Selasa, 03 April 2012

Cerita Inspiratif

PERJALANAN SPRITUAL TUKANG BAKSO
Allah berfirman dalam Hadits Qudsi,
Artinya : Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Hadits diatas tentunya bagi kita ummat Islam sudah sering terdengar dan memang terbukti benar adanya, kisah berikut insya Allah bisa lebih meyakinkan kita.

Suatu sore Pak Afif dan keluarganya sedang duduk santai di depan rumahnya, sedang mereka asik berbincang, terdengar suara Pedagang bakso menjajakan dagangannya. Pak Afif-pun memanggil Pedagang bakso dan memesan empat mangkok buat dirinya dan istri serta dua orang anaknya.

Selesai makan bakso, lalu Pak Afif membayarnya. Namun pada saat ia membayar bakso tadi ada sesuatu yang mengherankan Pak Afif atas tindakan Pedagang bakso. Pedagang bakso memisahkan uang yang diterimanya.
Sebagian disimpan di laci, sebagian lagi dimasukkan ke dompet, dan yang sebagiannya lagi di masukkan ke kotak kecil. Lalu, dengan keheranannya Pak Afif bertanya, kenapa uang-uang itu dipisahkan?. Apa maksudnya?.

“Iya pak, jawab Pedagang bakso. Selama menjadi pedagang bakso saya memisahkan setiap uang yang saya dapatkan menjadi tiga bagian, dan ini sudah saya lakukan selama 15 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.

Maksudnya gimana?, Tanya Pak Afif.

Pedagang bakso menjawab. “Iya Pak, agama islam-kan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi uang yang saya dapatkan mejadi tiga tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

Pertama: Uang yang saya masukkan ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari buat keluarga saya.

Kedua: Uang yang saya masukkan ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 15 tahun menjadi Pedagang bakso saya tetap dapat  ikut melaksanakan ibadah qurban dengan membeli seekor kambing.

Ketiga: Uang yang saya masukkan ke kotak kecil ini maksudnya, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya yakini yaitu agama Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka saya dan istri sepakat bahwa setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan Alhamdulillah selama 15 tahun menabung, Insya Allah kami akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun depan.
Setelah medengar penjelasan Pedagang bakso tadi, Pak Afif berkomentar. “ Iya…. tapi-kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

Pedagang bakso menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Allah kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rezeki oleh Allah. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..? yang penting berusaha dulu, buktinya kami bisa…….. dan insya Allah saya dan istri tahun depan berangkat haji.

Kemudia pedagang bakso melanjutkan kata-katanya: Menurut saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang yang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia yang tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenanganNya, Allah akan memberi kemampuan pada kita kok."
Hati Pak Afif sangat tersentuh mendengar jawaban Pedagang bakso itu. Sambil tertegun Pak Afif bergumam dalam hati. Dia……… Hanya Pedagang bakso saja sudah mampu berangkat haji tahun depan, kenapa aku yang hidup berkecukupan bahkan berlebih tidak pernah berpikir tentang pergi haji?. Akhirnya pak Afif membulatkan tekad untuk berangkat menunaikan ibadah haji bersama istrinya.
Saudaraku…………..!
Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia dari seorang Pedagang bakso. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si Pedagang bakso tersebut, belum tentu memiliki Pikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali ada orang yang berlindung di balik pernyataan tidak mampu atau belum ada rezeki.
Cerita perjalanan spiritual ini tentu sangat sederhana, namun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kita dalam menjalankan kehidupan, dan semoga cerita ini memberi hikmah yang baik bagi kehidupan kita.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Sabtu, 31 Maret 2012

Merasakan Cinta Kepada Allah

MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH
Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram tumbuh-tumbuhan di kebun. Ketika pemuda itu melihat Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, mintakanlah kepada Allah agar Dia memberi kepadaku seberat biji sawi saja agar aku cinta kepada-Nya."
Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan mampu untuk mananggung cinta walau seberat itu."
Pemuda tadi berkata lagi, "Wahai Nabi Isa a.s, kalau aku tidak mampu seberat biji sawi, maka kamu mintalah untukku setengahnya saja."
Oleh kerana pemuda itu sangat berkeinginan untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat biji sawi cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Setelah beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya untuk di doakan, tetapi Nabi Isa a.s tidak bertemu dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang ada di sekitar tempat tersebut tentang keberadaan pemuda tersebut. Salah seorang diantara mereka mengatakan bahwa pemuda tersebut telah menjadi gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang keberadaan pemuda itu." Selesai berdoa Nabi Isa a.s pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara dua gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa". Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu kepada Nabi Isa a.s. "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar pembicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat biji Sawi cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak merasakannya”.
Subhanallah………….! Begitulah, apabila seseorang sudah merasakan cinta kepada Allah dia tidak merasakan kelezatan yang lain dari kehidupannya. Bisa saja manusia memandangnya sudah menjadi gila dan menghinakannya tapi ternyata dia mulia di sisi Allah. Karena itu, barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku ikhlas dalam beramal, tetapi dia ingin mendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Allah yang menciptakannya, tetapi tidak mau merendahkan diri   kepadaNya.

Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya dimana umatku akan mencintai lima hal tetapi lupa kepada lima hal :

1. Mereka cinta kepada dunia, tetapi lupa akan akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda, tetapi lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk, tetapi lupa kepada sang Khaliq ( Allah S.W.T ).
4. Mereka cinta kepada dosa, tetapi lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah, tetapi mereka lupa kepada kubur.

