan-alasan yang sangat mendasar tersebut maka Umar bin Khattab menerima usulan dari Ali bin Abi Thalib, dan dikarenakan penentuan tahun tersebut diambil dari peristiwa Hijrahnya Rasul maka hitungan tahun tersebut dinamakan hitungan tahun Hijriyah. Adapun penetapan tahun Hijriyah ini ditetapkan pada tahun ke empat masa ke Khalifahan Umar Bin Khattab, tepatnya hari senin tanggal 8 Rabiul Awal tahun ke 17 H. / 30 Maret 638 M.
            Adapun penentuan nama-nama bulan yang ada, sebenarnya masyarakat Arab jahiliyah jauh sebelum Nabi Muhammad dilahirkan sudah mengenal nama-nama bulan dan mereka memberi nama-nama bulan tersebut sesuai pula dengan keadaan dan kondisi serta tradisi yang berkembang dalam kehidupan mereka. Adapun nama-nama bulan berikut dengan sebab penamaannya adalah sebagai berikut :
  1. Muharram : Mereka sebut bulan Muharram karena bulan ini adalah bulan yang dihormati atau bulan pantangan bagi masyarakat Arab untuk berperang. Kebiasaan suku-suku yang ada pada masa itu selalu berperang antara satu dengan lainnya, namun apabila bulan Muharram datang mereka sama-sama menghormati bulan tersebut dan dengan sendirinya terjadi gencatan senjata diantara mereka walaupun peperangan diantara mereka sedang berkecamuk.
  2. Shafar : Shafar artinya kosong, mereka menyebut bulan ini kosong karena pada bulan ini kaum laki-laki pada umumnya pergi keluar kota untuk berdagang atau berperang, karena itu kampung mereka kosong dari kaum laki-laki.
  3. Rabi’ Al-awal : Rabi’ artinya menetap, yaitu bulan pertama para laki-laki menetap di kampung halaman setelah bepergian.
  4. Rabi’ as-Sani /Al-akhir : Bulan ke dua untuk menetap bagi kaum laki-laki.
  5. Jumadil Awal : Jumadi artinya kering, maksudnya mulai datang musim kering untuk bulan yang pertama.
  6. Jumadil Tsani / Akhir : Yaitu musim kering untuk bulan yang ke dua.
  7. Rajab : Artinya Mulia, Bangsa Arab sejak zaman dahulu sangat memuliakan bulan ini, dan mereka juga melakukan gencatan senjata manakala sedang berkecamuk peperangan antara sesama mereka.
  8. Sya’ban : Artinya berkelompuk, maksudnya pada bulan ini bangsa Arab berangkat untuk berdagang mencari nafkah dalam keadaan berkelompok-kelompok, disebut juga kafilah-kafilah dalam perdagangan.
  9. Ramadhan : Artinya sangat panas. Mereka namakan bulan ini dengan Ramadhan karena pada bulan ini adalah puncaknya musim panas.
  10. Syawal : Artinya. Kebahagiaan. Mereka namakan bulan ini bulan Syawal karena mereka sangat bergembira setalah melalui bulan musim panas.
  11. Dzulqaidah : Artinya, Pemilik tempat duduk. Maksudnya pada bulan ini bagi orang-orang Arab saat itu menggunakan bulan ini untuk istirahat dengan keluarga, atau boleh juga disebut dengan bulan untuk duduk santai bersama keluarga.
  12. Dzulhijjah : Artinya bulan Haji. Pada dasarnya orang-orang yang ada di Jazirah Arabiyah pada waktu itu biasa datang ke Makkah untuk menunaikan Haji. Adapun perintah Haji yang mereka laksanakan adalah mengikut perintah haji dari Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad, sebab syari’at ibadah haji bagi Nabi-Nabi yang terdahulu sebenarnya sudah ada.



HIKMAH MEMBACA DAN MEMPELAJARI AL-QUR’AN

HIKMAH MEMBACA DAN MEMPELAJARI AL-QUR’AN
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

            Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Melalui perentaraan Malaikat Jibril dengan berbahasa Arab, diturunkan secara berangsur-angsur dan diriwayatkan secara mutawatir yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, serta dinilai ibadah bagi orang yang membacanya.

Membaca atau mempelajari Al-Qur’an maupun mengajarkannya mempunyai hikmah yang sangat banyak antara lain adalah :

1. Mendapat pahala dari Allah dan menambah karunia Allah.
Allah berfirman dalam surat Fathir ayat 29-   30.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ﴿٢٩﴾ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ ﴿٣٠﴾
Artinya :Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan  kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan     perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi " Maha Mensyukuri “ . ( Allah mensyukuri maksudnya adalah: Bahwa Allah memberi pahala terhadap amal-amal hamba-Nya, memaafkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya dan sebagainya).

2. Orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an adalah manusia yang terbaik.
Rasul Saw. Bersabda : “ خـَـيْـرُ كـُمْ مـَنْ تـَعَـلـَّمَ الـْــقــُـرْ آنَ وَعَـلـَّمَـهُ “.
Artinya : Orang yang terbaik diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya.

3. Orang yang membaca Al-Qur’an diberi sepuluh pahala dalam setiap huruf yang dibaca.

4. Orang yang membaca Al-Qur’an diberi Allah ketenangan hidup dan mendapat rahmat Allah serta dinaungi oleh para Malaikat.
Rasul Bersabda, artinya : “ Tidaklah berkumpul sekelompok manusia disalah satu rumah Allah dimana mereka membaca dan  mempelajari kitab Allah (Al-Qur’an) melainkan Allah menurunkan kepada mereka ketenangan dan menurunkan rahmatnya, mereka akan dinaungi oleh para Malaikat dan Allah selalu menyebut nama mereka disisinya”.  ( H. R. Muslim dan Abu Daud ).

5. Orang yang membaca Al-Qur’an selalu mendapat cahaya dalam kehidupannya.
Rasul bersabda, artinya : “ Barang siapa mendengar satu ayat dari kitab suci Al-Qur’an maka Allah akan memberi kepadanya kebaikan yang banyak, dan barang siapa yang membacanya maka dia akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat “. ( H. R. Ahmad ).

6. Orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapat pemberian yang terbaik dari Allah.
Rasul bersabda melalui firman Allah dalam Hadits Qudsi, artinya : “ Barangsiapa yang hidupnya disibukkan dengan Al-Qur’an maka aku akan memberinya sebaik-baik apa yang aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepadaku,dan keutamaan kalam ( perkataan ) Allah atas segala kalam adalah bagaikan keutamaan Allah atas segala makhluknya”. ( H.R. Tirmizi ).

7. Al-Qur’an seperti pohon yang harum baunya dan enak rasanya.
Rasul Saw. bersabda, artinya : “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti pohon “Al-Utrujah”, aromanya sangat wangi dan enak rasanya, sedangkan perumpamaan mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti pohon yang bernama “ Tamroh “ yaitu pohon yang tidak mempunyai harum walaupun rasanya manis. Perumpamaan orang munafik membaca Al-Qur’an adalah seperti pohon “ Robhanah “ yaitu harum baunya tapi pahit rasanya, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membanya Al-Qur’an adalah seperti pohon “ Hazdolah “ yang tidak mempunyai   wangi sama sekali dan rasanya pahit”. ( H.R. Bukhori, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah ).

8. Orang yang membaca Al-Qur’an akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama orang-orang yang mulia.
Rasul bersabda, artinya : “ Orang yang mahir membaca Al-Qur’an mereka akan dibangkitkan bersama orang-orang yang mulia, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat (belum mahir) maka dia akan mendapat dua  pahala “ ( H.R. Bukhori, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah ).

9. Al-Qur’an yang dibaca akan menjadi penolong pada hari kiamat.
Rasul bersabda, artinya : “ Bacalah Al-Qur’an karena dihari kiamat kelak dia akan menjadi penolong bagi orang yang membacanya “. ( H.R. Muslim ).

10. Al-Qur’an yang dibaca akan menjadi mahkota bagi kedua orang tua.
Raul bersabda, artinya : “ Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya berarti dia memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat, cahayanya lebih baik dari cahaya matahari yang masuk kedalam rumah-rumah di bumi ini, maka bagaimanakah lagi pahala bagi orang yang mengamalkannya? “. ( H.R. Abu Daud dan Hakim ).

11. Membaca Al-Qur’an dapat menjadi obat dan kunci kesuksesan.
Rasul bersabda, artinya : “ Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah hidangan Allah, maka ambillah dari hidangan tersebut seberapa kamu sanggup. Sesunggunya Al- Qur’an itu adalah talinya Allah, cahaya yang terang, obat yang berguna, pelindung bagi orang yang berpegang teguh dengannya dan kesuksesan bagi orang yang mengikuti ajarannya “. ( H. R Hakim ).

12. Al-Qur’an yang dibaca dapat memberikan syafa’at untuk sepuluh orang keluarga.
Rasul bersabda, artinya : “ Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan menyatakannya (membacanya dengan jelas dan baik ), lalu dia halalkan apa yang   dihalalkan dalam Al-Qur’an dan dia haramkan apa-apa yang diharamkan dalam Al-Qur’an maka Allah akan memasukkannya ke dalam syurga dan dia akan memberikan syafa’at kepada sepuluh orang dari keluarganya yang telah di ponis masuk ke dalam neraka “.  ( H.R. Ibnu Majah dan Tirmizi ).

