Senin, 23 Mei 2011

Jahiliyah Menurut Al-Qur’an

Jahiliyah Menurut Al-Qur’an
Diungkapkan dalam catatan sejarah bahwa masyarakat yang dihadapi Nabi Muhammad dalam dakwahnya adalah masyarakat jahiliyah. Namun disayangkan, banyak yang memahami jahiliayah tersebut hanya sebatas pengertian secarah harfiyah semata, sehingga yang selalu tergambar dari kehidupan masyarakat yang ada di masa Nabi Muhammad adalah masyarakat yang tertinggal, terbelakang, bodoh, kampungan dan sebutan lain yang menggambarkan sesuatu yang serba tidak baik. Padahal apabila kita telusuri kehidupan mereka pada masa itu tidaklah seperti apa yang digambarkan.
Sebenarnya dari beberapa sisi kehidupan bangsa arab khususnya Makkah dan Madinah saat itu, mereka sudah memiliki peradaban dan pengetahuan yang tidak kalah dengan masyarakat yang ada di sekitarnya. Misalnya, dalam dunia bisnis mereka mampu bersaing dengan pebisnis dari daerah lain, bahkan mereka mampu membaca pangsa pasar, sehingga mereka tahu persis komoditi apa yang harus mereka bawa ke daerah tujuan mereka berdagang. Mereka juga mampu menyesuaikan kondisi pada saat musim dingin dan musim panas kemana mereka harus membawa dagangannya.
Di sisi lain, sebelum masyarakat dunia mengenal sisitem penyerbukan dalam pertanian, masyarakat Madinah pada saat itu sudah mengenal sistem penyerbukan tersebut. Maka tidak mengherankan kalau hasil panen kurma mereka selalu meningkat dibandingkan petani kurma dari daerah lain. Kalau demikian, sebutan jahiliyah terhadap masyarakat yang dihadapi Rasulullah pada saat itu tidak bisa hanya diartikan dari sudut harfiyah semata, namun harus dipandang dari sudut yang lain. Dalam hal ini tentunya kita harus kembali kepada konsep Al-Qur’an tentang apa yang dimaksud tentang jahiliyah itu.
Apabila ditelusuri ayat-ayat Al-Qur’an tentang jahiliyah, ada empat pengertian jahiliyah yang menjadi sorotan Allah SWT. dan keempat hal itu adalah merupakan sikap mental yang selalu menjadi prilaku hidup masyarakat yang dihadapi Rasulullah pada saat itu. Empat hal tersebut adalah:
  1. Zhonnul Jahiliyyah: Maksudnya adalah, bahwa orang-orang jahiliyah mempunyai sangkaan atau keyakinan yang salah terhadap Allah, sebab itu kejahiliyahan mereka dalam hal ini adalah menyangkut masalah keimanan kepada Allah dan RasulNya. Oleh sebab itu,  syari’at islam yang dibawa Nabi Muhammad  bertujuan untuk meluruskan keyakinan mereka kepada Allah agar tidak menyekutukan Allah dan beribadah hanya kepada Allah semata. Allah berfirman dalam surat Ali-Imron, 154: ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاساً يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ “. Artinya: “Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati“. ( Ayat ini diturunkan Allah berkenaan dengan peristiwa perang uhud dimana ummat islam pada saat itu mengalami kekalahan. Dalam menyikapi kekalahan tersebut terjadi dua kelompok dikalangan ummat islam. Satu kelompok adalah mereka-mereka yang kuat imannya, satu kelompok lagi adalah mereka-mereka yang lemah imannya. Mereka yang masih lemah imannya mempunyai pikiran, kalau Muhammad itu benar adalah Rasul Allah, mengapa dia bisa kalah dalam peperangan ini). Pemikiran yang seperti itu adalah pemikiran yang salah, dan Allah menyindir mereka, bahwa mereka masih mempunyai pemikiran yang sama seperti orang-orang jahiliyah, dan pemikiran orang-orang jahiliyah selalu salah dalam memandang Allah sebagai tuhan.
  2. Hukmul Jahiliyyah: Orang-orang jahiliyah selalu tidak tepat dan tidak adil dalam menerapkan hukum. Hal ini menjadi sorotan Allah terhadap pola hidup mereka dalam bermasyarakat. Sebab, apabila hukum tidak dapat dilaksanakan dengan benar, maka kehidupan ummat itu pasti akan porak poranda. Firman Allah  dalam surat Al-Maidah, 50:“ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْماً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ “. Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?“.
  3. Hamiyyatul Jahiliyyah. Orang-orang jahiliyah mempunyai sikap sombong dalam kehidupan mereka, dan salah satu penyebab sikap mereka seperti itu adalah akibat kekotoran hati dan jiwa mereka. Karena itu islam datang untuk membersihkan hati manusia dari segala kotoran-kotoran yang dapat mempengaruhi pola hidup manusia itu, terutama kesombongan yang mengakibatkan manusia tidak mau percaya kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Al-Fath, 26: “إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً “. Artinya: “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “.
  4. Tabarrujal Jahiliyyah. Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari orang-orang jahiliyah terutama kaum wanitanya selalu menunjukkan sikap hidup yang tidak baik, mereka tidak menjaga kehormatan dan kemuliaan diri mereka sebagai wanita, dengan itu Allah mengingatkan kepada wanita-wanita muslimah agar jangan berprilaku seperti wanita-wanita di zaman jahiliyah. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab, 33:وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الاولَى وَأَقِمْنَ الصَّلوةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً “. Artinya: “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya“.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pengertian jahiliayah tidak bisa dipahami secara harfiah semata, namun harus dilihat dari sudut pandang Al-Qur’an, dimana dapat disimpulkan bahwa jahiliyah itu sesungguhnya adalah merupakan sikap mental yang mewarnai kehidupan seseorang. Oleh sebab itu kita di ingatkan oleh Allah agar tidak lagi memiliki gaya kehidupan seperti orang-orang jahiliyah. Namun yang perlu disadari adalah bahwa pola kehidupan jahiliyah itu pasti masih akan tetap merayap ditengah-tengah kehidupan ummat sepanjang sikap mental ummat masih belum bersih dari kemusyrikan, kemunafikan, kekufuran dan segala sifat-sifat yang tidak terpuji.

Semoga kita terhindar dari prilaku jahiliyah tersebut...............................!
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