Minggu, 25 Maret 2012

Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW


Tiga Moral Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW
Krisis kepemimpinan saat ini sudah semakin terasa, sebab banyak pemimpin hari ini yang tidak lagi mampu merasakan suara hati rakyat yang dipimpinnya. Hal ini dikarenakan banyak pemimpin yang lebih banyak menuntut bukan memberi, lebih banyak menikmati bukan melayani, lebih banyak mengumbar janji bukan member bukti.

Dalam kajian politik islam seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya hendaklah ber-oreantasi untuk kemaslahatan atau kebaikan ummat, bukan untuk kemaslahatan diri dan kelompoknya semata. Sikap kepemimpinan seperti ini mengacu kepada moral kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang digambarkan Allah melalui firmanNya dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min “.

Dari makna ayat di atas dapat dipahami bahwa ada tiga landasan moral kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Pertama, “عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ “ Bahwa Nabi sebagai pemimpin senantiasa merasakan derita yang dirasakan oleh orang lain. Itu berarti Nabi sebagai pemimpin memiliki kepekaan terhadap kesulitan yang dirasakan oleh rakyatnya, karena itu dalam diri Nabi Muhammad timbul rasa empati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung.

Empati berarti kemampuan memahami dan merasakan kesulitan orang lain. Empati dengan sendirinya akan mendorong sikap simpati, buah dari sikap ini akan menimbulkan rasa ingin mencarikan solusi terhadap persoalan yang sedang dihadapi orang lain, ujungnya akan bermuara kepada bantuan, baik secara moral maupun material.

Kedua, “ حَرِيصٌ عَلَيْكُم “ Nabi Muhammad sangat  berkeinginan agar orang lain merasakan aman dan sentosa. Atau dengan ungkapan lain bahwa Nabi Muhammad memiliki semangat yang mengebu-gebu agar masyarakat dan bangsa meraih kemajuan. Buah dari sikap seperti ini adalah, bahwa Nabi Muhammad lebih megutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi dan keluarganya. Memang sebenarnya salah satu tugas pemimpin adalah menumbuhkan harapan dan menjalankan roda kepemimpinan menuju cita-cita dan harapan itu.

Ketiga, “رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ “ Rasul dalam kepemimpinannya menunjukkan sifat pengasih dan penyayang. Sikap seperti ini tidak hanya dirasakan oleh ummat yang beragama islam, tapi mereka-mereka yang di luar islam juga merasakan hal yang sama. Dengan demikian tidak heran kalau masyarakat yang dipimpinnya saat itu menunjukkan sikap yang patuh terhadap kepemimpinannya. Sebab Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang kharismatik yang memiliki kearifan dan kebijaksanaan dalam memimpin ummat.
Tiga landasan moral ini adalah merupakan hal yang wajib untuk dimiliki oleh setiap pemimpin. Karena, tanpa ketiga moral ini, seorang pemimpin tidak akan bekerja untuk rakyat, tetapi untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya semata.

Semoga Pemimpin kita di Negeri ini menyadari hal ini untuk menuju kearah yang lebih positif dalam menjalankan kepemimpinannya.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ




Sabtu, 24 Maret 2012

Dialog Seorang Murid Dengan Guru


Masih Adakah Yang Kita Banggakan?
Seorang Ulama’ yang zuhud ditanya seorang murid yang hatinya gelisah melihat perilaku kebanyakan ummat yang tidak lagi mementingkan nilai-nilai kemuliaan.
Sang murid: Tuan guru: Dengan kondisi kehidupan ummat yang sikap mentalnya sudah demikian parah, apakah masih ada yang dapat kita banggakan?
Ulama’: Ada, yaitu akal yang jernih.
Sang murid: Wah, sekarang sudah banyak orang yang akalnya tidak jernih lagi untuk berpikir. Kalau akal yang jernih sudah tidak ada lagi, apa masih ada yang lain guru?
Ulama: Ada, yaitu sopan santun yang terjaga.
Sang murid: Wah, sekarang orang juga sudah tidak lagi menjaga sopan santun tuan guru! Masih adakah selain yang dua itu tuan guru?
Ulama: Ada, yaitu Sahabat sejati.
Sang Murid: Waduh... sahabat sejati hari ini juga  susah didapat, karena orang tidak lagi membela yang benar tetapi membela yang bayar. Masih adakah selain yang tiga itu wahai tuan guru?
Ulama’: Ada, yaitu hati yang peka.
Sang Murid: Lagi-lagi yang itu juga jarang didapat guru, sekarang kebanyakan orang hatinya gelap, tidak peka, nuraninya mati, masih adakah yang dapat kita banggakan selain yang empat itu tuan guru?.
Ulama: Ada, yaitu banyak diam.
Sang Murid: Yah, yah, yah, diam itu emas gumam sang murid di dalam hati, sejenak kemudian diapun berkata lagi. Tapi tuan guru, sekarang ini, semuanya mau berbicara meski asal bicara, dan tidak ada orang yang mau diam untuk merenung. Kalau lima hal itu juga tidak punya, masih adakah yang dapat kita banggakan wahai tuan guru?
Ulama: Ada, dan ini adalah yang terakhir, yaitu “Hadirnya Kematian”. “Subhanallaaah”  keluar ucapan dari mulut sang murid, setelah itu dia terdiam, yang terdengar hanyalah desah napasnya sambil mengangguk-anggukkan kepala sebagai pertanda ia memahami apa yang dikemukan oleh Ulama tadi.
Semoga dialog di atas mampu menjadi I’tibar untuk kita jadikan renungan dalam usaha memperbaiki diri menuju nilai-nilai kebaikan.