LIMA RENUNGAN HIDUP SEBAGAI BEKAL MENUJU KEHIDUPAN AKHIRAT



LIMA RENUNGAN HIDUP
SEBAGAI BEKAL MENUJU KEHIDUPAN AKHIRAT

            Abu Laits As-Samarqandi dalam salah satu ungkapannya mengatakan, seharusnya setiap pribadi muslim selalu merenungkan lima hal dalam kehidupannya. Bila lima renungan ini selalu dilakukan oleh seseorang Insya Allah dia akan selalu mempunyai sikap berhati-hati dalam kehidupannya dan akan memiliki bekal untuk menuju kehidupan akhirat. Adapun lima renungan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Pertama: Seorang muslim hendaknya selalu merenungkan Apakah dosa-dosanya sudah diampuni  Allah atau belum”.
            Renungan ini sangat berarti bagi manusia, sebab setiap manusia pasti pernah berbuat salah, akibatnya dihadapan Allah dia dicatat sebagai orang yang berdosa. Tidak ada orang yang sanggup menjamin bahwa dirinya tidak pernah berbuat dosa, karena itu bila seseorang menyadari bahwa hidupnya selama ini banyak berbuat dosa dan disadarinya pula bahwa dosanya belum tentu mendapat ampunan Allah, maka melalui renungan yang dilakukannya diharapkan dia akan termotipasi untuk bertaubat kepada Allah, sebab dalam ajaran Islam pintu taubat senantiasa dibuka Allah sepanjang nyawa manusia belum sampai kepada ghor-ghoroh ( napas hanya tinggal ditenggorokan ).
Allah SWT. menyerukan agar orang-orang yang beriman bertaubat kepadaNya sebagaimana firmanNya dalam Al-Qur’an yang termuat pada surat At-Tahrim ayat 8 :
يـَا اَيـُّهـَا الَّـذِيْـنَ امَـنُـوْا تـُـوْبـُـوْا اِلىَ اللهِ تـَـوْبـَة ً نـَـصُـوْحًـا عَـسى رَ بُّـكـُمْ اَ نْ يـُـكـَـفـِّـرَ عَـنـْـكـُـمْ سَـيـِّـا تِـكـُـمْ وَيُـدْخِـلـَـكـُمْ جَـنـّـتٍ تـَـجْــِريْ مِـنْ تـَـحْـتـِهـَا اْلا َنـْـهــرُ يَـوْم َ لاَ يُـخـْــِزى اللهُ الـنـَّـبـِـيَّ وَا لـَّـذِيْـنَ امـَنـُوْا مَـعَـه نـُوْرُهـُمْ يَـسْـعى بَـيْـنَ اَيْــدِيْهِـمْ وَبـِاَيْـمَـانـِـهـِـمْ يَـقـُـوْ لـُوْنَ رَبَّـنـَا اَتـْـمِـمْ لـَنـَا نُـوْرَنـَا وَاغـْـفِـرْ لـَنـَا اِنـَّـكَ عَـلى كـُـــِلّ شـَيْـئٍ قـَـدِ يْــرٌ.
Artinya:  “ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Kedua : Seorang muslim hendaknya selalu merenungkan Apakah umur yang sudah dilaluinya lebih banyak nilai-nilai kebaikan atau  keburukan “.
            Kesempatan umur yang diberikan Allah seharusnya dapat digunakan untuk mengabdikan diri kepadaNya, bukan disia-siakan untuk berbuat yang tidak di ridhaiNya, sebab nikmat umur yang diberikan Allah kepada manusia pada hari kiamat kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah, tentang kemana dan untuk apa umur itu digunakan.
            Apabila renungan yang dilakukan seseorang sampai kepada kesimpulan bahwa umur yang dilaluinya selama ini banyak yang tersia-siakan, maka diharapkan akan timbul kesadaran dalam kehidupannya untuk memperbaiki kelalaian yang telah dilakukan selama ini, akhirnya dia berupaya untuk mengisi kehidupan yang akan datang dengan nilai-nilai kebaikan, karena orang yang beruntung adalah orang yang dapat mengisi hari-hari yang dilaluinya dengan nilai-nilai kebaikan. Apabila sikap hidup seperti ini sudah terpatri dalam kehidupan seseorang, maka orang yang seperti inilah yang akan bermanfaat untuk orang lain, karena hidupnya selalu diwarnai dengan kebaikan. Inilah manusia yang pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan, senyum simpulnya penuh dengan persahabatan, uluran tangannya adalah nilai sedekah, langkah kakinya semangat jihad, untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasihat, diamnya merupakan zikir dan fakir. Bila perilaku ini sudah dimiliki oleh seseorang maka jadilah dia manusia yang rindu orang lain tidak bertemu dengannya dan malas berpisah pada saat sudah jumpa kepadanya.
Ketiga :Seorang muslim hendaknya selalu merenungkan Apakah ibadah yang telah dilakukannya selama ini diterima atau ditolak oleh Allah “.
Ibadah yang dilakukan memang tidak dapat diketahui secara pasti apakah diterima Allah atau tidak, karena hal itu adalah hak priogratif Allah. Namun apabila mengacu kepada kajian Fiqh dapat diketahui bahwa apabila ibadah yang dilakukan oleh seseorang sudah memenuhi syarat dan rukunnya ditambah pula dengan keikhlasan dalam malaksanakannya maka ibadah itu sudah dianggap sah, apabila ibadah itu sudah sah maka kuatlah dugaan dan harapan bahwa ibadah itu akan diterima Allah SWT.
Perlunya seseorang merenungkan tentang apakah ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah atau tidak, tujuannya tidak lain adalah agar ibadah yang dilakukan tersebut benar-benar dilaksanakan dengan baik sesuai dengan aturan dan tata tertib ibadah itu sendiri.
Disisi lain kesucian hati dengan rasa ikhlas dalam melaksanakannya dan menghindarkan diri dari riya’ dan sombong juga merupakan faktor  ibadah itu akan diterima Allah. Orang yang seperti inilah yang nantinya akan selalu haus dengan ibadah, sebab dia selalu merasakan bahwa ibadahnya masih sangat sedikit.
Keempat: Seorang muslim hendaknya selalu merenungkan Pada hari kiamat nanti tempatnya di Syurga atau Neraka “.
            Kenapa seseorang harus merenungkan tempatnya nanti dihari kiamat ?, Sebab pada hari kiamat nanti alternatif  tempat hanya dua, yaitu Syurga dan Neraka.
Syurga adalah tempat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, di dalamnya penuh dengan beragam kenikmatan yang disediakan oleh Allah, sedangkan Neraka adalah tempat orang-orang yang ingkar terhadap Allah SWT, di dalamnya penuh dengan siksa dan kesengsaraan.
            Sejahat apapun seseorang namun bila dia ditanya mana yang dia pilih antara Syurga dan Neraka, dapat diyakini bahwa dia akan menjatuhkan pilihan untuk memilih Syurga, oleh karena itu orang yang selalu merenungkan apakah tempatnya nanti di Syurga atau Neraka, itu berarti sebenarnya ia mendambakan dia bisa masuk kedalam Syurga, karena itu renungan seperti ini akan mendorong seseorang untuk lebih giat melakukan amal ibadah, yang dengan berkah ibadah tersebut dan atas karunia Allah dia berharap Allah memasukkannya ke dalam Syurga.
Kelima : Seorang muslim hendaknya selalu merenungkan Apakah kematiannya nanti  diridhai Allah atau dimurkai Allah .
            Orang yang merenungkan hal seperti ini tentu dia mendambakan kematiannya nanti mendapat ridha Allah SWT. Ridha Allah adalah merupakan dambaan setiap orang yang beriman dan hal itu tidak akan didapatkan seseorang bila dia tidak melakukan amal shaleh, karenanya orang yang seperti ini selalu berusaha untuk mendapatkan kasih sayang Allah dengan selalu berupaya dalam setiap kesempatan untuk melakukan nilai-nilai kebaikan yang dapat mendatangkan keridhaan Allah. Bila Allah sudah meridhai seseorang kendatipun saat menghadapi kematian nanti terasa sakit, Insya Allah dia masih dapat tersenyum sebab tidak tertutup kemungkinan pada saat menghadapi sakaratul maut Allah menunjukkan kepadanya Syurga sebagai tempat tinggal baginya dihari kiamat nanti, dan tidak tertutup kemungkinan orang yang seperti ini akan dipanggil oleh Allah dengan panggilan kasih sayang melalui firmanNya di dalam Al-Qur’an pada surat Al-Fajr ayat: 27 – 30.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾                                       
Artinya :    Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku “.
Berbahagialah seseorang yang hidup dan matinya mendapat ridha dari Allah SWT. Untuk itu mari kita jadikan lima renungan yang di kemukakan oleh Abu Laits As-Samarqandi yang telah dikemukakan di atas menjadi renungan kita semua, dengan harapan lima renungan tersebut mampu memberikan motipasi bagi kita untuk meningkatkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan ini, sehingga kita memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.  Amin Ya Robbal ‘Alamin.

***




Selamat Tahun Baru Islam 1432 H

Semoga di tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu.